Bisakah tanpa Maksiat Sepanjang Tahun?

Menjelang Ramadan 1429 H, Sepakat Tutup Hiburan Malam
 
Setiap (menjelang) Ramadan, wacana penutupan berbagai tempat hiburan malam kembali mencuat. Tahun ini Pemkot Surabaya kembali menginstruksikan penutupan tempat-tempat hiburan malam pada Ramadan. Kebijakan itu diambil untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama bulan suci tersebut.

 

Keputusan itu ditegaskan Wali Kota Bambang D.H. bersama jajaran muspida dengan menandatangani seruan bersama. Acara tersebut dihadiri jajaran kepolisian, DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para pejabat di lingkungan pemkot.

Melalui Perda No 2 Tahun 2008, Pemerintah Kota Surabaya kembali menginstruksikan penutupan tempat-tempat hiburan malam pada Ramadan dan malam Hari Raya Idul Fitri di seluruh wilayah Surabaya tanpa kecuali (Jawa Pos, 21 Agustus 2008).

Terhadap penutupan tempat hiburan malam saat Ramadan itu, selalu muncul pendapat yang pro dan kontra. Sepintas, alasan-alasan yang dikemukakan kedua kalangan tersebut sangat logis. Akan tetapi jika ditelaah lebih jauh, akan kita temukan beberapa kerancuan logika yang melandasi pendapat mereka.

Di antara sekian alasan yang pro terhadap penutupan itu, salah satunya adalah bahwa bulan suci Ramadan dan umat Islam yang berpuasa di dalamnya harus dihormati dengan jalan menghentikan segala bentuk perilaku maksiat.

Menarik menelaah seberapa jauh alasan tersebut bisa diterima. Memang, pada saat umat Islam menunaikan ibadah di bulan Ramadan, diperlukan suasana kondusif yang memungkinkan dijalankannya puasa dan ibadah lain secara khusyuk. Maka, segala gangguan, terutama yang berbau maksiat, sebisanya dihindari.

Masyarakat Steril?

Namun, ada kelemahan mendasar pada argumentasi itu. Sebab, seolah-olah perilaku kemaksiatan di luar Ramadan diperbolehkan, bahkan diberi ruang yang luas. Kita tentu setuju jika tempat-tempat kemaksiatan ditutup pada Ramadan. Tetapi, penutupan tersebut jangan didasarkan pada Ramadan­nya, melainkan bahwa segala bentuk kemaksiatan memang harus dihindari, tak peduli Ramadan atau bulan-bulan lain.

Sebab, sekali lagi, jika Ramadan dijadikan alasan penutupan hiburan malam, akan timbul kerancuan berpikir bahwa di luar Ramadan, kemaksiatan menjadi halal (argumentasi seperti ini sama dengan pernyataan, “Jangan berbohong saat sedang berpuasa.” Jadi, logika terbaliknya: di luar Ramadan boleh berbohong?).

Cara berpikir seperti itu sama saja dengan “memenjarakan” Tuhan, yaitu membatasi wilayah kekuasaan Tuhan hanya di waktu atau tempat sakral (suci) sehingga logika terbaliknya, Tuhan tidak berhak mengatur kita di waktu atau tempat profan (duniawi).

Dalam konteks ini, Ramadan sebagai bulan suci ternyata hanya kita jadikan sebagai “penjara” Tuhan. Dengan demikian, pada bulan itu, seolah-olah semua kemaksiatan tidak pantas dilakukan, tetapi “halal” di bulan lain. Sama seperti saat kita “mengantung” Tuhan hanya di pojok-pojok masjid atau sudut-sudut majelis taklim. Karena Tuhan ada di tempat-tempat tersebut, kita (seolah-olah) bersikap religius. Namun, setelah keluar dari tempat sakral itu, kita menjadi manusia permisif, kembali melakukan korupsi di kantor atau berselingkuh di hotel.

Selain itu, ada semacam sikap manja atas permintaan penutupan tempat maksiat pada Ramadan. Seolah-olah umat Islam tidak bisa beribadah dalam heterogenitas masyarakat. Kesannya, umat Islam adalah umat yang steril. Hanya bisa bertahan hidup dalam waktu atau tempat yang bebas dari “kuman” maksiat dan menggelepar dalam hegemoni budaya non-Islam. Di sinilah sebenarnya relevansi uji keimaman bagi seorang muslim. Mana yang lebih berkualitas, apakah keberhasilan menjalankan ibadah di tengah-tengah tantangan yang berat atau dalam situasi steril tanpa tantangan?

Kita sepatutnya berempati kepada umat Islam yang menjadi minoritas di negara-negara lain. Ternyata, mereka tetap khusyuk menjalankan ibadah, sekalipun berada di tengah hiruk-pikuk perilaku sekuler.

Kemaksiatan sebagai Keniscayaan Sejarah?

Sementara itu, kalangan yang kontra atas penutupan tempat-tempat maksiat mengajukan berbagai argumentasi yang kelihatan logis dan manusiawi. Akan tetapi, jika kita tinjau lebih jauh, semuanya tidak logis dan (justru) tidak manusiawi. Pertama, argumentasi bahwa pelacuran sudah ada sepanjang sejarah manusia. Dalam ilmu logika, cara berpikir itu disebut fallacy of retrospective determinism, yaitu kerancuan berpikir yang menjadikan sesuatu yang secara historis memang selalu ada; tidak bisa dihindari dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang (Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar, Jalaluddin Rakhmat, Rosdakarya, 1999).

Karena pelacuran dianggap ada sejak dulu, sia-sia saja usaha untuk memberantasnya. Karena itu, perlu dilokalisasi dan tidak perlu diusik-usik, meski Ramadan tiba. Jika cara berpikir seperti ini diikuti, memang tidak perlu ada usaha-usaha pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan, pencegahan peperangan, atau perpecahan di kalangan umat. Sebab, bukankah itu ada rujukan sejarahnya?

Kedua, argumentasi bahwa para pelacur atau pegawai (tepatnya pengusaha) tempat-tempat maksiat itu akan kesulitan mencari nafkah (apalagi menjelang Lebaran) jika pada Ramadan tempat “kerja” mereka ditutup.

Argumentasi itu kelihatannya manusiawi sekali. Tetapi, sesungguhnya justru menjerumuskan mereka dari sisi kemanusiaan. Sisi kemanusiaan mana yang membolehkan orang melakukan transaksi jual-beli diri (melacur)?

Dalam pandangan Islam, pelacuran adalah tindakan kriminal. Karena itu, pelanggarnya akan dikenai sanksi (pidana yang berat). Dalam konteks seperti itu, pelacuran hampir setara dengan tindak kriminal pembunuhan atau korupsi.

Jika para pembela pelacuran itu konsisten terhadap alasan “makan apa mereka jika tempat prostitusi ditutup” menjadi alasan kemanusiaan, seharusnya mereka juga membela para pencuri atau pembunuh (bayaran). Sebab, jika dilarang, mereka makan apa?

Bolehlah alasan ekonomi dikemukakan. Namun, pembelaan terhadap pelacuran atas dasar ekonomi (makan atau perut) terlalu mengada-ada dan justru menjadi pembenaran bagi para pelacur untuk terus melacur. Tidak tepat pelacur disebut wanita tunasusila (WTS) ataupun pekerja seks komersial (PSK). Sebab, melacur itu sendiri adalah perbuatan yang jauh dari nilai-nilai fitrah manusia yang berketuhanan dan pro kebenaran. Karena itu pula, melacur bukanlah hak asasi. Maka, agak aneh juga jika penutupan tempat maksiat tersebut menjadikan mereka takut tidak memperoleh bekal Lebaran, sementara Lebaran memiliki semangat kembali kepada kebenaran.

Pertanyaannya, apakah memang tidak ada pekerjaan lain, sekalipun yang tidak membutuhkan keterampilan, selain dengan cara melacurkan diri? Saya kira, jika ada kemauan keras dan tidak adanya dukungan, semacam legalisasi lokalisasi pelacuran oleh pemerintah atau “provokasi” dari organisasi nonpemerintah bahwa pelacuran itu sah dan merupakan hak asasi, masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan.

Terakhir, meskipun pemerintah kota sudah membuat keputusan untuk menutup tempat-tempat maksiat saat Ramadan, jangan terlalu berharap kebijakan itu mendapatkan simpati dari umat Islam yang mau berpikir jernih. (*)

Mohammad Nurfatoni, Aktivis Forum Studi Indonesia

Tulisan ini telah dimuat harian Jawa Pos, Ruang Publik Metropolis, Rabu  27 Agustus 2008

bis diklik di http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=20518

Iklan

Kita Memasuki Era Politik Selebriti?

Sukses Dede Yusuf dan Rano Karno merambah dunia politik, ternyata memberi inspirasi bagi kalangan selebriti lainnya. Saipul Jamil, penyanyi dangdut,  secara resmi menerima lamaran DPCPPP Serang, Banten untuk menjadi bakal calon wakil wali kota Serang mendampingi Ruhyadi Kirtam Sanjaya. Sementara Wanda Hamidah sedang bersiap-siap menjadi bakal calon wali kota dalam Pilkada Kota Tanggerang, Banten.

Selain itu kabar terbaru menyebutkan bahwa beberapa artis berikut ini siap bertarung, baik dalam pilkada maupun pemilu legislatif, di antaranya Primus Yustisio (calon independen Bupati Subang), Ikang Fauzi (caleg DPR dari PAN), Helmy Yahya (cawagub Sumsel), Tengku Firmansyah (caleg DPR dari PKB), Ayu Soraya (cawawali Tegal), Tantowi Yahya dan Nurul Arifin (caleg DPR Partai Golkar), Rieke Diah Pitaloka dan Dedi “Miing” Gumelar (PDIP). (lebih…)

Seorang “Rasul” Diutus Allah Menemui Kami *)

Sekilas tentang Kelahiran Penerbit “Kanzun Books”

dan Buku “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya”

 

 

Pendapat bahwa kerasulan belum berakhir tidaklah salah seratus persen. Buktinya beberapa pekan lalu Allah masih mengirim seorang “utusan” bernama Awang Surya kepada CV Cakrawala, perusahaan tempat saya bekerja. Rasul secara bahasa memang bermakna utusan. Dan Mas Awang, demikian kami memanggil, adalah “utusan” Allah yang secara “khusus” diperintahkan untuk membangkitkan (kembali) komitmen kami membuat divisi penerbitan.

Naskah “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan” kiriman Mas Awang, yang semula membuat saya stres–karena saya terlanjur memberi semacam janji untuk menerbitkan, sementara belum ada keputusan resmi dari manajemen untuk menerbitkannya, apalagi pengalaman di penerbitan masih minim—justru akhirnya menjadikan Kanzun Books resmi disetujui sebagai divisi penerbitan dan “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan adalah monumen terpentingnya.

Plong rasanya hati saya pada saat buku tersebut kini telah siap naik cetak dan segera siap diluncurkan. Meski perjalanan masih panjang dan harap-harap cemas masih menggelayuti pikiran kami–apakah buku itu nanti diterima pasar buku–tetapi setidaknya terbayar sudah kebimbangan itu. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaaan saya saat Mas Awang, yang telah mengirim naskah beberapa saat sebelumnya, bertanya lewat SMS dan chat YM, “Mas, bagaimana nasib naskahku?”

Antara sungkan, cemas, dan ragu, aku menjawab, “Masih proses editing, Mas.” Padahal saat itu editing belum juga dengan sungguh-sungguh saya lakukan. Naskah baru saya pritnt dari email. Saya baca sekilas. Tapi karena SMS dan chat YM terus “memburu”, mau tak mau, akhirnya naskah itu saya edit juga; di kantor, juga di rumah.

Sampai proses editing lebih separuh saya lakukan, hati ini masih gundah gulana. Bisakah naskah tersebut menjadi buku dan beredar (laris) di pasar. Jika sekedar menjadikan buku (maksudnya mencetak), itu sih sudah menjadi kerjaan harian di kantor. Tapi menerbitkan? Bagaimana mendistribusikannya? Bagaimana menjualnya? Dan mengurus ISBN-nya?

Ah, rupanya “utusan” itu kembali datang menyapa. “Mas, apa yang bisa saya bantu?” sapa Mas Awang dari Jakarta. “ISBN Mas. Bisa uruskan dari Jakata?” jawabku penuh suka. “Tolong carikan juga kontak distributor!” Secepat kilat Mas Awang bergerak. Contoh perjanjian kerjasama distribusi buku  dari dua distributor langsung saya terima. Satu lagi forward email dari distributor Buku Kita saya terima dari Mas Awang, yang isinya minta dikirim contoh cover dan resensi bukunya.

Hari itu hatiku agak lega. Ada sedikit gambaran soal distribusi buku, sesuatu yang menjadi hambatan kami selama ini. Kami memang pernah menerbitkan dua buku sekitar sepuluh tahun silam dengan bendera Media Cakrawala. Dua buku kecil tulisan Hj. Irena Handono, masing-masing berjudul Studi Kritis atas Kenaikan Isa Al Masih dan Perayaan Natal 25 Desember, antara Dogma dan Toleransi. Kedua buku itu sempat kami cetak dua kali, sebelum akhirnya dipindah oleh penulisnya ke penerbit lain.

Dua buku itu laris manis. Hanya saja waktu itu kami hanya mengandalkan direct selling lewat pengajian atau seminar yang diisi oleh penulis. Beberapa puluh memang sempat diedarkan ke toko buku Sari Agung dan Gramedia Surabaya, tapi akhirnya tak terurus juga. Jadi, kami memang mengalami hambatan distribusi. Pengalaman pahit itu pula yang terjadi pada buku ketiga terbitan kami. Buku karya M. Hidayatullah  dengan judul Cara Mudah Membaca Kitab Kuning itu sampai kini masih menumpuk di kantor kami.

Memang, dulu sang promotor penulis berjanji bahwa buku tersebut akan dijadikan buku panduan di salah satu universitas Muhammadiyah di Jatim, sampai kami memuat pula kata pengantar dari sang rektor. Tapi janji tinggal janji. Sang promotor itu lupa janjinya. Ah, sudahlah. Itu masa lalu!

Pengalaman itu sempat membuat ragu Mas Aziz, begitu saya memanggil bos Abdul Aziz, ketika kami kemukakan niat untuk kembali menerbitkan buku. Tetapi adanya titik terang distributor “temuan” Mas Awang, membuka kembali harapan itu. Saya segera minta tolong Mas Didik Nurhadi, desainer grafis kami, membuat rancangan cover dan isi buku. Setelah itu saya minta Mas Harijaya Gunawan, salah seorang marketing cetak, membuat kalkulasi harga cetak dan simulasi harga end user buku tersebut.

Rancangan cover dan semacam resensi segera saya email ke Mas Awang, untuk diteruskan pada distributor “Buku Kita” yang tempo hari memintanya. Hatiku berbunga-bunga saat Mas Awang mengabarkan bahwa judul dan cover rancangan kami itu dinilai  bagus dan menarik oleh “Buku Kita”.

Maka saya segera bertindak lebih lanjut. Saya mendesak Mas Aziz mengadakan rapat untuk membahas dan memutuskan apakah naskah Mas Awang bisa diterbitkan. Meski keputusan ada pada Mas Aziz, tapi saya sedikit mengiba (atau tepatnya, mengancam), masak saya tak boleh melakukan eksperimen?

Rapat itu dihadiri para “petinggi” CV Cakrawala. Hadir direktur, kepala keuangan, kepala produksi, dan tiga marketing cetak, serta saya sendiri. Saya undang marketing cetak karena kalau penerbitan jalan, maka akan tercipta market internal cetak yang luar biasa. Demikian juga dengan kehadiran kepala produksi, sebab kehadiran penerbitan tentu semakin membuat kawan-kawan produksi semakin sibuk, sesuatu yang telah menjadi menu harian selama ini (baca, “Senin Hari Kedua”, www.pojokhati.wordpress.com). Kehadiran kepala keuangan juga memberi isyarat betapa perputaran modal atau kondisi cashflow perusahaan akan “terganggu”. Maklum, karena sudah lazim diketahui bahwa perputaran uang di bisnis penerbitann lumayan panjang rentangnya.

Tapi alhamdulillah, akhirnya rapat memutuskan untuk menyetujui lahirnya penerbit Kanzun Books dengan terbitan perdananya “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan”. Buku ini sekaligus menjadi barometer sejauh mana prospek Kanzun Books ke depan. Jika buku tersebut sukses, maka insya Allah segera diterbitkan buku-buku lainnya. Sebab di meja kami sedang menunggu buku lainnya, diantaranya Rahasia Kata-kata Kunci Al-Qur’an, Sebuah Tafsir Tematik karya Ust. Drs. Ahmad Hariadi, M.Psi dan Tuhan yang Terpenjara, Relasi Misterius Tuhan, Agama, Manusia, dan Alam, tulisan Mohammad Nurfatoni.

Rapat itu sendiri cukup istimewa karena diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh tiga ustadz sekaligus. Mereka adalah Ustadz Abdul Aziz, SE, bos kami yang kini sangat sibuk memberi pelatihan dan ceramah tentang shalat khusuk di berbagai pelosok Indonesia, sehingga jarang sekali berkantor di markas CV. Cakrawala. Juga ustadz M. Hidayatullah, yang sesungguhnya di kantor kami jabatan resminya adalah marketing, tapi karena di luar kantor adalah seorang ustadz, maka beliau pun punya tugas khusus memimpin doa setiap pagi sebelum aktivitas kantor dimulai. Doa terakhir dari saya, yang pura-pura menjadi ustadz, ha … ha ….

Mengapa Kanzun Books kami pilih sebagai merek dagang penerbitan kami? Tak lain dan tak bukan karena kami ingin bahwa buku-buku yang kami terbitkan akan menjadi khazanah, perbendaharaan, harta, atau simpanan yang mencerahkan dan bernilai “abadi”. Nama kanzun kami ambil dari bahasa Arab, mengutip dua hadits yang kami ketahui menggunakan kata itu. Yaitu hadits qudsi yang berbunyi kuntu kanzan makhfiyyan (Aku [Allah] adalah Khazanah Tersembunyi) dan hadis yang berbunyi al qonaaatu kanzun la yafna (istiqomah itu sebagai khazanah yang tak pernah lenyap). Tambahan books di belakangnya, yang terambil dari bahasa Inggris, dimaksudkan untuk meneguhkan bahwa nama itu bergerak di bidang perbukuan.

***

Saat tulisan ini saya buat, proses percetakan buku “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan” sedang berlangsung. Insya Allah menjelang Ramadhan 1429 sudah beredar di toko-toko buku ternama. Doa kami, semoga Allah “mengutus” “para rasul”, yakni komunitas pembaca, pecinta ilmu, untuk membeli dan membaca buku kami. Semoga dengan itu kami bisa menularkan kebahagiaan–sebagaimana konsep kebahagiaan yang tertulis dalam buku itu–kepada Anda. Semoga Allah memberi kesuksesan, kesejahteraan, dan keberkahan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita. Amien.

Pada kesempatan ini kami sampakan ucapan terima kasih kepada Mas Awang, yang bukan saja telah mengirimkan naskah sebagai penulis, melainkan ikut menjalankan sebagian tugas penerbit yaitu mengurus ISBN, mencari kontak distributor, mengerahkan nama-nama terkenal untuk memberi pengantar dan komentar buku tersebut. Lebih dari itu, Mas Awang telah memerankan tugas dengan baik menjadi “utusan” Allah untuk membangkitkan kami.

Mas Aziz, yang telah merestui Kanzun Books, dan sekaligus telah menyetujui pembelian laptop saya, yang lebih canggih dan lebih mahal daripada laptop beliau sendiri. Dengan laptop ini saya bisa menulis dan mengedit, juga “main-main” dengan internet. Mas Harijaya, yang telah jauh hari saya minta membantu membidani kelahiran Kanzun Books, dan mungkin akan menemani saya dalam penerbitan, juga Mas Udin dan Mas Dayat yang ikut survei ke toko buku. Terima kasih juga pada Bu Yani dan stafnya Mbak Kun, yang rela akan “terbebani” lebih banyak lagi tagihan kertas, plat, dan tinta.  Juga Pak Hasan dan kawan produksi dan ekspedisi yang tak bisa saya sebut satu persatu. Mungkin nanti beban Anda akan bertambah. Pada Mas Didik, terima kasih atas desain grafis yang nyaris sempurna.

Khusus kepada istri tercinta, Siti Rodhiyah, yang di tengah proses kehamilan anak kelima, sedikit terabaikan. Maaf dan terima kasih, karena telah sudi merelakan waktu bercengkrama menguap begitu saja akibat saya sita untuk melanjutkan tugas penerbitan di rumah. Juga pada anak-anakku, Azka, Aqil, dan Faza, yang juga terabaikan, sebab saat saya di rumah masih juga menghadap laptop. Pada anak keduaku Rosyad yang lama tidak saya jenguk di SMP Plus Ar-Rahmat Bojonegoro. Maaf ya!

Pada semuanya, saya ucapkan maaf dan terima kasih. Juga pada pembaca tulisan ini, yang sekaligus  calon pembaca buku-buku terbitan Kanzun Books. Semoga Anda semua mendapat berkah dan rahmah Allah. Amien.

Sidojangkung, 17 Agustus 2008

*) Tentu, yang saya maksud “rasul” di sini bukan dalam pengertian pembawa ajaran Allah, melainkan hanyalah seorang hamba biasa, yang digerakkan oleh Allah lewat amr-Nya untuk datang kepada kami.