PEMILU: Kemusykilan Demokrasi

Seluruh energi bangsa ini hampir habis terkuras untuk sebuah pesta demokrasi yang berupa pemilihan umum. Para elit, juga kaum alit, mencurahkan konsentrasinya pada pemilihan umum. Triliunan rupiah digelontorkan oleh negara, juga partai politik dan masyarakat kecil, demi pemilu. Semua itu dilakukan karena pemilihan umum diyakini sebagai pilar demokrasi yang akan menyelamatkan nasib bangsa dan negara.

Benarkah? Secara struktural mungkin ya. Karena pemilihan umum, sebagai salah satu ajaran demokrasi, sudah terlanjur dipilih untuk mengisi struktur-struktur negara seperti lembaga perwakilan, dan terakhir juga untuk lembaga eksekutif. Tanpa pemilihan umum tidak ada rotasi, juga tidak ada lejitimasi. Tanpa pemilihan umum, akan terjadi stagnasi dan pada gilirannya melahirkan otoritarianisme. Begitulah menurut teori demokrasi.

Tapi, sekali lagi, benarkah? Benar, jika pemilihan umum hanya dipandang dari sisi formalitas-rutinitas. Tapi, menurut saya, pemilihan umum bukanlah segala-galanya. Malah dia bisa jadi bencana bagi segala-galanya. Tentu, jika kita berkenan melihat pemilihan umum secara lebih kritis, dengan memakai kaca mata substansial-esensial. Maka akan terlihat beberapa kejanggalan dari sebuah pemilihan umum di tengah masyarakat yang sangat beragam tingkat kedewasaan dan pemahamannya tentang sebuah nilai.

Yang Menang, Yang Populer

“Jika ide tentang rakyat adalah ide tentang pasar, dan pemilihan umum jadi toko kelontong besar, demokrasi akan memilih seorang Arnold Schwarzenegger,” tulis Goenawan Mohamad dalam kolom Catatan Pinggir (Tempo, 24 Agustus 2003), sebulan menjelang pemilihan gubernur California, salah satu Negara Bagian Amerika Serikat.

Schwarzenegger akhirnya terpilih. Tapi apakah dia terpilih karena mutu kepemimpinannya? Atau dia terpilih karena program yang dia tawarkan? Memang, dalam kampanyenya, Schwarzenegger sempat menjajakan program, diantaranya “program lepas sekolah”. Tapi benarkah dia terpilih karena itu? Saya rasa bukan. Melainkan karena dia adalah sosok yang sangat populer—seorang selebritis Hollywood yang kaya raya, yang film-filmnya, diantaranya Terminator dan Total Recall, begitu tersohor.

Schwarzenegger adalah contoh mutahir, bahwa pemilihan umum akan melahirkan sosok pemimpin yang populer. Ibarat toko kelontong, bermacam ragam hal ditawarkan. Tak ada yang telah diseleksi lebih dulu, menurut jenis, tingkat mutu, dan segmen pembeli. Tapi orang memilih barang lebih karena pilihan laris dan praktis, yang semua itu sangat dipengaruhi oleh apa yang dalam pemasaran dan periklanan disebut brand-name, atau merek, atau logo, yang mudah dikenal. Praktis: tidak perlu menelisik dan mencari-cari lagi.

Karena itu jangan heran jika menjelang pemilihan umum 2004 di Indonesia, para kontestan bekerja keras membangun popularitas. Triliunan rupiah (Ekonom UI Mohamad Chatib Bisri memperkirakan, Rp 10-15 triliun dihabiskan untuk kampanye) dihamburkan untuk mendominasi bawah sadar masyarakat agar selalu ingat pada nomer sekian …, warna ini …, tanda gambar tertentu …, dan seorang tokoh X…!

Dari situlah kemudian masyarakat tergiring untuk memilih seorang pemimpin berdasarkan tingkat popularitasnya, bukan berdasarkan mutu dan karakter kepemimpinannya. Maka, model pemilihan pemimpin seperti ini bukan saja melahirkan Schwarzenegger atau Josep Estrada—presiden terguling Filipina, seorang bekas bintang film yang populer, melainkan juga mengokohkan George W. Bush sebagai presiden Amerika Serikat, hanya karena dia punya brand-name (“Bush”) yang sudah dikenal banyak orang.

Pertanyaannya adalah, model “pencarian” pemimpin seperti inikah yang kita kehendaki itu? Jika jawabnya ya, maka jangan menyesal jika nanti akhirnya yang terpilih sebagai pemimpin adalah seorang yang “bermoncong putih”!

Satu Suara Kyai = Satu Suara Pelacur

Al kisah, sebuah partai politik Islam, belajar dari kekalahnnya pada pemilu sebelumnya. Pada saat itu partai ini hanya mengandalkan kader-kader eksklusifnya, baik sebagai calon anggota legislatif maupun sebagai pemilihnya. Tak heran jika tidak banyak suara yang berhasil diraupnya, sehingga partai ini tidak memenuhi kuota minimal jumlah kursi di parlemen (electoral threshold).

Belajar dari kekalahan itu, kini partai politik tersebut sudah mulai terbuka. Sudah banyak calon anggota legislatif yang direkrut dari luar organisasi kadernya (bahkan untuk daerah tertentu sudah ada yang berasal dari luar Islam). Salah satu pernyataan yang mengokohkan keterbukaan itu pernah disampaikan oleh salah seorang pimpinan lokalnya, bahwa seorang PSK (pelacur) pun bisa menjadi calon anggota legislatif asal memenuhi syarat-syarat tertentu.

Mungkin partai politik Islam tersebut tidak benar-benar berminat merekrut pelacur sebagai calon anggota legislatifnya, tetapi maksud yang hendak dituju adalah bahwa partai politik tersebut sangat welcome. Rupanya partai politik tersebut mulai sadar bahwa kunci sukses dalam pemilihan umum adalah teraihnya kursi. Dan kursi bisa didapat jika berhasil diraup suara sebanyak-banyaknya. Sementara suara sebanyak-banyaknya tidak bisa dihandalkan dari para kader eksklusifnya, melainkan harus diambil dari berbagai lapisan masyarakat: dari kalangan agamawan sampai kalangan pelacur (kan tidak ada larangan bagi para pelacur untuk memilih partai politik Islam dalam pemilihan umum!).

Memang, dalam ajaran demokrasi ditegakkan aturan satu orang adalah satu suara (one man one vote). Suara seorang kyai sama nilainya dengan suara seorang pelacur. Suara seorang doktor sebanding dengan suara seorang buta huruf. Tak heran jika kini partai tidak hanya berkonsentrasi pada basis massanya, melainkan sudah melebarkan sayap pada kelompok-kelompok lain. Ironisnya, pelebaran sayap itu seringkali mengesampingkan prinsip-prinsip yang (pernah) dianutnya.

Sebuah partai politik yang berbasis massa Islam modernis sampai-sampai harus melakukan praktik “larung kepala kerbau”—sesuatu yang berbau TBC (tahayul, bid’ah, khurafat)—demi menggaet suara pada kalangan nelayan tradisional. Sebuah partai politik Islam yang dulu mengharamkan perempuan sebagai pemimpin, kini, harus meralatnya demi meraup suara kaum wanita yang lebih banyak.

Demikian juga partai politik sekuler. Pada musim-musim menjelang pemilu, mereka sangat giat menggarap suara kalangan santri. Tengoklah berbagai kunjungan mereka ke berbagai pondok pesantren! Lihat pula mimbar-mimbar kampanye mereka yang tak pernah sepi dari “ulama” dan istiqhosah! Mereka mau menutup fakta bahwa produk hukum yang mereka perjuangkan di parlemen seringkali bertentangan dengan aspirasi kaum santri (masih ingat hiruk pikuk penetapan UU Sistem Pendidikan Nasional?).

Tokoh-tokoh yang dulu dikenal sebagai tokoh Islam, kini harus melakukan metamorfosis diri menjadi tokoh pluralis. Hari ini mengucapkan “Selamat Idul Fitri”, esoknya “Selamat Natal”, lusa berucap “Gong xi fat cai”. Juga, tokoh-tokoh nasionalis sekuler kini berlomba-lomba mengubah dirinya menjadi nasionalis relijius. Berkalung sorban layaknya para kyai.

Ya. Semua itu dilakukan untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Tanpa memandang dari mana suara itu didapatkan. Lalu kita bertanya, bagaimana sebuah partai politik bisa memperjuangkan sesuatu yang luhur jika mereka justru melakukan pelacuran diri demi meraup suara sebanyak mungkin? Bagaimana pula pertanggungjawaban mereka atas konstituen lintas basis yang telah memberikan suara kepadanya?

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan

Imajinasikan ini. Kuota 30% perempuan di parlemen terpenuhi. Asumsikan mereka semua adalah pejuang kesetaraan jender. Perjuangan mereka juga didukung oleh 21% laki-laki anggota parlemen. Lalu mereka, lewat berbagai “pintu”, berinisiatif mengimplementasikan isu jender menjadi produk hukum. Salah satu produk hukum yang ingin direvisi adalah soal pembagian harta waris. Saatnya kini 1:1, bukan lagi 2 untuk pria dan 1 untuk perempuan. Perjuangan mereka berhasil. Maka berlakulah hukum waris yang baru: 1 untuk perempuan, 1 untuk laki-laki.

Menurut teori demokrasi, produk hukum yang dihasilkan oleh parlemen tersebut adalah sah. Itulah kebenaran baru, cermin dari aspirasi rakyat yang disuarakan oleh wakilnya di parlemen. Sebab suara rakyat adalah suara tuhan (fox populi fox dei). Artinya apa yang diinginkan oleh mayoritas rakyat itulah yang berlaku sebegai nilai kebenaran. Meskipun itu bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran sejati? Tidak jadi soal. Karena ini demokrasi Bung!

Memang itu baru khayalan belaka. Namun, sejarah mencatat bahwa parlemen kita hampir saja berhasil memperjuangkan “suara mayoritas” menjadi kebenaran baru (misalnya RUU Perkawinan tahun 1973 yang banyak memuat pasal yang bertentangan dengan syariat Islam). Untung itu bisa digagalkan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat akan lahir produk hukum yang bertentangan syariat Islam, jika suara di parlemen didominasi oleh mereka yang sekuler. Hal itu lumrah saja, sebab itulah konsekuensi dari ajaran demokrasi melalui pemilihan umum. Toh, di negara lain sudah ada contohnya, misalnya produk hukum yang melegalkan perkawinan sesama jenis. Menurut ajaran demokrasi, hal itu sah-sah saja karena banyak yang menginginkannya.

Persoalannya adalah, di tengah-tengah lautan masyarakat yang serba permisif ini, partai-partai yang mengusung ajaran moral, misalnya dengan jargon syariat Islam, akan sulit memperoleh suara dukungan, meskipun di negara yang mayoritas Islam (coba pikir, untuk menarik massa kampanye saja partai politik pengusung syariat Islam harus ikut arus dengan berdangdut megal-megol ria). Sebaliknya dengan partai-partai sekuler. Jadi, bagi yang percaya dengan pemilihan umum sebagai alat perjuangan, bersiap-siaplah menjadi bagian dari “ketok palu” keinginan suara rakyat = suara tuhan!

Sidojangkung, 2005

Sebelum Wahyu Turun

Apa yang menarik sebelum wahyu turun kepada Nabi Muhammad saw? Kejadian apa yang perlu mendapat catatan penting seputar turunnya wahyu yang pertama? Pertanyaan tersebut penting untuk dikemukakan, mengingat wahyu pertama adalah saat “peresmian” kerasulan Muhammad saw.

Mimpi Kebenaran
Enam bulan sebelum wahyu pertama turun, Nabi Muhammad saw. selalu mendapat mimpi-mimpi. Aisyah r.a. memberi keterangan, “Yang pertama sekali mendahului kedatangan wahyu kepada Rasulullah saw. adalah mimpi-mimpi yang benar. Setiap mimpi beliau selalu terbukti (kebenarannya) secara nyata, seterang cahaya di pagi hari. Setelah itu beliau terdorong untuk menyendiri (bersemedi), bertempat di Gua Hira untuk beribadah beberapa malam dan kembali lagi kepada keluarganya untuk mengambil bekal bersemedi berikutnya. Hingga suatu ketika datang kepada beliau Al Haqq, kebenaran Mutlak, yaitu dengan datangnya malaikat yang menyampaikan “Igra’ dan seterusnya.” (HR Imam Bukhari)

Mengapa Nabi Muhammad saw. sering mendapatkan mimpi sebelum menerima wahyu pertama? Menurut para psikolog Muslim, mimpi-mimpi itu dimaksudkan untuk meyakinkan Nabi Muhammad saw. akan adanya informasi yang benar dan yang dapat diperoleh manusia melalui cara yang tidak biasa atau dengan kata lain adanya yang dinamai Divine Revelation. Karena, mimpi merupakan salah satu cara Tuhan untuk memberikan informasi kepada manusia, sebagaimana mimpi-mimpi Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yusuf a.s. (baca surah Yusuf dan As-Shafat 102-103).

Beberapa waktu menjelang turunnya wahyu yang pertama, Nabi Muhammad saw. sering kali mendengar suara yang berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah pesuruh Allah (Rasulullah) yang benar.” Dan ketika beliau mengarahkan pandangan mencari sumber suara itu, beliau mendapati seluruh penjuru telah dipenuhi oleh cahaya yang gemerlap dan hal ini mencemaskan beliau sehingga dengan tergesa-gesa beliau menemui istri tercinta, Khadijah. Khadijah menyarankan beliau menemui Waraqah bin naufal, seorang tua yang mempunyai pengetahuan tentang agama-agama terdahulu. Dalam pertemuan tersebut terjadilah dialog. “Dari mana engkau mendengar suara tersebut?” Tanya Waraqah. “Dari atas,” jawab Nabi. Waraqah berkata lagi, “Yakinlah bahwa suara itu bukan suara setan, karena setan tidak akan mampu datang dari arah atas, tidak pula dari arah bawah. Suara itu adalah suara dari malaikat.” [M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al- Karim – Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu, Pustaka Hidaya. Jakarta: 1997]

Dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 17 menyebutkan sumpah iblis untuk mengoda manusia dari empat penjuru: muka, belakang, kanan, dan kiri, tanpa menyebutkan arah atas atau bawah. Arah atas diartikan oleh sebagian ulama sebagai arah ketinggian dan keagungan Tuhan serta rahmat-Nya. Arah bawah sebagai lambang kerendahan dan ketaatan manusia dalam memperhambakan diri kepada-Nya. Seseorang tidal akan terkecoh dan dipengaruhi oleh rayuan setan selama ia menengadah ke atas mengakui kemahaagungan Allah SWT atau sujud di tanah mengakui kelemahan dan kebutuhan kepada Zat Yang Mahatinggi itu.

Menyendiri di Hira
Sejarah mencatat bahwa sebelum menerima wahyu pertama Nabi Muhammad saw. punya kebiasaan untuk melakukan tahannuf atau tahannuth (berasal dari kata hanif yang berarti ‘cenderung kepada kebenaran’), yaitu kebiasaan mengasingkan diri dari keramaain orang. Dalam ber-tahannuth itu Nabi Muhammad saw. berkhalwat dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bertapa dan berdoa. Dengan tahannuth beliau melakukan perenungan tentang alam dan kekuatan besar yang ada di baliknya. Beliau juga memberi makan orang-orang miskin yang datang kepadanya. Initnya beliau dalam proses pencarian kebenaran.
Apa yang menarik dari perilaku menyendiri beliau di Gua Hira’ itu? Pertama, kata kuncinya adalah “jiwa suci”. Wahyu, Nur Ilahi, atau ilham baru bisa didapat oleh orang yang jiwanya telah suci. Kedua, “jiwa suci” baru didapatkan seseorang jika ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketiga, mendekatkan diri kepada Tuhan baru bisa dilakukan jika seseorang “menjauhi” hiruk-pikuk kebendaan.

Kematangan Usia
Sejarah mencatat, bahwa saat menerima wahyu usia beliau mencapai empat puluh tahun. Apa maknanya? Usia empat puluh tahun adalah puncak kematangan seseorang. Oleh karena itu, konon, para rasul diutus pada usia tersebut.

Kematangan usia ini didukung pula oleh kematangan pribadi yang telah diuji oleh terbentuknya keluarga yang telah dijalani beliau sejak usia dua puluh lima tahun, dengan mempersunting Khadijah dan kemudian dikaruniai anak-anak. Apa maknanya? Pertama, seorang bisa dikatakan matang (untuk memimpin), jika ia sudah teruji dalam kepemimpinan di keluarga. Bagaimana ia akan memimpin umat; memimpin dunia, jika ia belum teruji dalam kepemimpinan keluarga. Kedua, keluarga adalah miniatur masyarakat. Seorang pemimpin akan menjadi contoh mansyarakat tentang kehidupan yang baik. Bagaimana ia akan berbicara tentang istri shalehah, jika ia tidak beristri (sebagaimana konsep tidak kawinnya pendeta, pastur, kardinal, paus dalam tradisi Katholik). Sulit pula diterima akal jika seorang berbicara tentang pendidikan anak tanpa ia sendiri pernah melakukannya secara real.

Dalam perjalanan penerimaan wahyu, kita juga akan menemukan betapa peran penting Khadijah ketika Nabi Muhammad saw. sedang “terkejut” saat menerima wahyu. Khadijah yang menghibur dan memberikan alternatif penyelesaian masalah dengan memberi saran untuk bertanya pada Waraqah bin Naufal. Ini sekaligus memberi makan ketiga, bahwa dalam memperjuangkan risalah peran pendamping (suami/istri) memegang peranan penting.

Sidojangkung, 29 April 2005
Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, BEST FOSI Surabaya

Pribadi Muhammad SAW

Jika boleh bertanya—terlepas dari, bahwa hal ini sudah bagian dari suratan takdir—ada satu pertanyaan yang perlu diajukan untuk menjadi bahan kajian sejarah. Pertanyaan tersebut adalah, “Nilai lebih apakah yang dimiliki oleh beliau sehingga beliau dipilih oleh Allah menjadi utusannya?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat latar belakang kehidupan beliau, sebelum beliau “resmi” menjadi utusan Allah. Pertama, dari sisi nasab—seperti yang sudah kita bahas sebelum ini—beliau berasal dari keluarga yang terhormat; dan jika diruntut lebih jauh, beliau adalah bagian dari keturunan Nabi Ibrahim as. Kedua, dari sisi kepribadian, kita akan melihat banyak sekali karakter kuat yang dimiliki beliau, diantaranya:

Al Amin. Inilah julukan yang diberikan penduduk Mekkah kepada beliau. Al Amin artinya yang dipercaya. Gelar ini diberikan karena kejujuran beliau. An Nashr bin Al Harits, musuhnya, pernah menyaksikan dan mengakui kejujuran Muhhamd saw. ”Semasa dia muda kamu suka kepadanya lantaran dia paling jujur, paling lurus perkataannya, paling setia memegang janji.” Abu Sufyan, musuh beliau juga waktu itu, pernah ditanya oleh Emperor Hiraclius, “Sebelum dia membawa seruan ini, pernahkah kamu kenal dia sebagai seorang pembohong?” Jawab Abu Sufyan, “Tidak pernah sekali-kali.” Bukti lain atas kejujuran beliau adalah dipercayakannya urusan perdagangan milik Khadijah, seorang saudagar kaya dan dihormati, kepada beliau.

Bersahaja. Beliau tidak mendapat harta waris yang melimpah. Ayahanda beliau, Abdullah, hanya meninggalkan lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan bernama Umm Ayman. Bahkan kesediaann beliau untuk mendapat upah dari menjalankan urusan dagang Khadijah ke Syam adalah berkaitan dengan kondisi ekonomi beliau. Inilah cuplikan percakapan beliau dengan Abu Thalib dan Khadijah soal itu. “Anakku”, kata Abu Thalib, “aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?” “Terserahlah paman, “ jawab Muhammad. Abu Thalib pun pergi mengunjungi Khadijah. “Aku dengar engkau mengupah orang dengan dua ekor unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor.” “Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai,” jawab Khadijah.
Ketika beliau akan diminta oleh Khadijah untuk mengawininya—lewat perantara Nufaisa bint Mun-ya—beliau berkata, “Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan!

Jiwa kepemimpinan; yang oleh beliau ditunjukkan dengan kemampuan untuk menggembala kambing. Secara filosofis, mengembala kambing memiliki makna kepemimpinan. Beliau bersabda, “Nabi-nabi yang diutus oleh Allah adalah pengembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad). Dalam Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam terdapat hadis lain berkaitan dengan ini, “Tidak ada nabi pun melainkan ia mengembala kambing.” Ditanyakan kepada beliau, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw bersabda, “Ya, termasuk aku.”

Jiwa kepemimpinan beliau terlihat ketika terjadi perselisihan peletakan hajar aswad antarkabilah Quraish tentang siapakah yang berhak meletakkannya. Akhirnya seorang yang dituakan, Abu Umayyah bin Al Mughirah al Makhzumi, memberi alternatif bahwa yang berhak meletekkan batu itu adalah dia yang pertama kali masuk ke Ka’bah melalui pintu Shafa. Ternyata yang pertama kali masuk adalah Muhammad saw. Maka, dengan sangat fantastis, Muhammad saw memberi terobosan penyelesaian masalah itu yakni dengan “melibatkan” seluruh kabilah atas peletakan Hajar Aswad dengan cara memegang ujung-ujung kain yang di tengahnya diletakkan batu itu. Dan akhirnya, beliau sendiri yang meletakkan batu tersebut pada bangunan Ka’bah.


Kemandirian. Kemandirian beliau dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, kondisi beliau yang ditinggal oleh orang tuanya sebelum beliau mengenalnya. Beliau ditinggal ayahnya saat masih dalam kandungan dan ditinggal ibundanya saat masih kecil. Tidak cukup itu, beliau ditinggal pula oleh kakeknya Abdul Muthalib, yang merawat sepeninggal ibundanya, saat masih berusia delapan tahun. Keadaan yatim-piatu dan kehilangan kakek ini tentu menempa jiwa beliau untuk bersikap mandiri. Kedua, persentuhan beliau dengan dunia perdagangan mengandung makna tersendiri dalam potret kemandirian ini. Seperti dikenal belakangan ini dunia entrepreneurship (kewirausahaan) adalah dunia yang lekat dengan kemandirian karena pengambilan keputusan lebih bisa dilakukan secara mandiri dibanding dengan dunia birokrasi. Sebelum menjalankan perniagaan Khadijah ke negeri Syam, Muhammad saw pernah juga berniaga dan berkongsi dengan seorang saudagar kecil bernama As Saa’ib bin Abis Saab (Hamka, Sejarah Umat Islam)

Clean. Beliau bersih dari anasir-anasir tercela. Pertama, beliau bebas dari penyembahan berhala. Salah satu fragmen percakapan Buhaira dengan Muhammad saw berikut ini menjadi salah satu argumennya. “Hai anak muda, dengan menyebut nama Al Lata da Al Uzza aku bertanya kepadamu dan engkau harus menjawab aku tanyakan kepadamu.” Buhaira bertanya seperti itu, karena ia mendengar bahwa kaum Rasulullah saw bersumpah dengan Al Lata dan Al Uzza. “Jangan bertanya tentang sesuatu apa pun kepadaku dengan menyebut nama Al Lata dan Al Uzza. Demi Allah, tidak ada yang sangat aku benci melainkan keduanya,” kata Muhammad saw. Kedua, beliau bersih dari pemikiran nafsu duniawi. Ketika beliau sedang mengembala kambing dengan seorang kawannya pada suatu senja, tiba-tiba terlintas dalam hatinya bahwa ia ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain di gelap malam di Mekkah. Sesampainya di ujung Mekkah, perhatian beliau tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam berikutnya beliau datang lagi ke Mekkah, dengan maksud yang sama. Terdengan oleh beliau irama musik yang indah. Ia duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.

Beliau tidak pernah minum khamr, tidak pernah makan daging yang disembelih atas nama berhala, dan tidak pernah menghadiri pesta-pesta yang diselenggarakan untuk berhala. Beliau juga terjaga auratnya, bahkan sejak kecil tidak pernah telanjang kecuali pada suatu peristiwa yang akhirnya menyedarkannya kembali. “Pada masa kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraish mengangkat batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami telanjang dan meletakkan bajunya di pundaknya (sebagai ganjalan) untuk memikul batu. Aku maju dan mundur bersama mereka, namun tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. Ia berkata, ‘Kenakan pakaiannmu!’ Kemudian aku mengambil pakaiannku dan memakainya. Setelah itu aku memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman-temanaku.”

Puncak dari kebersihan Muhammad saw adalah kebiasaan beliau untuk melakukan tahannuf atau tahannuth (berasal dari kata hanif yang berarti ‘cenderung kepada kebenaran’), yaitu kebiasaan mengasingkan diri dari keramaain orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bertapa dan berdoa. Dengan tahannuth beliau melakukan perenungan dan pencarian kebenaran.

Pemberani. Beliau sangat pemberani, karena pada umur empat belas tahun sudah ikut perang Al Fijjar, yaitu peperangan antara Quraish yang didukung Kinanah melawan Qais Ailan. Dinamakan perang fijjar karena melanggar tanah suci dan bulan-bulan suci (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Dalam perang ini beliau berperan membantu mempersiapkan anak-anak panah untuk paman beliau (dalam keterangan lain beliau ikut pula melemparkan panah).

Komunikator Ulung.
Hamka menulis bahwa Muhammad kenal betul akan kesukaan dan pergaulan bangsa Arab, demikian juga langgam bicara tiap-tiap negeri Arab. Tiap-tiap kabilah dilawannya berbicara menurut lidah kabilah itu! Perkataanya lemah manis tersusun dan tertib, berfasal, beratur, dapat dihafal dan dimenungkan, faham siapa yang mendengar, seakan-akan mutiara yang disusun layaknya. Kata Aisyah: “Rasulullah tidak pernah bercakap berseloroh sebagai cakapku ini, perkataannya tersusun, berhujung dan berpangkal.” Berkata Ibnu Abi Haalah, “Senantiasa dia berdukacita, selalu dia berfikir. Tak pernah senang diam, tidak dia bercakap kalau tidak perlu, panjang diamnya, dimulai perkataannya dan dikuncinya dengan teratur, perkataanya itu penuh berisi, tidak banyak bunga dan tidak terlalu ringkas, lemah manis tidak tegang dan tidak kendur.”

Budinya tinggi, pemaaf, penyantun, sabar, adil, tawadhu’, hormat pada orang tua, kasih pada yang muda, dermawan, bermalu

Diantaranya karakter kuat di atas, ada empat sifat asasi yang beliau miliki, yang oleh Said Hawwa (Ar Rasul, Gema Insani Press. Jakarta: 2003) wajib bagi setiap rasul Allah.

Ash Shidqul Muthlaq (kejujuran secara mutlak)

Al Iltizamul Kamil (komitmen dan sifat amanah yang             sempurna)

At Tablighul Kamil (penyampai kandungan risalah                 secara  sempurna).

Al Aqlul Azhim (intelegensi yang cemerlang).

Fisik yang Prima

Sebagai manusia, beliau dapat dilukiskan, bahkan dilukis, karena informasi tentang fisik, penampilan, dan perawakan beliau amat kaya. Kalau bukan karena penghormatan, atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya, niscaya tidak ada larangan untuk melukis beliau, demikian pendapat M. Quraish Shihab (Secercah Cahaya Ilahi – Hidup Bersama Al Qur’an: Jakarta: Mizan, 2000; Baca juga Said Hawwa, Ar Rasul, Gema Insani Press. Jakarta: 2003).

Berikut adalah ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh Muhammad saw: Tingginya sedang-sedang saja, tidak gemuk tidak pula kurus. Bahunya lebar, dadanya bidang, ototnya kekar, dan kepalanya sedikit besar. Rambutnya hitam gelap, sedikit ikal, terurai sampai ke pundaknya dan selalu tersisir rapi. Dalam usianya yang lanjut, hanya terdapat sekitar dua puluh lembar ubannya. Uban itu, menurut beliau, akibat ketegangannya saat menerima Surah Hud yang mengandung ancaman.

Mukanya bulat, menarik bagai purnama. Matanya hitam cemerlang dan bersinar, tetapi putih matanya sangat jernih. Bulu matanya hitam, panjang dan tebal sehingga terlihat bagaikan memakai celak.

Hidungnya mancung sedikit besar, giginya tersusun rapi dan diurusnya tidak kurang dari sepuluh kali sehari dengan menggunakan siwak. Kulitnya bersih dan lembut. Warnanya campuran “putih kemerah-merahan”.

Tangannya laksana sutra, bagai kelembutan tangan wanita. Langkahnya cepat dan luwes, seperti seorang yang turun dari ketinggian. Bahasanya jelas dan indah terdengar. Seringkali, ketika berbicara, beliau menggelengkan kepala atau menepuk telapak tangannya dengan jari telunjuk serta menggigit-gigit bibirnya. Kalimat-kalimatnya yang penting seringkali diulangi hingga tiga kali, agar dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh pendengarnya.

Bila menoleh, beliau menoleh dengan seluruh badannya; dan bila menunjuk; beliau menunjuk dengan seluruh jarinya. Perawakannya gagah, penuh wibawa, tetapi simpatik. Selalu tersenyum walau tawanya jarang dan gelaknya tidak terdengar.

Sidojangkung, 19 April 2005

Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, BEST FOSI Surabaya