Pilkada dan Politik Kekuasaan

Sukses besar telah diraih oleh koalisi PAN dan PKS dalam Pilkada Jabar 2008 yang memenangkan pasangan Achmad Heryawan-Dede Yusuf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.

Selain sukses dalam koalisi bersama PKS dalam Pikada Jabar, PAN sebelumnya juga sukses saat PDK, PDIP dan PDS dalam menempatkan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’man menjadi gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan. PAN sendiri dalam pilkada 2005-2008, telah sukses menempatkan 74 jagonnya dalam posisi gubernur dan bupati/walikota, baik dengan koalisi maupun tanpa koalisi. Dari 74 angka kemenangan itu, 18 diantaranya diraih bersama koalisi Partai Golkar.

Apa yang menarik dari data di atas? Tergantung dari mana kita memandangnya. Bisa saja data itu dibaca sebagai keberhasilan sebuah partai politik dalam memenangkan sebuah pemilihan kepala daerah. Atau bisa juga dibaca sebagai kecerdikan dan kelincahan partai politik tertentu dalam menggalang koalisi. Berbagai partai politik dengan spektrum ideologis yang luas, ternyata bisa dijadikan mitra koalisi dalam memenangkan sebuah pilkada. (lebih…)

Iklan

Menumbuhkembangkan Kreativitas Anak

KEMAMPUAN manakah yang menjadi pilihan orangtu­ terhadap anaknya: pandai a­taukah kreatif? Agak membi­ngungkan barangkali perta­nyaan ini. Sebab adakah perbe­daan antara keduanya? Apa­kah anak pandai itu juga krea­tif, atau anak pandai tidak mesti kreatif? Sebaliknya, pan­daikah anak yang kreatif?

 

Jika kita tinjau secara men­dasar tentu ada perbedaan an­tara keduanya. Orang pandai, kalau boleh saya pakai rumu­san Guilford, berarti berpikir konvergen. Artinya kemampu­an berpikirnya terbatas pada pengetahuan yang sempat te­rekam dalam memori otaknya. Jika menghadapi persoalan yang belum pernah dihadapi, kemampuan berpikirnya men­jadi lamban.

Hal ini berbeda dengan o­rang kreatif, yang mampu ber­pikir secara divergen, yakni kemampuan memecahkan ma­salah dengan alternatif seba­nyak mungkin.

Karena itulah, berpikir kreatif, menurut Mac­Kinnon, melibatkan tiga sya­rat: pertama, adanya respon a­tau gagasan yang baru. Kedu­a, reapon atau gagasan terse­but harus mampu memecah­kan masalah secara realistis dan ketiga, kemampuan mem­pertahankan insight yang or­sinil, menilai, dan mengem­bangkannya sebaik mungkin.

Suasana Kondusif

Sampai di sini barangkali je­las pilihan kita: anak kreatif. Namun persoalannya adalah bagaimana menjadi anak kre­atif. Coleman dan Hammen setidaknya menemukan tiga faktor yang harus dipunyai o­rang sehingga menjadi kreatif. Pertama, kemampuan kog­nitif: termasuk kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru. Kedua, sikap terbuka terhadap stimuli internal ma­upun eksternal. Ketiga, sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada din sendiri.

Agar ketiga faktor yang harus melekat pada diri orang kreatif tersebut juga dimiliki pada anak, maka perlu ditum­buhkan situasi kondusif ke arah sana. Pertama, kita tingkatkan ke­mampuan kognitif anak. Cip­takan suasana, agar anak mampu melahirkan gagasan baru. Dalam hal ini permainan yang tidak mampu menimbul­kan lahirnya gagasan baru, se­macam permainan Ular Tangga, sedapat mungkin kita ja­uhkan.

 

Sebaliknya permainan se­macam menyusun aneka ben­tuk balok harus banyak kita berikan. Atau jika mungkin, kita hindarkan anak dari per­mainan yang sudah jadi dari pabrik. Alangkah baiknya jika kita biarkan anak mencipta­kan permainannya sendiri. Bagaimana dulu ketika per­mainan ‘instan’ belum banyak menjarah anak, mobil-mobilan harus dibuat sendiri dari kulit jeruk, atau bikin tembak-tem­bakan dari kayu.

Demikian pula cara pembe­lajaran anak. Jangan dicecoki dengan pengetahuan jadi se­macam pemberlakuan hafalan yang ketat. Sebaliknya, kita harus memberikan rangsa­ngan pemikiran dengan per­soalan yang menggelitik. Pertanyaan semacam yang termuat dalam buku: Menga­pa Begini, Mengapa Begitu, adalah salah satu contoh up­aya yang mampu merangsang anak berpikir kreatif.

Kedua, harus kita tumbuh­kan minat anak terhadap per­soalan yang agak luas. Jika a­nak terpaku pada satu perma­salahan maka memori-memo­ri yang diterima otaknya sa­ngat terbatas. Kalau sudah be­gitu, maka kemampuan berpi­kir global tidak dimiliki. Ke­mampuan menjelajah persoal­an tidak ada. Dalam kaitan ini pergaulan anak terhadap bu­ku, majalah, atau sumber pe­ngetahuan lain menjadi penting artinya, termasuk kepada orang-orang kreatif lainnya.

Ketiga, beri kebebasan anak untuk berekspresi: agar memi­liki sikap percaya. diri. Orangtua dalam hal ini kadang se­ring bersikap otoriter. Anak harus mengikuti apa yang di­inginkannya, kemauan anak adalah kemauan orangtua. Termasuk dalam hal ini adalah pilihan-pilihan yang harus diambil anak. Apa­kah harus intens dengan ilmu pengetahuan alam, atau ilmu pengetahuan sosial.

Padahal kita tahu dunia anak sangat berlainan dengan dunia orangtua. Apa yang ba­ik menurut orangtua, belum tentu harus dilakukan anak. Maka tahapan perkemban­gan anak harus juga menjadi perhatian. Dalam perspektif ini juga, kemauan orangtua untuk mengikutkan les privat anaknya secara berlebihan menjadi ancaman kebebasan berpikir kreatif. Kesadaran a­nak untuk belajar, bertindak, dan bekerja, itulah yang sebe­narnya harus ditumbuhkan dengan jalan menjadi motivcasi.

Mohammad Nurfa­toni

Penulis alumnus FP MIPA IKIP Surabaya, kini aktif di Pusat Studi Islam Surabaya.

(Dimuat Surabaya Post, 1/8/1993)

Pendidikan Bermutu yang Murah?

Seorang pembaca pernah mengeluhkan “nasib” pendidikan anaknya. Dalam cita ideal pembaca itu, sang anak seharusnya mengenyam pendidikan yang mampu membentuk kepribadian Muslim sekaligus mampu membekali ilmu pengetahuan yang berkualitas. Tapi apa daya? Institusi pendidikan yang diasumsikan mampu membekali dua hal itu, ibaratnya, jauh api dari panggang: tak terjangkau, mahal.

Mungkin itu pulalah “peta” yang berlaku pada masyarakat Muslim kita. Dalam perspektif ideal, pendidikan yang berbasis pada kurikulum nasional, seperti yang diterapkan oleh sekolah negeri atau sekolah umum, dianggap kurang mengakomodasi penanaman nilai-nilai agama. Bukan saja karena alokasi waktu pengajaran agama yang sangat minim, tetapi kurikulum pendidikan nasional juga dipandang membawa karakter sekularisme, yaitu pemisahan agama dari ilmu pengetahuan.

Sementara itu, institusi pendidikan yang dianggap mampu membekali anak didik dengan pemahaman agama dan.akhlak yang tinggi, seperti pesantren-pesantren tradisional, dianggap tidak “menjanjikan” bagi masa depan anak didik. Bukan saja karena pesantren sering mengesampingkan formalitas (seperti ijazah) yang menjadi standar dunia kerja formal, juga karena di pesantren memang tidak banyak diberikan pengajaran ilmu pengetahuan “umum”.

Jadi? Orang tua kemudian mengambil pilihan dengan risiko masing-masing. Menggunakan jasa sekolah negeri dengan risiko terabaikannya persoalan moral dan pemahaman dien, atau menitipkan di pesantren dengan risiko terjadinya hambatan di dunia kerja formal.

Dalam situasi yang dilematis itu, kemudian muncul ide-ide kreatif. Salah satunya adalah dengan lahirnya ide suplementasi pada kurikulum pendidikan nasional. Setidaknya ada dua bentuk suplementasi yang lahir di permukaan, pertama, suplementasi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan formal. Lahirlah apa yang disebut secara salah kaprah dengan pendidikan integral, yakni sistem memadukan antara kurikulum nasional dengan kurikulum pesantren. Disebut salah kaprah, karena sebenarnya perpaduan itu baru pada tingkat fisik, yakni adanya jam “pendidikan umum” dan “pendidikan agama” yang berimbang.

Bentuk seperti ini banyak diambil oleh lembaga pendidikan yang dikelolah secara otonom oleh ormas-ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Dalam perjalanannya, model seperti ini kemudian dikembangkan dengan melengkapi sarana dan prasarana secara berkualitas. Bahkan kelengkapan itu menyangkut pula waktu belajar yang dikenal dengan full day school (sekolah sepanjang hari), seperti yang dikembangkan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) AI Hikmah Surabaya. Tentu, semua kelengkapan itu meminta risiko: biaya sekolah menjadi mahal; dan ironisnya menyensor mayoritas anak-anak Muslim Indonesia.

Bentuk suplementasi yang kedua terlihat dari model pendidikan informal semacam TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an). Disebut suplementasi karena yang diajarkan di TPA adalah sebuah kelengkapan kurikulum dari sisi pesantren terhadap kurikulum sekuler di sekolah-sekolah umum. Berbeda dengan model suplementasi pertama yang diberikan secara “integral” (baca beriringan) di sekolah, suplementasi model TPA ini diberikan di luar sekolah. Yang menarik, model suplementasi kedua ini lebih mengakar karena dari segi biaya bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Meskipun dua model suplementasi ini sangat membantu menjaga keseimbangan antara dua kutub model pendidikan: umum dan pesantren, namun tetap saja belum mampu mengintegralkan hakekat kebersatuan ilmu, yang tidak terpisah-pisah dalam ilmu agama dan ilmu umum. Sebab, dalam perspektif Islam, ilmu itu disamping berfungsi sebagai pisau analisis dalam memecahkan persoalan kehidupan (baca membaca sunatullah pada alam semesta), juga harus mampu membuat penyandangnya lebih dekat pada Allah.

Memang, tetap harus dikembangkan bagaimana agar institusi-institusi pendidikan yang sudah mencoba mendekatkan dua kutub model pendidikan secara fisik itu mampu melakukan peleburan dalam satu hakekat ilmu: yaitu ilmu yang bersumber dari Tuhan, yang secara operasional mampu dijadikan sarana memperoleh kemakmuran manusia, dan selanjutnya mampu mendekatkan manusia pada Tuhan, Sang Penguasa Ilmu. Dengan catatan tebal, bahwa institusi yang berkiprah pada proyek berat ini tetap harus mampu mengimplementasikan adanya pendidikan bermutu sebagai hak setiap masyarakat, tidak hanya milik eksklusif para kaum berduit!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat majalah Eksis No. 4/Th 1/Juni 2002