Multimakna dan Multiefek Mudik

Siapa yang pergi, pasti rindu pulang
laksana burung yang terbang ribuan kilometer
dan kembali lagi ke sarangnya

maka pulang (mudik) adalah simbol kembali ke asal mula
sebab kepulangan selalu mengingatkan pada sangkan paran (asal usul kejadian)

dan inilah sambutan Tuhan bagi yang segera pulang
— kepulangan yang tak harus menunggu kematian (fisik):
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu

dengan jiwa yang puas lagi diridhaiNya …”

(“Pulang”, Mohammad Nurfatoni)

Hari-hari ini masyarakat perkotaan sedang disibukkan oleh tradisi tahunan yang selalu mengiringi perayaan hari raya Idul Fitri, yaitu tradisi mudik atau kegiatan pulang ke kampung halaman.

Berbagai imbauan pernah disampaikan untuk menghilangkan, setidaknya mengurangi, kegiatan mudik karena beberapa alasan. Secara ekonomi kegiatan ini dianggap sebagai bagian dari pemborosan keuangan, karena adanya beban biaya transportasi dan masifnya budaya konsumerisme. Dari sisi keamanan, kegiatan mudik akan melahirkan kerawanan pada kawasan lingkungan akibat ditinggal pulang para pemudik secara bersamaan.

Akan tetapi, seperti digambarkan oleh puisi di atas, mudik ternyata sarat dengan makna. Secara spiritual, mudik atau kepulangan adalah panggilan jiwa atau fitrah manusia. Oleh karena itu, betapa pun sulit dan membutuhkan biaya ekonomi tinggi, tradisi mudik tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat kita. Dari tahun ke tahun tradisi mudik tetap berjalan, bahkan cenderung meningkat.

Dinas Perhubungan Jatim memperkirakan, jumlah pemudik di Jatim tahun ini akan mencapai 7.174.755 orang pada Lebaran kali ini, atau naik dari jumlah pemudik pada tahun sebelumnya yang sekitar 6,7 juta orang. Penghitungan jumlah pemudik itu didasarkan pada total jumlah penumpang angkutan darat (bus dan KA), penyeberangan, angkutan laut dan udara. Untuk angkutan darat jumlah kenaikan penumpang diprediksi mencapai 4 persen. Kereta api 8 persen, penyeberangan (ASDP) 5 persen, angkutan laut 10 persen dan udara 8 persen.

Makna Spiritual Mudik

Seperti kita pahami, manusia lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa (kullu mauluudin yuuladu ala al-fitrah). Lahir tanpa dosa di sini bukan berarti sama dengan kertas putih kosong, sebab kelahiran manusia membawa potensi kebenaran atau berketuhanan. Itu terjadi setelah manusia pada suatu kesempatan awal penciptaan, pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka (seraya berkata): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi.” (Al-A’raf/7:172).

Dalam perjalanan hidupnya, manusia mungkin terjerembab dalam kubangan dosa dan kesalahan, bahkan pada tingkat ekstremnya melupakan Tuhan. Posisi seperti ini tentu bertolak-belakang dengan fitrah manusia. Nah, karena kasih sayang Tuhan pada manusia tak pernah terputus, maka Tuhan menciptakan sistem pengondisian agar manusia kembali pada Tuhannya. Sistem itu tak lain dan tak bukan adalah puasa Ramadhan, sebuah sistem layaknya kawah candradimuka yang akan memproses kembali manusia pada jati dirinya.

Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka dosa-dosanya akan diampuni.” Sebagai kawah candradimuka, maka puasa Ramadhan akan mengembleng manusia agar kembali pada jati dirinya sebagai manusia yang memancarkan fitrah atau kebenaran.Inilah yang dimaksud dengan Idul Fitri. Id berarti kembali dan fitr adalah asal muasal atau kesucian.

Jadi, manusia yang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan akan kembali sebagai makhuk berketuhanan. Inilah sebenarnya makna yang hendak dibawa oleh tradisi mudik.

Multimakna dan Multiefek

Secara spiritual, mudik mengingatkan akan asal usul manusia yang berasal dari Tuhan (sangkan paran). Ketika manusia sadar bahwa mereka berasal dari Tuhan maka manusia akan berusaha dekat dengan-Nya (taqarrub ilallah). Ketika manusia dekat dengan Tuhan, maka manusia akan berusaha “menyerap” citra Tuhan dalam dirinya. Inilah yang disebut insan kamil (manusia paripurna).

Secara psikologi, mudik akan menyadarkan manusia agar tidak pongah dan sombong ketika sudah sukses di kota. Sebab mudik akan mengingatkan keotentikan diri mereka. Bahwa kita dulu orang ndeso kesa keso yang menjunjung tinggi kejujuran, tepo sliro, dan gotong royong.

Maka, dengan segala kesederhanaan dan keasliannya, desa akan menjadi cermin bagi masyarakat kota untuk melepaskan segala topeng-topeng yang mungkin selama ini memenjarakan mereka dalam jeruji kepalsuan, yang mana kepalsuan itu seringkali menjerumuskan manusia dalam kerusakan.

Secara sosiologi, mudik mengingatkan manusia pada kampung halaman yang pernah melahirkan dan membesarkannya. Ingat pada kampung halaman ini penting agar kita tidak meninggalkan keluarga besar (extended family) yang masih ada di kampung halaman. Sebab dalam kehidupan urbannya, manusia kota biasanya hidup sebagai keluarga inti (nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Mudik sangat penting sebagai wahana untuk mengumpulkan kembali keluarga besar agar bersilaturahmi dengan mbah, buyut, paman, misanan (sepupu), keponakan, dan sanak kadang lainnya. Mudik adalah reuni besar di kampung halaman.

Dalam kehidupan kota yang bersifat individualistis, keluarga besar ini penting sebagai cermin sebuah kekompakan hidup bertetangga. Dengan mengambil semangat keluarga besar di kampung, maka sekembali ke kota kita diingatkan untuk membangun keluarga besar meskipun bukan lagi terdiri dari anggota keluarga, melainkan dari para tetangga yang berbeda latarbelakangnya.

Keluarga besar ini penting dibangun di kota karena akan membentuk hubungan yang saling tolong-menolong bagi keluarga inti yang jauh dari sanak keluarga masing-masing.

Tak kalah pentingnya, mudik juga memiliki multiefek pemerataan ekonomi. Hampir seluruh sektor ekonomi akan mendapat imbas dari tradisi mudik, apakah itu transportasi, keuangan, komunikasi, atau perdagangan. Tapi sayangnya, sektor-sektor itu masih dikuasai oleh ekonomi perkotaan dan orang-orang kaya.

Bagaimana agar efek ekonomi mudik itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat pedesaan, setidaknya kerabat di kampung halaman?Ada beberapa pemikiran yang perlu dicoba-praktikkan. Pertama, para pemudik hendaknya mengubah peruntukan oleh-oleh dari kota yang biasanya berupa barang konsumtif menjadi barang produktif.

Oleh-oleh berupa makanan atau pakaian memang tetap dibutuhkan oleh penduduk desa, tetapi manfaat dari barang seperti itu hanya karikatif belaka. Ia tak akan mengubah nasib. Meski berpakaian baru dan wah, masyarakat desa yang miskin dan menganggur ya tetap seperti itu.

Di samping menjadi tani atau buruh tani biasanya masyarakat desa tetap memiliki ingon-ingon ternak, apakah ayam, bebek, kambing, atau sapi. Bagaimana jika oleh-oleh para pemudik itu dirupakan dalam bentuk uang dan dibelikan hewan ternak, yang jenisnya tergantung seberapa besar kemampuan oleh-oleh kita itu.

Kedua, jika oleh-oleh seperti disarankan di atas dianggap terlalu berat atau rawan dijual dan dirupakan keperluan konsumtif lagi, bagaimana kalau dibuat pola kerja sama bagi hasil. Artinya, pembelian ternak (atau mungkin bentuk lain sawah, tambah, kebun, tegalan) tidak murni dihibahkan melainkan di-sharing bagi hasil. Dalam konteks ini pemudik berperan sebagai investor dan masyarakat desa sebagai pengelolanya.

Dengan pola seperti ini ada tiga keuntungan, pertama, aset akan terkontrol, sebab tidak akan dijual karena bukan milik pengelola. Kedua, orang kota bisa membantu kampung halaman dengan memperluas lapangan pekerjaan orang-orang desa. Ketiga, orang kota sendiri memiliki alternatif investasi, sekaligus menjadikannya sebagai cara untuk merencanakan keuangan di masa depan, sebagaimana sering disarankan oleh para pakar perencanaan keuangan akhir-akhir ini.

Jadi, tidak ada salahnya para pemudik mengeluarkan biaya ekonomi tinggi jika memberi efek kesejahteraan pada kampung halamannya. Selamat mencoba! (*)

Mohammad Nurfatoni  artikel telah dimuat harian sore Surabaya Post, 30/9/08

Iklan

Seorang “Rasul” Diutus Allah Menemui Kami *)

Sekilas tentang Kelahiran Penerbit “Kanzun Books”

dan Buku “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya”

 

 

Pendapat bahwa kerasulan belum berakhir tidaklah salah seratus persen. Buktinya beberapa pekan lalu Allah masih mengirim seorang “utusan” bernama Awang Surya kepada CV Cakrawala, perusahaan tempat saya bekerja. Rasul secara bahasa memang bermakna utusan. Dan Mas Awang, demikian kami memanggil, adalah “utusan” Allah yang secara “khusus” diperintahkan untuk membangkitkan (kembali) komitmen kami membuat divisi penerbitan.

Naskah “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan” kiriman Mas Awang, yang semula membuat saya stres–karena saya terlanjur memberi semacam janji untuk menerbitkan, sementara belum ada keputusan resmi dari manajemen untuk menerbitkannya, apalagi pengalaman di penerbitan masih minim—justru akhirnya menjadikan Kanzun Books resmi disetujui sebagai divisi penerbitan dan “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan adalah monumen terpentingnya.

Plong rasanya hati saya pada saat buku tersebut kini telah siap naik cetak dan segera siap diluncurkan. Meski perjalanan masih panjang dan harap-harap cemas masih menggelayuti pikiran kami–apakah buku itu nanti diterima pasar buku–tetapi setidaknya terbayar sudah kebimbangan itu. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaaan saya saat Mas Awang, yang telah mengirim naskah beberapa saat sebelumnya, bertanya lewat SMS dan chat YM, “Mas, bagaimana nasib naskahku?”

Antara sungkan, cemas, dan ragu, aku menjawab, “Masih proses editing, Mas.” Padahal saat itu editing belum juga dengan sungguh-sungguh saya lakukan. Naskah baru saya pritnt dari email. Saya baca sekilas. Tapi karena SMS dan chat YM terus “memburu”, mau tak mau, akhirnya naskah itu saya edit juga; di kantor, juga di rumah.

Sampai proses editing lebih separuh saya lakukan, hati ini masih gundah gulana. Bisakah naskah tersebut menjadi buku dan beredar (laris) di pasar. Jika sekedar menjadikan buku (maksudnya mencetak), itu sih sudah menjadi kerjaan harian di kantor. Tapi menerbitkan? Bagaimana mendistribusikannya? Bagaimana menjualnya? Dan mengurus ISBN-nya?

Ah, rupanya “utusan” itu kembali datang menyapa. “Mas, apa yang bisa saya bantu?” sapa Mas Awang dari Jakarta. “ISBN Mas. Bisa uruskan dari Jakata?” jawabku penuh suka. “Tolong carikan juga kontak distributor!” Secepat kilat Mas Awang bergerak. Contoh perjanjian kerjasama distribusi buku  dari dua distributor langsung saya terima. Satu lagi forward email dari distributor Buku Kita saya terima dari Mas Awang, yang isinya minta dikirim contoh cover dan resensi bukunya.

Hari itu hatiku agak lega. Ada sedikit gambaran soal distribusi buku, sesuatu yang menjadi hambatan kami selama ini. Kami memang pernah menerbitkan dua buku sekitar sepuluh tahun silam dengan bendera Media Cakrawala. Dua buku kecil tulisan Hj. Irena Handono, masing-masing berjudul Studi Kritis atas Kenaikan Isa Al Masih dan Perayaan Natal 25 Desember, antara Dogma dan Toleransi. Kedua buku itu sempat kami cetak dua kali, sebelum akhirnya dipindah oleh penulisnya ke penerbit lain.

Dua buku itu laris manis. Hanya saja waktu itu kami hanya mengandalkan direct selling lewat pengajian atau seminar yang diisi oleh penulis. Beberapa puluh memang sempat diedarkan ke toko buku Sari Agung dan Gramedia Surabaya, tapi akhirnya tak terurus juga. Jadi, kami memang mengalami hambatan distribusi. Pengalaman pahit itu pula yang terjadi pada buku ketiga terbitan kami. Buku karya M. Hidayatullah  dengan judul Cara Mudah Membaca Kitab Kuning itu sampai kini masih menumpuk di kantor kami.

Memang, dulu sang promotor penulis berjanji bahwa buku tersebut akan dijadikan buku panduan di salah satu universitas Muhammadiyah di Jatim, sampai kami memuat pula kata pengantar dari sang rektor. Tapi janji tinggal janji. Sang promotor itu lupa janjinya. Ah, sudahlah. Itu masa lalu!

Pengalaman itu sempat membuat ragu Mas Aziz, begitu saya memanggil bos Abdul Aziz, ketika kami kemukakan niat untuk kembali menerbitkan buku. Tetapi adanya titik terang distributor “temuan” Mas Awang, membuka kembali harapan itu. Saya segera minta tolong Mas Didik Nurhadi, desainer grafis kami, membuat rancangan cover dan isi buku. Setelah itu saya minta Mas Harijaya Gunawan, salah seorang marketing cetak, membuat kalkulasi harga cetak dan simulasi harga end user buku tersebut.

Rancangan cover dan semacam resensi segera saya email ke Mas Awang, untuk diteruskan pada distributor “Buku Kita” yang tempo hari memintanya. Hatiku berbunga-bunga saat Mas Awang mengabarkan bahwa judul dan cover rancangan kami itu dinilai  bagus dan menarik oleh “Buku Kita”.

Maka saya segera bertindak lebih lanjut. Saya mendesak Mas Aziz mengadakan rapat untuk membahas dan memutuskan apakah naskah Mas Awang bisa diterbitkan. Meski keputusan ada pada Mas Aziz, tapi saya sedikit mengiba (atau tepatnya, mengancam), masak saya tak boleh melakukan eksperimen?

Rapat itu dihadiri para “petinggi” CV Cakrawala. Hadir direktur, kepala keuangan, kepala produksi, dan tiga marketing cetak, serta saya sendiri. Saya undang marketing cetak karena kalau penerbitan jalan, maka akan tercipta market internal cetak yang luar biasa. Demikian juga dengan kehadiran kepala produksi, sebab kehadiran penerbitan tentu semakin membuat kawan-kawan produksi semakin sibuk, sesuatu yang telah menjadi menu harian selama ini (baca, “Senin Hari Kedua”, www.pojokhati.wordpress.com). Kehadiran kepala keuangan juga memberi isyarat betapa perputaran modal atau kondisi cashflow perusahaan akan “terganggu”. Maklum, karena sudah lazim diketahui bahwa perputaran uang di bisnis penerbitann lumayan panjang rentangnya.

Tapi alhamdulillah, akhirnya rapat memutuskan untuk menyetujui lahirnya penerbit Kanzun Books dengan terbitan perdananya “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan”. Buku ini sekaligus menjadi barometer sejauh mana prospek Kanzun Books ke depan. Jika buku tersebut sukses, maka insya Allah segera diterbitkan buku-buku lainnya. Sebab di meja kami sedang menunggu buku lainnya, diantaranya Rahasia Kata-kata Kunci Al-Qur’an, Sebuah Tafsir Tematik karya Ust. Drs. Ahmad Hariadi, M.Psi dan Tuhan yang Terpenjara, Relasi Misterius Tuhan, Agama, Manusia, dan Alam, tulisan Mohammad Nurfatoni.

Rapat itu sendiri cukup istimewa karena diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh tiga ustadz sekaligus. Mereka adalah Ustadz Abdul Aziz, SE, bos kami yang kini sangat sibuk memberi pelatihan dan ceramah tentang shalat khusuk di berbagai pelosok Indonesia, sehingga jarang sekali berkantor di markas CV. Cakrawala. Juga ustadz M. Hidayatullah, yang sesungguhnya di kantor kami jabatan resminya adalah marketing, tapi karena di luar kantor adalah seorang ustadz, maka beliau pun punya tugas khusus memimpin doa setiap pagi sebelum aktivitas kantor dimulai. Doa terakhir dari saya, yang pura-pura menjadi ustadz, ha … ha ….

Mengapa Kanzun Books kami pilih sebagai merek dagang penerbitan kami? Tak lain dan tak bukan karena kami ingin bahwa buku-buku yang kami terbitkan akan menjadi khazanah, perbendaharaan, harta, atau simpanan yang mencerahkan dan bernilai “abadi”. Nama kanzun kami ambil dari bahasa Arab, mengutip dua hadits yang kami ketahui menggunakan kata itu. Yaitu hadits qudsi yang berbunyi kuntu kanzan makhfiyyan (Aku [Allah] adalah Khazanah Tersembunyi) dan hadis yang berbunyi al qonaaatu kanzun la yafna (istiqomah itu sebagai khazanah yang tak pernah lenyap). Tambahan books di belakangnya, yang terambil dari bahasa Inggris, dimaksudkan untuk meneguhkan bahwa nama itu bergerak di bidang perbukuan.

***

Saat tulisan ini saya buat, proses percetakan buku “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan” sedang berlangsung. Insya Allah menjelang Ramadhan 1429 sudah beredar di toko-toko buku ternama. Doa kami, semoga Allah “mengutus” “para rasul”, yakni komunitas pembaca, pecinta ilmu, untuk membeli dan membaca buku kami. Semoga dengan itu kami bisa menularkan kebahagiaan–sebagaimana konsep kebahagiaan yang tertulis dalam buku itu–kepada Anda. Semoga Allah memberi kesuksesan, kesejahteraan, dan keberkahan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita. Amien.

Pada kesempatan ini kami sampakan ucapan terima kasih kepada Mas Awang, yang bukan saja telah mengirimkan naskah sebagai penulis, melainkan ikut menjalankan sebagian tugas penerbit yaitu mengurus ISBN, mencari kontak distributor, mengerahkan nama-nama terkenal untuk memberi pengantar dan komentar buku tersebut. Lebih dari itu, Mas Awang telah memerankan tugas dengan baik menjadi “utusan” Allah untuk membangkitkan kami.

Mas Aziz, yang telah merestui Kanzun Books, dan sekaligus telah menyetujui pembelian laptop saya, yang lebih canggih dan lebih mahal daripada laptop beliau sendiri. Dengan laptop ini saya bisa menulis dan mengedit, juga “main-main” dengan internet. Mas Harijaya, yang telah jauh hari saya minta membantu membidani kelahiran Kanzun Books, dan mungkin akan menemani saya dalam penerbitan, juga Mas Udin dan Mas Dayat yang ikut survei ke toko buku. Terima kasih juga pada Bu Yani dan stafnya Mbak Kun, yang rela akan “terbebani” lebih banyak lagi tagihan kertas, plat, dan tinta.  Juga Pak Hasan dan kawan produksi dan ekspedisi yang tak bisa saya sebut satu persatu. Mungkin nanti beban Anda akan bertambah. Pada Mas Didik, terima kasih atas desain grafis yang nyaris sempurna.

Khusus kepada istri tercinta, Siti Rodhiyah, yang di tengah proses kehamilan anak kelima, sedikit terabaikan. Maaf dan terima kasih, karena telah sudi merelakan waktu bercengkrama menguap begitu saja akibat saya sita untuk melanjutkan tugas penerbitan di rumah. Juga pada anak-anakku, Azka, Aqil, dan Faza, yang juga terabaikan, sebab saat saya di rumah masih juga menghadap laptop. Pada anak keduaku Rosyad yang lama tidak saya jenguk di SMP Plus Ar-Rahmat Bojonegoro. Maaf ya!

Pada semuanya, saya ucapkan maaf dan terima kasih. Juga pada pembaca tulisan ini, yang sekaligus  calon pembaca buku-buku terbitan Kanzun Books. Semoga Anda semua mendapat berkah dan rahmah Allah. Amien.

Sidojangkung, 17 Agustus 2008

*) Tentu, yang saya maksud “rasul” di sini bukan dalam pengertian pembawa ajaran Allah, melainkan hanyalah seorang hamba biasa, yang digerakkan oleh Allah lewat amr-Nya untuk datang kepada kami.

 

Membaca “Ayat-ayat Cinta”

Sampai tulisan ini dibuat, novel berjudul “Ayat-ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy telah terjual di pasaran lebih dari 450.000 buku [Jawa Pos, 23/3/08]. Pada saat yang lain, film dengan judul yang sama hasil adopsi novel tersebut telah ditonton lebih dari 3.000.000 penonton film di bioskop. Sebuah rekor baru jumlah penonton film bioskop di Indonesia, yang sebelumnya dipegang oleh film bertema cinta remaja seperti “Eiffel I’m in Love” (2,7 juta penonton) dan “Ada Apa dengan Cinta” (2,5 juta penonton) [Harian Seputar Indonesia, 23/3/08]. (lebih…)