Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru

1. Puasa menurut Pak Muh (almarhum Muhammad Zuhri) adalah cara baru menangani pengelolaan semesta, setelah setahun cara-cara lama tak lagi ampuh, usang, atau lapuk.

2. Puasa berarti melakukan penjungkirbalikan (deformasi) pada semua sistem yang ada dalam tubuh, baik sistem metabolisme atau sistem psikologis.

3. Puasa menjungkirbalikkan semua keadaan. Kebiasaan makan sehari 3 kali diubah jadi 2 kali. Saat ingin makan malah dicegah. Saat malas makan malah disuruh (sahur).

4. Tubuh yang biasa disuplai kalori dari luar tiba-tiba terhenti saat sedang berpuasa. Energi keluar terus tapi kalori tidak masuk. (lebih…)

Iklan

Bersikap Produktif terhadap Provokatif Anti-Islam Film “Innocence of Muslims”

Tuilsan ini saya adaptasi dari artikel saya soal film “Finah” yang pernah dimuat harian Surabaya Post tahun 2008. Kasusnya sama.

Sebelumnya saya mohon maaf karena dengan menulis tema ini saya ikut membantu menjadikan film ”Innocense of Muslims” semakin terkenal. Setidaknya saya menjadi oramg yang yang kesekian kalinya menulis judul film ini dan membuat Anda pembaca tulisan ini menjadi pengejanya kesekian kalinya.

Tapi saya tidak akan membahas film itu, karena terbukti banyak pemainnya yang mengaku dikibuli. Artinya film itu jauh dari syarat sinematografi. Saya hanya akan membahas relasi antara film itu dengan reaksi umat Islam, yang bagaimana seharusnya!

Saya sangat yakin bahwa Nabi Muhammad SAW, Islam, atau al-Quran tidak akan pernah luntur sedikit pun kemuliaannya gara-gara film itu. Masih ingat salah satu tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai?

(lebih…)

Multimakna dan Multiefek Mudik

Siapa yang pergi, pasti rindu pulang
laksana burung yang terbang ribuan kilometer
dan kembali lagi ke sarangnya

maka pulang (mudik) adalah simbol kembali ke asal mula
sebab kepulangan selalu mengingatkan pada sangkan paran (asal usul kejadian)

dan inilah sambutan Tuhan bagi yang segera pulang
— kepulangan yang tak harus menunggu kematian (fisik):
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu

dengan jiwa yang puas lagi diridhaiNya …”

(“Pulang”, Mohammad Nurfatoni)

Hari-hari ini masyarakat perkotaan sedang disibukkan oleh tradisi tahunan yang selalu mengiringi perayaan hari raya Idul Fitri, yaitu tradisi mudik atau kegiatan pulang ke kampung halaman.

Berbagai imbauan pernah disampaikan untuk menghilangkan, setidaknya mengurangi, kegiatan mudik karena beberapa alasan. Secara ekonomi kegiatan ini dianggap sebagai bagian dari pemborosan keuangan, karena adanya beban biaya transportasi dan masifnya budaya konsumerisme. Dari sisi keamanan, kegiatan mudik akan melahirkan kerawanan pada kawasan lingkungan akibat ditinggal pulang para pemudik secara bersamaan.

Akan tetapi, seperti digambarkan oleh puisi di atas, mudik ternyata sarat dengan makna. Secara spiritual, mudik atau kepulangan adalah panggilan jiwa atau fitrah manusia. Oleh karena itu, betapa pun sulit dan membutuhkan biaya ekonomi tinggi, tradisi mudik tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat kita. Dari tahun ke tahun tradisi mudik tetap berjalan, bahkan cenderung meningkat.

Dinas Perhubungan Jatim memperkirakan, jumlah pemudik di Jatim tahun ini akan mencapai 7.174.755 orang pada Lebaran kali ini, atau naik dari jumlah pemudik pada tahun sebelumnya yang sekitar 6,7 juta orang. Penghitungan jumlah pemudik itu didasarkan pada total jumlah penumpang angkutan darat (bus dan KA), penyeberangan, angkutan laut dan udara. Untuk angkutan darat jumlah kenaikan penumpang diprediksi mencapai 4 persen. Kereta api 8 persen, penyeberangan (ASDP) 5 persen, angkutan laut 10 persen dan udara 8 persen.

Makna Spiritual Mudik

Seperti kita pahami, manusia lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa (kullu mauluudin yuuladu ala al-fitrah). Lahir tanpa dosa di sini bukan berarti sama dengan kertas putih kosong, sebab kelahiran manusia membawa potensi kebenaran atau berketuhanan. Itu terjadi setelah manusia pada suatu kesempatan awal penciptaan, pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka (seraya berkata): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi.” (Al-A’raf/7:172).

Dalam perjalanan hidupnya, manusia mungkin terjerembab dalam kubangan dosa dan kesalahan, bahkan pada tingkat ekstremnya melupakan Tuhan. Posisi seperti ini tentu bertolak-belakang dengan fitrah manusia. Nah, karena kasih sayang Tuhan pada manusia tak pernah terputus, maka Tuhan menciptakan sistem pengondisian agar manusia kembali pada Tuhannya. Sistem itu tak lain dan tak bukan adalah puasa Ramadhan, sebuah sistem layaknya kawah candradimuka yang akan memproses kembali manusia pada jati dirinya.

Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka dosa-dosanya akan diampuni.” Sebagai kawah candradimuka, maka puasa Ramadhan akan mengembleng manusia agar kembali pada jati dirinya sebagai manusia yang memancarkan fitrah atau kebenaran.Inilah yang dimaksud dengan Idul Fitri. Id berarti kembali dan fitr adalah asal muasal atau kesucian.

Jadi, manusia yang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan akan kembali sebagai makhuk berketuhanan. Inilah sebenarnya makna yang hendak dibawa oleh tradisi mudik.

Multimakna dan Multiefek

Secara spiritual, mudik mengingatkan akan asal usul manusia yang berasal dari Tuhan (sangkan paran). Ketika manusia sadar bahwa mereka berasal dari Tuhan maka manusia akan berusaha dekat dengan-Nya (taqarrub ilallah). Ketika manusia dekat dengan Tuhan, maka manusia akan berusaha “menyerap” citra Tuhan dalam dirinya. Inilah yang disebut insan kamil (manusia paripurna).

Secara psikologi, mudik akan menyadarkan manusia agar tidak pongah dan sombong ketika sudah sukses di kota. Sebab mudik akan mengingatkan keotentikan diri mereka. Bahwa kita dulu orang ndeso kesa keso yang menjunjung tinggi kejujuran, tepo sliro, dan gotong royong.

Maka, dengan segala kesederhanaan dan keasliannya, desa akan menjadi cermin bagi masyarakat kota untuk melepaskan segala topeng-topeng yang mungkin selama ini memenjarakan mereka dalam jeruji kepalsuan, yang mana kepalsuan itu seringkali menjerumuskan manusia dalam kerusakan.

Secara sosiologi, mudik mengingatkan manusia pada kampung halaman yang pernah melahirkan dan membesarkannya. Ingat pada kampung halaman ini penting agar kita tidak meninggalkan keluarga besar (extended family) yang masih ada di kampung halaman. Sebab dalam kehidupan urbannya, manusia kota biasanya hidup sebagai keluarga inti (nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Mudik sangat penting sebagai wahana untuk mengumpulkan kembali keluarga besar agar bersilaturahmi dengan mbah, buyut, paman, misanan (sepupu), keponakan, dan sanak kadang lainnya. Mudik adalah reuni besar di kampung halaman.

Dalam kehidupan kota yang bersifat individualistis, keluarga besar ini penting sebagai cermin sebuah kekompakan hidup bertetangga. Dengan mengambil semangat keluarga besar di kampung, maka sekembali ke kota kita diingatkan untuk membangun keluarga besar meskipun bukan lagi terdiri dari anggota keluarga, melainkan dari para tetangga yang berbeda latarbelakangnya.

Keluarga besar ini penting dibangun di kota karena akan membentuk hubungan yang saling tolong-menolong bagi keluarga inti yang jauh dari sanak keluarga masing-masing.

Tak kalah pentingnya, mudik juga memiliki multiefek pemerataan ekonomi. Hampir seluruh sektor ekonomi akan mendapat imbas dari tradisi mudik, apakah itu transportasi, keuangan, komunikasi, atau perdagangan. Tapi sayangnya, sektor-sektor itu masih dikuasai oleh ekonomi perkotaan dan orang-orang kaya.

Bagaimana agar efek ekonomi mudik itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat pedesaan, setidaknya kerabat di kampung halaman?Ada beberapa pemikiran yang perlu dicoba-praktikkan. Pertama, para pemudik hendaknya mengubah peruntukan oleh-oleh dari kota yang biasanya berupa barang konsumtif menjadi barang produktif.

Oleh-oleh berupa makanan atau pakaian memang tetap dibutuhkan oleh penduduk desa, tetapi manfaat dari barang seperti itu hanya karikatif belaka. Ia tak akan mengubah nasib. Meski berpakaian baru dan wah, masyarakat desa yang miskin dan menganggur ya tetap seperti itu.

Di samping menjadi tani atau buruh tani biasanya masyarakat desa tetap memiliki ingon-ingon ternak, apakah ayam, bebek, kambing, atau sapi. Bagaimana jika oleh-oleh para pemudik itu dirupakan dalam bentuk uang dan dibelikan hewan ternak, yang jenisnya tergantung seberapa besar kemampuan oleh-oleh kita itu.

Kedua, jika oleh-oleh seperti disarankan di atas dianggap terlalu berat atau rawan dijual dan dirupakan keperluan konsumtif lagi, bagaimana kalau dibuat pola kerja sama bagi hasil. Artinya, pembelian ternak (atau mungkin bentuk lain sawah, tambah, kebun, tegalan) tidak murni dihibahkan melainkan di-sharing bagi hasil. Dalam konteks ini pemudik berperan sebagai investor dan masyarakat desa sebagai pengelolanya.

Dengan pola seperti ini ada tiga keuntungan, pertama, aset akan terkontrol, sebab tidak akan dijual karena bukan milik pengelola. Kedua, orang kota bisa membantu kampung halaman dengan memperluas lapangan pekerjaan orang-orang desa. Ketiga, orang kota sendiri memiliki alternatif investasi, sekaligus menjadikannya sebagai cara untuk merencanakan keuangan di masa depan, sebagaimana sering disarankan oleh para pakar perencanaan keuangan akhir-akhir ini.

Jadi, tidak ada salahnya para pemudik mengeluarkan biaya ekonomi tinggi jika memberi efek kesejahteraan pada kampung halamannya. Selamat mencoba! (*)

Mohammad Nurfatoni  artikel telah dimuat harian sore Surabaya Post, 30/9/08

Pemimpin yang Tahan Banting

Sebuah Refleksi Isra Mikraj 1429 H

Peringatan Isra Mikraj kali ini sangat relevan bagi kita di tengah runtuhnya keteladan para pemimpin politik oleh berbagai skandal korupsi dan seks. Episode sejarah Isra Mikraj memberikan inspirasi keteladanan bagi pemimpin di tengah tekanan konflik dan pencapaian spiritualisme.

Dalam berbagai ulasan tentang Isra Mikraj, sangat jarang dikemukakan sisi kepemimpinan Nabi saw. Yang banyak diulas adalah sisi kontroversi, apakah Nabi saw melakukan Isra Mikraj dengan jasad dan ruhnya sekaligus, atau dengan ruhnya saja. Atau pembahasan Isra Mikraj hanya berkutat pada dimensi salat sebagai oleh-oleh Nabi saw dari perjalanan dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina lantas dilanjutkan perjalanan vertikal ke Sidrat al-Muntaha. Perjalanan semalam itu terjadi pada 27 Rajab 621 M.

Padahal, jika kita membaca sejarah lebih teliti, banyak sekali sisi kepemimpinan yang menyertai peristiwa itu. Tentu, jika kita berkenan untuk merangkai Isra Mikraj dengan peristiwa yang menyertainya, terutama peristiwa penting sebelumnya. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 2002), mencatat beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi saw sebelum perjalanan Isra Mikraj. (lebih…)

Grey Chicken dan Hedonisme Instan *)

Liputan Metropolis Jawa Pos berjudul “Jual Diri Mengejar Rumah” (18/5), cukup menggugah keprihatinan. Jika selama ini seks bebas ditengarai masuk ke dalam kehidupan pelajar metropolis, laporan tersebut semakin menampakkan wajah buram lainnya. Ternyata telah terjadi komersialisasi seks di kalangan pelajar. Jika di kalangan kampus telah lama dikenal istilah ayam kampus (campus chicken) untuk menyebut mahasiswi yang menjalani praktik protitusi, maka sekarang muncul istilah grey chicken untuk PSK pelajar. Istilah grey chicken sendiri (ayam abu-abu) merujuk pada seragam abu-abu yang menjadi ciri khas seragam pelajar tingkat SMA.

 

Hebatnya, nilai komersial grey chicken cukup fantastis, berkisar dari tarif terendah Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta, sesuai grade mereka. Tak heran jika salah seorang grey chicken bisa memperoleh “pendapatan” bersih Rp 1 juta sehari atau Rp 30 juta sebulan. Sebuah angka yang melampaui rata-rata gaji profesional metropolis.

Serbuan Materialisme

Menarik juga untuk mencermati motif grey chicken dalam menjalani profesinya itu. Selama ini, dunia pelacuran selalu identik dengan impitan hidup atau kesulitan ekonomi para pelakunya. Tetapi laporan tersebut justru menunjukkan hal lain. Ketertarikan mereka pada profesi grey chicken jelas bukan karena alasan ekonomi keluarga. Sebab, mereka berasal dari keluarga berkecukupan.

Tidak aneh jika ada orang yang menginginkan sebuah rumah atau mobil sendiri. Tapi, menjadi aneh jika hal itu sudah diimpikan oleh seorang pelajar SMA dengan cara menjual diri dan kehormatan. Padahal, tugas utama mereka adalah belajar sebaik mungkin. Fenomena itu menunjukkan bahwa motif grey chicken lebih pada mengejar gaya atau kesenangan hidup semata. Ironisnya, jalan yang ditempuhnya adalah dengan cara-cara menyimpang. Inilah yang oleh Veronica Suprapti (1997) disebut sebagai hedonisme instan yakni merasakan kenikmatan puncak dengan jalan pintas.

Salah satu pemicu tumbuh-kembangnya hedonisme instan remaja metropolis adalah paham materialisme, suatu pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah. Runyamnya, di era teknologi komunikasi seperti sekarang ini, paham tersebut semakin mendapat tempat di mata remaja metropolis. Trend dan gaya hidup serba wah selalu menjadi impian mereka.

Tiap detik, memori bawah sadar mereka dijejali film, sinetron, atau iklan produk-produk bermerek yang menawarkan gaya hidup serba wah. Handphone (HP), misalnya, kini dicitrakan bukan sekedar sebagai alat komunikasi, melainkan sudah sebagai icon dan gaya hidup. Mereka perlu HP yang modern, lengkap dengan fasilitas multimedia yang selalu up date: kamera, koneksi internet, dan musik. Gonta-ganti HP yang baru dan canggih adalah sebuah keharusan gaya hidup. Dan semua itu ditawarkan produsen tidak dengan harga murah. Dari mana semua gaya hidup mewah ini akan dibiayai jika tidak sanggup lagi didukung oleh orang tua (kaya)? Maka cara-cara instan kemungkinan yang akan ditempuhnya.

Bukan hanya produk yang dilesakkan pada impian remaja metropolis, cara hidup yang bebas nilai pun bisa diakses dari teknologi komunikasi setiap saat, yang pada akhirnya menjadi bagian bawah sadar remaja. Ketika impian bawah sadar itu menemukan momentumnya, sangat mungkin mereka tergoda untuk mempraktikannya.

Kegagalan Sistem Pendidikan

Harus diakui bahwa selama ini sistem pendidikan kita, khususnya pendidikan agama, hanya berputar-putar pada aspek kognitif. Akhlak atau moralitas hanya diajarkan sebagai sebuah wacana dan teori tanpa banyak menyentuh aspek afektif dan psikomotor. Bahkan tak jarang pendidikan kita minus keteladanan.

Proses pendidikan yang demikian biasanya hanya membuat anak didik cerdas otaknya (IQ), tatapi tidak cerdas hatinya (EQ dan SQ). Artinya moralitas hanya dipahami sebagai pengetahuan tetapi tidak pada kesadaran hidup.

Mungkin para remaja dan pelajar metropolis tidak ada yang menyangkal bahwa seks bebas atau melacurkan diri adalah perbuatan tercela. Tetapi, jika itu hanya melekat pada dirinya sebagai sebuah pengetahuan, bagaimana bisa mencegahnya dari melakukannya? Belum lagi jika mereka merasa mendapat pembenaran dari “teladan” yang diberikan oleh orang tua atau para tokoh masyarakat atas perbuataan yang serupa.

Menarik sebenarnya jika kita mengkaitkan hal itu dengan doa bersama yang banyak dilakukan para pelajar sebelum menghadapi Ujian Nasional (unas) beberapa waktu yang lalu. Dalam kegiatan itu, kita melihat adanya upaya pihak sekolah untuk menumbuhkan kesadaran spiritual siswa terhadap Tuhannya. Apa yang dapat kita tangkap? Ternyata dalam kondisi tertekan saat menghadapi kesulitan, para siswa bisa sangat religius. Mereka bisa sangat dekat dengan Tuhan.

Tapi dari sinilah muncul tantangan baru itu. Dapatkah kesadaran spiritual siswa itu terbangun tidak saja pada saat menghadapi unas, melainkan pada sepanjang perjalanan hidupnya? Sebab, tujuan utama pendidikan kita adalah menumbuhkembangkan generasi penerus bangsa, yang tidak saja cerdas dan kreatif, melainkan juga berbudi luhur.

Maka tugas sekolah, guru, dan elemen masyarakat lainnya yang peduli pada remaja dan pelajar metropolis adalah membangun kesadaran spiritual yang lebih bersifat “abadi”. Bahwa dekat dengan Tuhan itu tidak harus memilih situasi dan kondisi, melainkan sebuah citra diri yang terefleksi dalam keseharian. Di sinilah perlunya ditanamkan kesadaran selalu dalam pengawasan Tuhan (omnipresent). Bahwa Tuhan itu maakum ainama kuntum (bersama kamu di mana saja kamu berada).

Kesadaran seperti itu bisa terbentuk jika kita mampu mengintegrasikan seluruh materi pelajaran sebagai sebuah sikap hidup. Pemberian materi hukum grafitasi misalnya, tidak boleh berhenti pada hukum fisikanya saja, melainkan harus ditarik pada tahap spiritual, bahwa sebelum Isaac Newton menemukan hukum gravitasi, setiap benda akan jatuh ke bawah terbawa gravitasi bumi. Betul bahwa intuisi dan otak cerdas Newton berhasil merumuskan teori itu, tapi sesungguhnya siapa yang menciptakan hukum keteraturan alam itu? Dialah Tuhan.

Saya yakin, jika proses pendidikan diramu seperti itu, kesadaran spiritual pelajar akan lebih langgeng terbangun. Maka, masih beranikah mereka melacur jika merasa salalu dilihat Tuhan.(*)

 

MOHAMMAD NURFATONI
Alumnus IKIP Negeri Surabaya, pegiat Forum Studi Islam Surabaya

Artikel ini telah dimuat harian Jawa Pos Metropolis, Selasa 20/5/08
Bisa diklik di:

http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=813