Jumat: Wukuf Lokal di Tanah Air

Jumat bukan hari pendek. Tapi justru hari yang akan memperpanjang daftar amal. Ada shalat Jumat yang menyediakan pahala berlipat.

Jumat juga hari yang bersih karena kita dianjurkan membersihkan badan secara fisik. Kuku dan rambut dipotong. Mandi besar dan pakai wewangian.

Lanjutkan membaca “Jumat: Wukuf Lokal di Tanah Air”

Faza, Lahir sebelum Ditolong Bidan

Setiap kelahiran mempunyai kisahnya sendiri. Demikian juga Faza Fajrulfatkhi Mohammad, anak keempat kami. Kelahirannya ditandai dengan sejumlah keistimewaan. Pertama, dia perempuan pertama, setelah sebelumnya kami “hattrick” lelaki. Waktu itu memang kami berharap anak perempuan dan Allah mengabulkannya.

Kedua, dia satu-satunya anak kami yang lahir di depan mata ayahnya. Pada proses kelahiran tiga anak lelaki sebelumnya, ayahnya selalu dilarang masuk ke ruang persalinan oleh petugas.

Ketiga, dia anak pertama yang lahir setelah kami memiliki rumah sendiri. Sebelumnya, tiga kakaknya lahir saat kami masih kontrak rumah, yang setiap anak menjadi tetenger akan rumah kontrak kami.Satu anak, satu kontrakan baru.

Keempat, dia anak satu-satunya yang lahir di kabupaten Gresik, sementara tiga lelaki sebelumnya dan satu perempuan setelahnya, lahir di kota Surabaya. Inilah anak asli Gresik, lebih detailnya gadis Sidojangkung, nama desa tempat kami tinggal.

Kelima, dia anak satu-satunya yang lahir bukan di rumah sakit. Sementara tiga kakaknya selelu lahir di rumah sakit, meskipun ditangani oleh bidan dan adiknya, Zada Kanza Makhfiya Mohammad lahir di rumah sakit melalui operasi Caesar.

Keenam, dia lahir sebelum ditolong oleh bidan. Kok bisa? Begini ceritanya. Waktu itu, kami baru setahun pindah ke perumahan di sebuah wilayah Gresik,yang jauh dari kota Surabaya, tempat saya kerja. Tetangga penghuni perumahan itu pun masih minim. Kami saja termasuk sepuluh penghuni pertama.

Saat kandungan mulai membesar, kami sempat berpikir, bagaimana kalau saya pas kerja dan istri harus dibawa ke bidan karena sudah ada tanda-tanda melahirkan? Siapa yang mengantar? Pakai kendaraan apa? Pertanyaan ini kontekstual, karena di samping tetangga masih jarang, di rumah juga hanya ada istri dan tiga anak kecil kami.

Juga, saat itu satu perumahan belum ada yang punya mobil. Becak pun tidak ada di lingkungan kami. Dan belum ada klinik bidan yang menyediakan antar-jemput pasien seperti sekarang.

Tapi Allah Mahaadil. Sabtu sore, mertua tiba-tiba datang berkunjung ke rumah. Sudah menjadi kebiasaan sebelumnya, bahwa kami baru akan memberitahu orang tua jika anak kami sudah lahir. Kami tidak ingin merepotkan. Tapi kali ini mertua datang sendiri tanpa berkabar apa pun sebelumnya, persis sehari sebelum kelahiran anak kami.

Ahad pagi, 11 Juli 1999 sekitar pukul 06.45, perut istri sudah mules-mules berat. Alhamdulillah, pas hari libur. Jadi saya bisa mengantarnya ke bidan. Dan ketiga lelaki kecil kami ditunggu mertua di rumah.

Faza, umur satu pekan. Foto bidikan fotografer keliling.

Segera saya stater motor Yamaha Alfa untuk nggonceng istri ke bidan Suprapti di Desa Domas, tetangga desa. Jarak tempuh memang tidak jauh, tak sampai 1 km. Tapi dalam keadaan perut yang mules berat, rasanya tegang sekali. Begitu sampai di rumah bidan, kami langsung masuk. Tanpa basa-basi istri langsung mapan di tempat persalinan. Dan … ternyata kepala bayi sudah nonggol, sebelum segala sesuatunya disiapkan bidan.

Itulah kali pertama saya melihat bagaimana seorang bayi lahir menyapa dunia. Perasaan bahagia, terkejut, dan surprise bercampur aduk. Yang lebih bikin jantungan, ternyata saat itu bidan Suprapti yang berpraktik tidak ada di tempat. Yang ada adalah asistennya. Bagaimana dan bagaimana? Begitu pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya.

Tapi asisten bidan itu bergerak cepat. Bayi kami yang sudah nongol duluan itu langsung disempurnakan kelahirannya. Alhamdulillah, tidak ada hambatan. Tidak ada kelainan tertentu. Semua berjalan cepat. Dan inilah anak kami yang tercepat kelahirannya. Mules-mulesnya sebentar, dan lahirnya juga supercepat, bahkan sebelum (asisten) bidan siap bertindak.

Kami sangat bahagia ketika kami memeriksa fisik bayi, termasuk kelaminnya. Ternyata seorang bayi perempuan normal. Rasanya hidup kami menjadi sempurna. Kami sudah dikaruniai tiga anak lelaki, dan kini disempurnakan oleh Allah dengan satu anak perempuan.

Dari kiri: Azka Izzuddin Mohammad, Faza Fajrulfatkhi Mohammad, Aqil Rausanfikr Mohammad, dan Rosyad Hisbussalam Mohammad. Merek tampil dalam drama dalamsebuah pementasan di TPA At Taqwa Wisma Sidojangkung Indah Menganti Gresik.

Fajar Kemenangan

Sore di hari Ahad itu juga, kami diperbolehkan pulang. Kembali saya bonceng istri ke rumah dengan Yamaha Alfa. Tapi kali ini kami membawa penghuni baru. Bayi perempuan yang lucu. Kami beri nama bayi perempuan kami ini FAZA FAJRULFATKHI MOHAMMAD.

Meski perempuan, bayi ini tetap saya beri nama Mohammad di belakang. Sebuah konsistensi menyematkan nama ayahnya, yang juga merujuk pada nama Nabi Muhammad SAW.  Begitulah semua anak saya namanya diakhiri dengan Mohammad.

Sementara nama Faza terdiri dari dua suku kata fa-za, juga sebagai konsistensi saya memberi nama panggilan. Dalam konsep saya, nama panggilan sebaiknya sesuai dengan nama asli, yang mudah dieja sehingga tidak bias. Faza sendiri bermakna kejayaan atau mekar. Sedangkan fajrulfatkhi dari kata fajar (waktu fajar, lahir di sekitar waktu fajar, (pagi) dan fatkh (kemenangan).

Saya maksudkan bahwa anak keempat ini menjadi puncak kemenangan atau kejayaan (hasil) perjuangan ketiga kakaknya, yang sesungguhnya nama-nama mereka adalah unsur-unsur perjuangan; Azka sebagai izzuddin (penegak agama), Rosyad sebagai hizbussalam (pejuang Allah Yang Maha Damai), dan Aqil sebagai rausanfikr (cendekiawan, ilmuan yang peduli lingkungan sosialnya).

Nama-nama itu, menjadi bagian doa kami semoga anak-anak kami kelak menjadi bagian dari pejuang peradaban Islam. Amien.

Sidojangkung, 11 Juli 2015/26 Ramadan 1436

Ayah, Mohammad Nurfatoni

Faza Fajrulfatkhi Mohammad saat wisuda Sarjana Psikologi Ubaya, tahun 2021. Didampingi kedua orangtuanya. Insyaallah tanggal 22 Mei 2022 akan “wisuda” kedua: menikah.

Zada, Khazanah Tersembunyi

Hari ini 3 Desember, 12 tahun Zada Kanza Makhfiya Mohammad. Baru kali ini saya menulis sejarah kelahirannya. Sementara sejarah kelahiran kempat kakaknya sudah saya tulis beberapa tahun lalu.

Zada—panggilannya—memang anak istimewa. Pertama, lahir saat kami sudah bersiap tak lagi merencanakan punya anak. Tapi, Tuhan Maha Perencana. Rencana kami diganti oleh rencana-Nya. Kami diamanahi lagi anak kelima, sebenarnya keenam, sebab anak kelima kami mengalami keguguran tahun 2004 saat tsunami melanda Aceh.

Maka ketika putri kedua ini lahir (formasi lengkap: lelaki, lelaki, lelaki, perempuan, dan perempuan) kami memberinya nama yang menggambarkan hal itu.

Nama lengkapnya: Zada Kanza Makhfiya Mohammad. Zada berarti tambahan. Kanza bermakna khazanah, perbendaharaan, atau harta. Sedangkan makhfiya artinya tersembunyi. Dan Mohammad—mengambil nama ayahnya yang juga merujuk juga pada Nabi Muhammad SAW.

Perlu diketahui, nama Mohammad selalu kami sematkan pada setiap nama anak-anak kami, termasuk yang perempuan. Karena itu beberapa pihak mengira dia—melihat dari namanya—sebagai lelaki, seperti saat kami mencatatkan kelahiranya di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupatan Gresik.

Dalam akta kelahiran, jenis kelaminnya ditulis laki-laki. Padahal berkas formulir yang kami sertakan, jelas ditulis perempuan. Mungkin si petugas entri data fokus pada kata Mohammad dan berasumsi itu nama lelaki. Apalagi kata Zada sebagai nama panggilan juga dipakai oleh pemain sepakbola: Leonardo Martins Zada. Akhirnya akta kelahiran itupun kami minta direvisi.

Jadi secara lengkap arti nama dia adalah khazanah tersembunyi—layaknya harta karun—yang menjadi tambahan nikmat kami, keluarga Mohammad Nurfatoni. Atau bisa juga dimaknai si anak tambahan itu adalah harta karun yang tersembunyi sebagai anugerah Allah.

Zada Kanza Makhfiya Mohammad (Foto usia tiga hari)

Lahir Caesar

Zada adalah satu-satunya anak kami yang lahir dengan cara tidak normal
melalui operasi Caesar. Ini keistimewaan kedua. Operasi dilakukan karena saat kami mengontrolkan kandungan ibunya pada dokter spesial kandungan di Rumah Sakit Wiyung Sejahtera Surabaya, air ketubannya sudah habis.

Apalagi saat itu sang ibu—Siti Rondiyah—telah berumur 40 tahun. Yang menurut dr Eighty SPOG, dokter yang menanganinya, juga berisiko saat melahirkan secara normal.

Maka petang itu juga, Selasa 2 Desember 2008 pukul 19.00 WIB —dokter perempuan itu memutuskan untuk melakukan operasi sekitar pukul 12 malam setelah beberapa jam istri berpuasa.

Kami sebenarnya tidak siap, karena saat itu hanya berniat memeriksakan kandungan secara rutin di masa-masa akhir kehamilan.

Oleh karena itu setelah kepastian operasi diambil, saya segera pulang, untuk menjemput anak-anak dan mengambil perlengkapan persalinan seperlunya.

Tentu, vonis operasi Caesar itu bagi kami masih sangat mendebarkan, karena itu kejadian kali pertama. Tapi saya mencoba menguatkan istri. Kehadiran bapak dan ibu mertua, almarhum KH Abdul Mu’thi dan Asiyah, malam itu dari Desa Mlangi Kecamatan Widang Kabupaten Tuban juga mampu memompa semangat istri. Maka bismillah, kami pasrah pada Allah dan memohon keselamatan istri dan anak yang akan dilahirkan lewat operasi.

Di tengah menunggu operasi, saya pun mendapat dukungan dengan kehadiran Mas Abdul Aziz—bos saya di Cakrawala Print—dan istri Lely Dismawati (almarhumah). Juga ikut hadir di rumah sakit, Pak Sueb dan Mbak Endang (almarhumah) rewang
kami.

Tepat pukul 00.07 WIB Rabu 3 Desember 2008 lahirlah sang jabang bayi. Sang ibu sehat dan selamat. Normal kondisinya. Si bayi tampak cantik sekali. Kami sangat bahagia. Segala rasa resah sebelum operasi terbayar sudah.

Selain satu-satunya yang lahir lewat operasi, Zada juga satu-satunya anak kami yang kontrol dan imunisasinya di dokter spesialis anak yang cukup senior: dr Ismail. Saat itu dia dokter RS Wiyung Sejahtera yang menangani pascakelahiran Zada dan membuka praktik di Perumahan Pratama Wiyung Surabaya. Keempat anak kami sebelumnya, kontrolnya di puskesmas atau polianak rumah sakit.

Saya merasakan keinginan yang kuat untuk memberikan yang terbaik pada ‘si harta tersembunyi’ itu—atau jangan-jangan karena saat itu kondisi ekonomi kami sudah lebih baik dibanding saat kelahiran empat kakaknya?

Zada Kanza Makhfiya Mohammad saat foto letitasi

Baru Merasakan Punya Adik

Yang jelas, kehadiran Zada membuat kami sangat bahagia. Saat itulah kakak-kakaknya baru merasakan bagaimana punya adik. Bisa ngudang, ngemong, atau nggendong. Maklum kelahiran Zada dengan anak keempat terpaut 9 tahun. Itulah kenapa di awal kami sebut sebagai anak “tambahan”.

Sedangkan kelahiran anak-anak kami sebelumnya jaraknya berdekatan. Azka Izzuddin Mohammad lahir 26 April 1994 sedangkan adiknya, Rosyad Hizbussalam Mohammad, lahir 16 September 1995.

Anak ketiga, Aqil Rausanfikr Mohammad, lahir 3 Maret 1998. Hanya selisih setahun lebih dari anak keempat: Faza Fajrulfatkhi Mohammad, yang lahir 11 Juli 1999. Dengan jarak lahir yang berdekatan itu, nrecel kata orang Jawa, seolah mereka tidak punya adik. Bahkan mereka saling “bersaing” mendapakan kasih sayang orangtua.

Malah ada yang sempat kami titipkan ke rumah orangtua di desa. Rosyad pernah kami titipkan ke rumah mertua di Tuban saat Aqil lahir. Sedangkan Aqil kami titipkan ke rumah orangtua saya: Ahmad Thohir dan Siti Fatimah (keduanya telah wafat, semoga Allah mengampuni beliau berdua) di Desa Keduyung, Kacamatan Laren, Kabupatan Lamongan, saat Faza lahir.

Maka, ketika Zada lahir, mereka baru paham akan kehadiran seorang adik sehingga bisa merasakan bagaimana bergaul dengan adiknya. Perlakuan sebagai adik itu masih berlangsung sampai sekarang, ketika Zada berusia 12 tahun di hari ini. Kakak-kakaknya tetap sering menggodanya—dan dalam beberapa hal “memanjakannya”.

Tapi kami berpesan pada Zada, satu-satunya anak kami yang memanggil ibunya: Bunda, tidak boleh menjadi anak manja meskipun bungsu. Dan alhamdulllah, kami senang karena meski belum baligh, dia tidak manja dan bahkan telah mandiri dalam hal ibadah. Shalat, ngaji, dan berbusana muslimahnya selalu “terdepan”.

Kami pun senang karena tahun depan dia sudah siap belajar di Pesantren Ar-Rohmah Putri, Malang, dengan kemauannya sendiri. Itu akan semakin memandirikan, meskipun kami akan melepasnya dengan air mata haru, seperti dulu saat melepas kakak perempuannya ketika awal mondok di pesantren yang sama.

Selamat ultah Zada sang khazanah tersembunyi. Semoga menjadi anak shalihah yang khairunnas anfauhum linnas, menjadi manusia terbaik karena bermanfaat bagi sesama, amin!

Oh ya, selain memperingati kelahiran Zada, setiap tanggal 3 Desember kami juga mengenang kepergian abahnya—panggilan kekeknya: KH Abdul Mu’thi—yang wafat empat tahun setelah kelahirannya, yaitu 3 Desember 2012. Semoga Allah mengampuni almarhum, amin! (*)

Mohammad Nurfatoni, ayah lima anak.