Apa Salah Film Fitna? *)

Sebelumnya saya mohon maaf karena dengan menulis tema ini saya ikut membantu menjadikan “film” Fitna dan pembuatnya, Geert Wilders, semakin terkenal. Setidaknya saya menjadi orang yang kesekian kalinya yang menulis judul dan nama pembuatnya itu, sekaligus membuat Anda yang membaca tulisan ini menjadi pengejanya yang kesekian kalinya juga.  

Tapi begitulah kecerdikan yang diperagakan oleh Geert Wilders dalam mempopulerkan dirinya ke seluruh dunia. Mula-mula lewat jaringan internet, lantas dikutip media elektronik dan cetak, dikecam oleh beberapa pemimpin dunia, dan didemontrasi warga [Muslim] dunia.  

Maka dua nama itu kini menjadi pembicaraan dunia. Situs-situs yang memuat film itu dicari-cari, meski situs video sharing liveleak, situs “resmi” yang memuat pertama kali, sudah mencabutnya. Tapi begitulah dunia internet. Sekali saja, sebuah materi [tulisan atau foto dan gambar] ter-up load, maka tidak mudah menghapus jejaknya. Apalagi, sebelum materi “film” itu diedarkan ke jaringan internat, jauh-jauh hari sudah ada pengumuman bakal diedarkannnya “film” itu. Maka, internet provider dan situs-situs lain segera “mencaploknya”, yang kemudian segera pula di down load oleh para pengguna internet, lantas dicopy di hardisk, dicopy lagi di flashdisk atau CD, atau ditransfer lewat jaringan nirkabel. 

Sampai di sini muncul pertanyaan, bagaimana kita akan melarang peredaran “film” itu, jika jaringan internet dan media imbasnya ibaratnya adalah sebuah siluman. Saya sendiri tidak yakin bahwa UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang baru saja disahkan oleh DPR RI mampu menghambatnya. Atau, dengan kata lain, efektifkan larangan yang dikeluarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas peredaran “film” produksi politisi ekstrem Belanda Geert Wilders itu di Indonesia? 

Bagaimana Bersikap?

Saya terkejut saat pertama kali melihat “film” itu. Tapi terus terang keterkejutan itu bukan atas isinya yang dianggap menghujat Islam dan Al Qur’an melainkan pada penggunaan kategori film pada “karya” Geert Wilders itu.  

Sebelum di-up load, atau saat pengumuman pra penayangannya di internet, saya membayangkan akan diedarkannya sebuah film sebagai karya seni yang dibuat serius layaknya sebuah film, dan berisi sesuatu yang kontroversial.  

Namun bayangan saya itu sia-sia karena ternyata apa yang disebut “film” itu bukanlah film, melainkan hanya sekedar cuplikan atau rangkaian dokumentasi yang dicomot sana-comot sini [karena itu pada tulisan ini saya lebih suka menulis Fitna sebagai “film” dengan tanda petik]. Misalnya ada dokumentasi tentang serangan 11 September, pembunuhan sandera [di Irak] oleh pasukan perlawanan, aksi-aksi demontrasi yang dilakukan umat Islam di beberapa negara, pernyataan keras tokoh atau pemimpin Islam, atau kliping liputan tentang berbagai aksi yang oleh dunia [Barat] distigmakan sebagai kelompok teroris [Muslim].

Maka, meminjam Budiarto Shambazy, tak sukar mengerjakan Fitna, mungkin sama mudahnya  dengan membuat film dokumenter tentang liburan Anda bersama keluarga.  

Dengan memperhatikan fakta seperti ini, maka pertanyaan nakal saya adalah apa sebenarnya yang pantas diributkan dari Fitna? Saya kok justru membayangkan Geert Wilders lagi berbuat iseng seperti sebagian pengguna alat rekam dan internet yang kadang seenaknya saja melakukan pencemaran nama baik seseorang tanpa harus bertangggung jawab, misalnya dengan merekayasa gambarnya seolah-olah dia benar-benar beradegan telanjang! Toh lewat internet dan perangkat pendukungnya, orang bisa berbuat apa saja, termasuk bertindak anomali atau mau lain sendiri.  

Nah, ketika kita jadi ribut setengah mati dibuatnya, sesungguhnya kita telah masuk dalam perangkap propaganda pribadi Geert Wilders. Tapi, bukankah Geert Wilders telah melecehkan Islam atau Al Qur’an? Pertama, saya sangat yakin bahwa Islam atau Al Qur’an tidak akan pernah luntur sedikit pun kemuliaannya gara-gara keisengan orang semacam Geert Wilders.

Masih ingat salah satu tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai? Suatu saat Emha meminta pendapat Kiai Sudrun, yang disebutnya kiai sinting dari Mojoagung, tentang Salman Rusdhie yang diributkan karena bukunya Ayat-ayat Setan. Bagaimana jawaban sang kiai? “Salman Rusdhie itu zakarnya bengkok dan sejak muda selalu mengalami ejakulasi dini … karena ia inferior di bidang seks, makanya dia jadi bandar buntutan. Istrinya ia jual sebagai pelacur, digermoinya sendiri. Setiap lelaki disilahkan menyetubuhinya, asal wanita itu tetap menjadi milik Salman …”

 

Benarkah itu? Begitulah jika kita baca dari cerita Emha itu, yang mungkin mengisyaratkan bahwa Ayat-ayat Setan adalah bagian dari pelampiasan kelemahan [juga kebodohan] Salman Rusdhie. 

Tapi inilah jawab serius Kiai Sudrun, “Soal Ayat-ayat Setan ini, makin menunjukkan bahwa dunia makin tidak beritikad baik terhadap Islam … Tak apa. Itu bukan urusan Islam. Islam itu Islam. Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenaraannya. Silahkan orang seluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam … Islam tidak akan berubah seinci pun karena disalahpahami … Islam tidak mungkin berubah, laa raiba fiih, tidak ada keraguan di dalamnya …” 

Dulu, tahun 90-an, ketika membaca tulisan Emha itu saya tidak terlalu paham apa makna di balik jawaban-jawaban Kiai Sudrun di atas. Tapi kini baru mulai menemukan maknanya. Ternyata hampir dua dekade sejak Salman Rusdhie memperolok Islam lewat Ayat-ayat Setan, Islam tidak pernah berubah, bahkan nilai-nilai Islam semakin dicari orang dan pemeluknya kini semakin tumbuh-berkembang [seperti yang terlihat juga pada tabel yang dibuat Geert Wilders dalam Fitna]. Demikian juga ketika berlangsung propaganda Barat bahwa Islam identik dengan teroris dengan entry point tragedi 11 September, atau pembuatan kartun Nabi Muhammad saw oleh Lars Vilks dan dimuat Jyland Posten Denmark, yang juga sempat menghebohkan itu. Jangankan kurun itu, bahkan propaganda negatif tentang Islam itu sudah ada sejak zaman Abu Lahab.  

Jadi, hemat saya, kita tak perlu mengeluarkan energi terlalu besar hanya untuk memberi reaksi terhadap ulah iseng beberapa orang yang mengalami syndroma complex terhadap Islam semacam Salman Rusdhie, Geert Wilders, Lars Vilks, atau siapa pun! 

Energi itu sebaiknya kita manfaatkan untuk lebih mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, yang secara tidak langsung akan menjadi jawaban atas berbagai tuduhan miring terhadap Islam. Misalnya ketika Islam dituduh sebagai penyebar fitnah atau kekacauan dunia, mari kita buktikan lewat amal nyata bahwa itu tidak benar.                                          

Kedua, memang, harus diakui bahwa tidak 100% apa yang dibuat Geert Wilders dalam Fitna salah. Tentang ayat-ayat perang misalnya, memang itu ada dalam Al Qur’an. Dan sejarah Nabi Muhammad saw pun mencatat adanya episode perang. Hanya saja yang sering disalahpahami adalah konteks dan proporsi ajaran dan sejarah perang itu.  

Seperti dicontohkan Nabi Muhammad saw, perang hanya dilakukan dalam rangka mempertahankan diri atau melindungi kedaulatan hidup mereka yang terancam. Ini menjadi sah, sama sahnya seperti sebuah negara yang melakukan perang dengan dalih mempertahankan kedaulatannya dari serangan negara lain. 

Sementara dalam Fitna, terekam bahwa Islam adalah penyebar kekacauan yang identik dengan pedang, kekerasan, teror, atau bom bunuh diri, karena tidak ditampilkan, misalnya, latar belakang mengapa kekerasan yang terjadi itu menjadi gejala di berbagai belahan dunia. Tidak ada tank-tank Israel yang mengempur rakyat sipil Palestina berpuluh-tahun atau tidak ada kekejaman pasukan AS dan Multinasional yang meluluhlantakkan Afghanistan atau Irak. Sementara “kekerasan” yang dilakukan oleh sebagian Muslim itu hanyalah reaksi belaka dari kesewenang-wenangan atau ketidakadilan Israel atau AS dan Barat pada dunia Islam. 

Tapi Geert Wilders tidak bisa “disalahkan” karena tujuan dia membuat “film” bukan untuk mempropagandakan keadilan atau Islam itu sendiri, melainkan sebaliknya justru hendak mencitra-negatifkan Islam. Kita tidak bisa menuntut pada Geert Wilders misalnya, agar membuat film yang menggambarkan ajaran Islam yang utuh, tidak saja sisi jihadnya, melainkan juga tentang aspek lainnya. Bagaimana dia akan melakukan itu jika ia mengidap penyakit Islamophobia? 

Tugas menjelaskan Islam yang utuh pada masyarakat itu adalah tanggungjawab internal umat Islam, seperti apa yang coba dilakukan secara simpatik oleh Habiburrahman El Shirazy dengan novelnya Ayat-ayat Cinta dan kemudian disosialisaikan lewat film oleh sutradara Hanung Bramantyo. 

Sidojangkung, 2 April 2008

Mohammad Nurfatoni  

*) Tulisan ini, dengan beberapa editing, telah dimuat di Harian Surabaya Post, Kamis, 3/4/08 dengan judul Perangkap Propaganda Geert Wilders.

Iklan

9 komentar

  1. setuju pak, namun yang membuat jengkel dalam film itu, ayat-ayat suci al-qur’an dipergunakan dan diterjemahkan secara sembarangan dan sangat tendensius. Sulit memang untuk memberikan pemahaman terhadap orang-orang diluar islam apalagi yang awam atau phobia terhadap islam mengenai ayat-ayat Qur’an yang menceriterakan tentang peperangan pada jaman Nabi. Turunnya ayat-ayat Qur’an yang disampaikan Allah SWT baik langsung maupun tidak langsung kepada Muhammad SAW ada sebab musababnya (Asbabbul Nuzul), sehingga perlu pemahaman yang benar akan riwayat turunnya ayat-ayat tersebut.

    Suka

  2. dasar pembuatan film fitna harus diamati dengan cermat.
    widers de sukkels adalah orang yang sangat membenci para moeslem di nederland dan alochtone.
    konsep yang dibuat wilders tentang jihad akan membuat opinii publik rancu.
    Jihad itu dalam islam ada dan memang perlu ditegakan ketika misal kita terancam oleh orang lain terutama dalam mempertahankan islam.
    makanya wilders de sukkel menginginkan Setiap nederlander moeselm harus menyobek Alquran setengah bagian. dan statmen tentang dirinya kesombongannya terhadapp pabila keberadaan NAbi Muhammad SAW masih ada di Nederland sekarang maka dia akan mengusirnya dengan belenggu.
    wajar jika seorang muslim marah dengan hal itu.
    kecuali yang bukan muslim tentu malah tidak marah malah senang2 saja.
    Kebebasan yang diusung oleh wilders hanya kebebasan untuk memojokan islam dengan menghalalkan segara cara termasuk menghina.
    Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal kepada Wilders dan pendukung-pendukungnya

    Suka

  3. @ Bardoks

    Makasih, begitulah jika Al Quran tidak dipahami secara utuh. Nah, tugas kita untuk menjelskannya.

    @ Landy dan Ariss
    Makasih komentarnya!

    @ Zaki
    Makasih, saya sependapat bahwa setiap aksi, pasti ada tujuan di baliknya. Saya kira kitat tetap waspada! Saya juga marah. Tapi kadang kemarahan itu bisa dialihkan pada hal lain yang lebih produktif.

    Suka

  4. benar banget mas, aksi sebagian saudara kita yang terlalu sigap menyikapi hal-hal tak substansi sangat kita sayangkan. Mengapa yang diamuk bukan pelaku korupsi, penjahat kejaksaan, kehakiman dls. malah Geert Wilders yang mereka hujat, naif memang.

    salam kenal
    jhellie maestro

    Suka

  5. maap saudara2
    saya non-muslim
    jd tidak terlalu mengerti

    tetapi bukankah lebih mudah kalau diexpose saja pemahaman Al Quran yang utuh untuk meluruskan semuanya ?

    dan saya juga tertarik untuk tahu pemahaman mana yang benar dan mana yang salah

    makasi
    ^^

    Suka

  6. …Untuk kesekian kalinya Umat Islam kembali diuji keimanan&kesabarannya oleh orang-orang yang membenci Islam…Untuk kesekian kalinya kita seperti “ditonjok,ditempeleng,dijenggut-jenggut rambut kita” oleh musuh-musuh Allah&Rasulullah Saw,,,KENAPA INI TERJADI..???
    Ini disebabkan karena kita sendiri yang meremehkan ajaran Rasulullah Saw,kita yang mulai sedikit demi sedikit meninggalkan ajaran Islam yang penuh kedamaian yang dibawa oleh manusia penuh kedamaian RASULULLAH MUHAMMAD IBN ‘ABDILLAH SAW…Secara tidak sadar kita sendirilah yang membuka celah bagi orang-orang Kafir untuk menyerang Agama yang luhur ini…,.Janganlah dulu melihat si MAker of The Fitna…karena memang dia telah memperoleh siksa dan adzab dari Allah di akhirat nanti..karena nayata dia orang kafir..Sekali lagi Ini semua terjadi karena kita telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran Rasulullah,kita banyak melalaikan kewajiban yang Allah wajibkan buat kita…Marilah kita tengok diri kita benarkah kita telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw…
    Dan kita juga telah menodai ajaran Islam yang luhur ini dengan hal-hal yang menyakiti Rasulullah Saw..seperti PLURALISME,LIBERALISME,SEKULARISME,..dan ISME-ISME yang lainnya..yang justru telah menodai ajaran-ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW,para Shohabat,Tabi’in..dan generasi-generasi setelah mereka yang mengikuti mereka dengan baik…
    Mudah-mudahan kita dapat menjadi Muslim yang bisa dibanggakan oleh Rasululah,menjadi muslim yang membuat Rasululah tersenyum…Amin…

    Washolollahu ‘ala Sayyidina Muhammadin Wa ‘ala Alihi washohbihi wassalam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s