Indonesia Tergadaikan?

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya (Ibrahim/14: 46)

 

“Indonesia Lapor ke Australia,” demikian head line harian Jawa Pos Rabu, (13/6). Berita ini diturunkan oleh Jawa Pos berkaitan dengan ramainya lagi penangkapan terhadap—apa yang oleh polisi dan media disebut—jaringan teroris di Indonesia, di antaranya (kelompok) Abu Dujana.

Australia secara eksplisit menyebut Indonesia berhasil menangkap pemegang kendali Jamaah Islamiyah (JI) itu. Informasi dari Negeri Kanguru tersebut disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer. Dia mengatakan bahwa pejabat yang berwenang di Indonesia telah memberi tahu dirinya tentang penangkapan Abu Dujana. “Saya bisa memastikan bahwa itulah yang dikatakan oleh seorang pejabat di Indonesia,” kata Downer kepada Sky News seperti dikutip surat kabar The Age.

Apa yang menarik dari berita di atas? Inilah berita telanjang bahwa perburuan terhadap apa yang disebut jaringan teroris oleh Densus 88 Antiteror Polri memiliki hubungan yang sangat erat dengan pihak luar negeri. Sudah lama masyarakat menganggap bahwa perburuan para aktivis Muslim Indonesia oleh Densus 88 adalah bagian dari proyek global dengan tema melawan terorisme, dengan sponsor utama AS (masuk di dalamnya Australia). Sejak peristiwa 11 September 2001, AS di bawah komando George W. Bush menggalang kekuatan dunia, tak terkecuali Indonesia, untuk memerangi terorisme. Dalam konteks ini kita melihat bahwa segala isu tentang terorisme tidak jauh dari AS.

Maka kita menempatkan posisi Densus 88 Antiteror Polri tidak lepas dari isu global terorisme itu. Secara simbolik kita bisa mengkaitkan posisi itu dengan”ide” Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abubakar Ba’asyir, yang mengusulkan nama Detasemen Khusus yang sebelumnya bernama Densus 88 menjadi Densus 5.000. “Nama 88 apa itu? Itu kan 88 orang Australia yang mati di Bali, kenapa tidak dibikin Densus 5.000, yakni 3.000 orang Islam mati di Ambon dan 2.000 mati di Poso,” katanya.

Tentu saja, buru-buru pernyataan Downer itu segera dibantah. Mabes Polri tidak memastikan apakah buron kasus terorisme Abu Dujana telah ditangkap seperti yang disampaikan Downer. Klarifikasi juga dilakukan oleh Duta Besar Australia di Jakarta Bill Farmer kepada Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Farmer didampingi Kepala Kepolisian Federal Australia Commissioner Mick Keelty. “Mereka meralat dengan mengatakan apa yang dikatakan menterinya tidak seperti di media. Menteri mereka hanya menyampaikan penghargaan untuk penangkapan teroris,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto kepada wartawan.

Tapi, apa ya sebodoh itu rakyat Indonesia? Bagaimana mungkin pernyataan seorang pejabat setingkat menteri sangat tidak akurat?

 

Mempertanyakan Nasionalisme Indonesia

Nafsu besar Indonesia menangkap rakyatnya sendiri dengan tuduhan terlibat jaringan terorisme tentu sangat disayangkan. Karena di samping sangat subjektif dan tidak menutup kemungkinan bagian dari sebuah rekayasa global dengan merek Islamiphobia, tuduhan dan penangkapan itu menunjukkan sempitnya rasa nasionalisme pemerintah Indonesia sendiri. Bahkan bukan dalam kasus isu terorisme saja, dalam kasus TKW misalnya, pemerintah sangat kurang respek melakukan pembelaan terhadap rakyatnya.

Mari kita bandingkan dengan sikap pemerintah Kamboja. Pada halaman Internasionalnya harian Kompas Selasa (12/6) menurunkan berita, “Hun Sen Marah Besar

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Senin (11/6), berang atas tuduhan Thailand bahwa kelompok Muslim Kamboja memiliki kaitan dengan kelompok regional Jemaah Islamiyah atau JI. “Tuduhan tak berdasar ini tidak bisa diterima,” tegasnya. Sebelumnya, Jenderal Purnawirawan Watanachai Chaimuanwong, penasihat senior bidang keamanan untuk Perdana Menteri Thailand Surayud Chulanont, mengatakan bahwa sebuah kelompok Muslim Kamboja yang memiliki jaringan ke JI telah masuk ke Thailand selatan.

Kepada seorang pejabat Kedutaan Besar Thailand yang hadir di acara itu, Hun Sen memintanya untuk mencatat pernyataannya dan menyampaikan kepada Pemerintah Thailand. “Saya sudah pada tahap tidak bisa bersikap toleran lagi atas tuduhan seperti itu,” katanya.

“Sangat menyedihkan (mendengar) Muslim Kamboja dituduh sebagai teroris. Tuduhan ini sangat menyeramkan. Kamboja bukanlah tempat berlindung (kelompok) yang akan melancarkan serangan ke Thailand,” ujar Hun Sen.

Jadi, ah … apakah Endonesia (karena kita susah bilang Indonesia…, meminjam situs endonesia.com) sudah tergadaikan? Wallahu A’lam!

 

Sidojangkung, 13 Juni 2007

Dimuat pada HANIF, 15 Juni 2007

Iklan

Nenek Moyang Nabi SAW

Membicarakan nenek moyang (nasab) Nabi Muhammad saw sangat penting, setidaknya karena dua hal, pertama, adanya klaim (nasab) sepihak yang merujuk pada Nabi Ibrahim as dari bangsa Yahudi. Misalnya bisa kita lihat dari klaim bangsa Yahudi bahwa yang “dikurbankan” oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishaq.

Kedua, untuk membuktikan adanya estafet risalah kenabian Muhammad saw dari nenek moyang nabi terdahulu, khususnya dari Nabi Ibrahim as. Seperti yang kita baca dari beberapa ayat Al Qur’an berikut ini, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw bersumber dari agama Ibrahim as.

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi atau seorang Nasrani, melainkan seorang hanif dan Muslim. (Ali Imran/3:67). Kemudian kami wahyukan kepada engkau (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim secara hanif.” (An Nahl/16:123). Katakanlah (olehmu, Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkan aku ke jalan yang lurus, yaitu agama yang tegak, agama Ibrahim yang hanif.” (Al An’am/6:161).

Bukti nyata dari runtutan agama dari Nabi Ibrahim as kepada Nabi Muhammad saw adalah pewarisan ibadah haji yang jejaknya ditorehkan oleh Ibrahim dan keluarganya (Hajar dan Ismail). Sofa-Marwah, kurban, zamzam, Mina, Muzdhalifah, Arafah adalah kata-kata kunci yang kini menjadi tradisi penting dalam haji.

Demikian pula, Ka’bah—rumah ibadah pertama kali yang didirikan untuk umat manusia (Ali Imran/3:96)—yang dibangun (kembali) oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as (Al Baqarah/2:127), kini menjadi sentral ibadah umat Islam. Bukan saja sebagai tempat thawaf dalam ibadah umrah dan haji, melainkan juga menjadi kiblat dalam ibadah shalat umat Islam sedunia.

Yang menarik, meskipun umat Islam (zaman Rasulullah saw), pernah diperintahkan oleh Allah untuk berkiblat pada Masjid Al Aqsha di Yerussalem—yang dibangun oleh Nabi Sulaiman as (8 abad setelah Nabi Ibrahim as), namun pada akhirnya Allah memperkenankan kembali umat Islam berkiblat ke Ka’bah di Mekkah. Perpindahan ini memiliki makna yang penting bahwa agama Islam merujuk pada agama Ibrahim as.

 

Dari Ibrahim as, Ismail as, Sampai Muhammad saw

Nurcholish Madjid (Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Paramadina, 1996), menyebutkan ada dua bangsa yang mengaku sebagai keturunan Nabi Ibrahim as, yaitu bangsa Yahudi dan bangsa Arab (suku Quraish). Bangsa Yahudi diturunkan dari garis Nabi Ishaq as, kemudian turun ke Nabi Ya’qub as yang bergelar Isra’il (artinya, Hamba Allah). Karena itu maka keturunan Nabi Ya’qub juga disebut Bani Isra’il (artinya, Anak-cucu Isra’il).

Ishaq adalah putera Ibrahim dari isterinya, Sarah. Tapi sebelum beranakkan Ishaq, Ibrahim telah beranakkan Isma’il dari istrinya yang lebih muda, Hajar, seorang yang dihadiahkan oleh Fir’aun. Dia dinamakan Isma’il, dari bahasa Ibrani, Ismael, yang artinya “Allah telah mendengar,” karena Ibrahim, memandangnya sebagai bukti bahwa Allah telah mendengar doa’nya untuk mempunyai keturunan.

Maka tidak heran Ibrahim sangat mencintai anaknya, Isma’il itu. Tetapi kecintaannya itu telah mengundang ketidaksenangan Sarah, isteri pertamanya yang kemudian meminta Ibrahim untuk membawa mereka, ibu dan anak itu, keluar dari rumah tangganya. Isma’il dan ibunya, Hajar dibawah Ibrahim ke Mekkah, dekat rumah Allah (Bayt Allah), sesuai dengan petunjuk Allah sendiri (Ali Imran/3:96). Di sanalah Isma’il dibesarkan, kemudian berumah tangga dengan wanita Arab suku Jurhum, yang kemudian menurunkan bangsa Arab Quraish, penduduk Makkah dan suku Arab yang paling terkemuka.

Dari suku Quraish itu kelak tampil Rasul Allah yang penghabisan, Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam.

Garis Keturunan Itu

Bagaimana nasab Nabi Muhammad saw sampai Nabi Ibrahim as? Para ahli sejarah sepakat bahwa Nabi Muhammad saw adalah keturunan Nabi Ibrahim as (lewat jalur Nabi Ismail as). Tetapi terjadi perselisihan berapakah nenek-nenek beliau di antara Ismail dengan Adnan. Kata setengahnya banyaknya 40 orang, setengahnya pula mengatakan 7 orang. Berkata Abu Abdullah Al-Hafidzh: “Tentang berapakah bilangan nenek-nenek moyang Rasulullah sejak dari Adnan menjelang Ismail dan Ibrahim itu tidaklah ada suatu riwayat yang muktamad.” (Hamka, Sejarah Umat Islam).

Tetapi sebagian ahli sejarah memberi data bagaimana sambungan antara Adnan sampai Nabi Ibrahim as, diantaranya: Adnan adalah Ibnu Ad bin Humaisi bin Salaman bin Aush bin Basuz bin Qumwal bin Ubay bin Awwan bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadlaf bin Thabikh bin Jahim bin Nasyid bin Makhi bin Iyadl bin Abqar bin Ubaid bin Ad Da’a bin Hamdan bin sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Arawa bin Iyadl bin Disyan bin Aishir bin Afnad bin Aiham bin Magshar bin Nahits bin Zarah bin Sama bin Maza bin Audlah bin Iram bin Qidar bin Ismail as bin Ibrahim as (Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad – Sirah Nabawi).

Bahkan silsilah itu oleh dilanjutkan sampai Adam as, meskipun ini oleh Syafiyyur Rahman dianggap bahwa di dalamnya terdapat perkara-perkara yang tidak benar. Adapun silsilah Nabi Ibrahim as sampai Adam as yang dimaksud adalah; Ibrahim bin Tarih  bin Nahur bin Asragh bin Arghu bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh as bin Lamik bin Mattusyalakh bin Akhnukh (Idris as) bin Yarid bin Mahlail bin Qayin bin Anus bin Syits bin Adam as. (Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I, Darul Falah,, Jakarta, 2004).

Jika silsilah dari Nabi Ibrahim as sampai Adnan terjadi perselisihan pendapat (apalagi dari Adam as sampai Ibrahim as!), maka ahli sejarah sepakat tentang nasab Nabi Muhammad saw sampai Adnan, dengan runtutan sebagai berikut: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (Syaibah) bin Hasyim (Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (darinya penisbatan kabilah Quraish) bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.

Jalur keturunan dari garis keturunan Ismail ini oleh para ahli sejarah digolongkan dalam kelompok Arab Musta’ribah, yang dinamakan juga Arab Adnaniyyah. Sedangkan dua golongan bangsa Arab lainnya adalah Arab Ba’idah, yaitu kaum Arab terdahulu yang rincian sejarah mereka tidak dapat diketahui secara sempurna seperti kaum Ad, Tsamud Thasam, Amlaq. Golongan lainnya adalah Arab Aribah, yaitu kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ya’rib bin Yasyjib bin Qahthan, yang disebut Arab Qathaniyyah, yang bertempat di Yaman dengan dua kabilah yang terkenal, yaitu Humair dan Kahlan. (Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad – Sirah Nabawi)

Keistimewaan Keluarga Nabi Muhammad saw.

Dengan mempelajari nasab Nabi Muhammad saw, maka kita kana menemukan beberapa keistimewaan:

  1. Jalur dari Nabi Ibrahim as. “Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail di antara anak Ibrahim, kemudian memilih Kinanah di antara anak keturunan Ismail, kemudian memilih Quraisy di antara Bani Kinanah, kemudian memilih Bani Hasyim di antara Bani Kinanah, kemudian memilih aku di antara Bani Hasyim.” (HR Muslim dan Tirmidzi)
  2. Keluarga Terhormat dan Terbaik. Dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, lalu menjadikan aku termasuk dari kelompok mereka yang terbaik. Kemudian, dipilihlah kabilah-kabilah, maka Dia menjadikan aku termasuk kabilah yang terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga, maka Dia menjadikan aku termasuk dari keluarga yang terbaik. Maka saya adalah orang yang terbaik di antara mereka, dalam hal pribadi dan keluarga.” (HR Tirmidzi).

Keistimewaan keluarga Nabi Muhammad saw, bisa dilihat dari sisi singgungan mereka dengan Mekkah (kota suci yang melegendaris) dan Ka’bah (bangunan suci yang juga melegendaris). Mulai dari menghidupkan dan meng-kota-kan Mekkah (dengan air zamzam yang terpancar dari tanah di atas kaki bayi Ismail, akan menjadi sumber kehidupan manusia), pembangunan (kembali) Ka’bah oleh Ibrahim dan Ismali berikut tradisi haji dan pemeliharaan ka’bah dari segala aspeknya secara turun temurun oleh nenek moyang Nabi Muhammad saw. Ini bisa kita lihat dari peran mereka masing-masing sebagai berikut:

  1. Qushayy bin Kilab (400 M). Dialah penggagas komunitas (ditandai dengan bangunan) di sekitar Ka’bah, termasuk tempat bernama Dar An-Nadwah, sebagai tempat bertemunya para pembesar-pembesar Mekkah.
  2. Pemegang jabatan-jabatan penting seputar Ka’bah: (penjaga pintu Ka’bah = juru kunci)
    • Siqayah (penyedia air tawar).
    • Rifada (pemberi makanan).
    • Nadwa (pemimpin rapat tiap tahun musim)
    • Liwa’ (penjaga panji-panji)
    • Qiyada (pemimpin pasukan perang)
  3. Abdul Manaf (430 M). Keluarga ini mendapat bagian untuk mengurus persoalan air dan makanan. Sedangkan keluarga Abdur Dar (saudaranya) bertugas memegang kunci, panji, dan memimpin rapat.
  4. Hasyim (464 M). Dialah pemegang urusan air dan makanan. Pengancur masyarakat untuk menafkahkan hartanya untuk memberi makanan pada peziarah ka’bah. Juga semakin meng-kota-kan Mekkah.
  5. Abdul Muttalib (495 m). Penerus urusan pembagian air dan makanan. Penggali (kembali) sumur Zamzam yang terpendam. Pada masa beliau, terjadi penyerangan Ka’bah oleh Abrahah. (Muhammad Haikal, Sejarah Hidup Muhammad)

 

Sidojangkung, 12 April 2005

 

Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, BEST FOSI Surabaya

Turki, Sekulerisme Yes Islam No?

Saat ini suhu udara di Turki cukup dingin, berkisar 11 derajat Celsius. Tapi tidak dengan suhu politik. Suasana panas sedang melanda perpolitikan Turki. Suhu politik meningkat di parlemen, juga menyebar ke luar. Dua kelompok yang berseberangan saling berdemonstrasi: kelompok pendukung sekularisme di satu pihak, dengan kelompok propartai Islam di pihak lain.

Krisis politik ini terjadi menyusul terpilihnya Abdullah Gul dari partai berbasis Islam, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada pemilihan presiden Turki yang diselenggarakan hari Jum’at 27 April 2007. Kubu sekuler menganggap sidang pemilihan presiden putaran pertama tidak sah karena tidak memenuhi kuorum, yakni 2/3 anggota parlemen atau 367 dari 550 orang.

Seperti diketahui, pemilihan presiden Turki dilakukan oleh parlemen dalam tiga putaran. Jika dalam pemilihan putaran pertama seorang capres mendapat 2/3 suara maka dia terpilih menjadi presiden. Jika tidak, pemilihan putaran kedua harus dilakukan. Syarat terpilihnya presiden sama dengan putaran pertama. Jika parlemen tidak berhasil memilih presiden pada putaran kedua, pemilihan dilanjutkan pada putaran ketiga. Capres bisa terpilih jika mendapatkan setidaknya 276 suara.

Tidak kuorum-nya sidang tidak lain karena pemboikotan yang dilakukan oleh kelompok oposisi prosekularisme. Kelompok ini sejak semula curiga bahwa calon presiden dari AKP akan memperjuangkan sistem politik berbasis Islam, menggeser sekularisme yang sudah menjadi ideologi Turki sejak dicanangkan oleh Jenderal Mustafa Kemal Atartuk tahun 1923. Sebenarnya calon presiden yang diajukan AKP adalah PM Recep Tayyib Erdogan. Karena mendapat pertentangan keras, maka akhirnya AKP mengusung Menlu Abdullah Gul. Namun yang terakhir inipun tetap dianggap akan membawa pengaruh Islam di Negara sekuler Turki.

Penentang tidak saja datang dari partai oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP), partai yang menggusung sekularisme, melainkan juga dari militer. Panglima tertinggi militer Turki menyampaikan pernyataan bahwa mereka bisa mengintervensi jika proses pemilu mengancam diabaikannya sekularisme Turki.

Atas tuntutan CHP, akhirnya hasil pemilihan presiden putaran pertama dibatalkan oleh Pengadilan Konstitusi (PK). Sebenarnya, jika pemilihan putaran pertama tidak oleh keputusan PK, bisa dilakukan pemilihan putaran kedua, jika pun tetap gagal mencapai kuorum karena tetap diboikot oleh CHP, maka dilakukan pemilihan putaran ketiga. Karena cukup mensyaratkan 276 suara, maka sebenarnya Abdullah Gul bisa terpilih mengingat jumlah anggota parlemen dari AKP adalah 353 orang. Tapi inilah akal-akalan yang dilakukan oleh pihak pro sekuler, bagaimana caranya bisa menggagalkan terpilihnya calon dari AKP.

Sebagai konsekuensi dari keputusan PK, maka diadakan pemilihan ulang putaran pertama pada Ahad, 6 Mei 2007. Pemilihan inipun akhirnya gagal juga mencapai kuorum, karena kembali diboikot pihak oposisi. Maka sebagai konsekuensinya, pemerintah harus mempercepat pemilu legislatif (22 Juli 2007), yang sedianya baru dilakukan pada Nopember 2007.

Turki, Romantisme Sekularisme Kemal Atartuk

Seolah mengulang sejarah, kegagalan Abdullah Gul dari partai berbasis Islam AKP mencapai kursi presiden saat ini, menandai kembali sengitnya pertarungan antara kubu sekuler dengan Islam. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, setidaknya terjadi tiga kali kudeta militer dengan alasan menyelamatkan sekularisme, yaitu pada tahun 1960, 1970, dan 1980. Sepuluh tahun yang lalu, krisis politik juga terjadi setelah Partai Kesejahteraan, partai Islam pertama, memenangi pemilu Turki. Krisis ini akhirnya juga “dimenangi” pihak sekuler, karena militer berhasil memaksa PM Necmettin Erbakan dari Parta Kesejahteraan untuk meletakkan jabatan. Dan militer pun akhirnya melarang Partai Kesejahteraan.

Data sejarah ini tentu menarik dikaji. Pertama, sekularisme yang dicanangkan oleh Jenderal Mustafa Kemal Atartuk sejak tahun 1923 dengan melakukan perubahan secara luas di Turki antara lain dengan memasyarakatkan pakaian ala Barat, mengadobsi alfabet dan kode hukum Barat, serta menghapus lembaga-lembaga Islam, masih punya pengaruh kuat di Turki, terutama karena mendapat “pengawalan” dari militer—di samping karena magnet kemajuan Barat (Uni Eropa) yang sangat kuat untuk menarik Turki sejajar dengan negara-negara Barat.

Maka, seperti diajarkan oleh Ataturk, agar bisa menjadi Barat, Turki harus meninggalkan identias lama (Islam) berganti baju dengan identitas baru (sekuler). Hal ini tidak boleh ditafsirkan dalam pengertian substansi (misalnya kemajuan ekonomi atau ilmu pengetahuan), melainkan juga pada hal-hal simbolis. Maka Turki menjadi sangat antisimbol Islam (misalnya, salah satu alasan kecurigaan akan adanya misi antisekuler dari Erdogan dan Gul, diantaranaya karena istri kedua tokoh ini memakai jilbab).

Kedua, meski masih memiliki pengaruh kuat di Turki, namun sekularisme Turki menuai kritik keras, karena sekularisme gaya Attartuk dianggap terlalu ekstrem dan mendiskriminasi mayoritas Muslim Turki. Dan yang lebih menarik, ternyata pelan-pelan tapi pasti, sekularisme Turki mulai ditinggalkan warga Muslim Turki. Gelombang protes dari kelompok yang propartai Islam di jalan-jalan yang memperlihatkan wanita-wanita berjilbab setidaknya menunjukkan bahwa telah berkembang dengab pesat kesadaran kembali pada Islam.

Meski capaian terbesarnya dibuldezor oleh militer dan kemudian dilarangnya partai Islam, Partai Kesejahteraan, pada 1997, tidak menyurutkan gelora kesadaran pada (politik) Islam. Capaian kursi mayoritas di parlemen oleh partai berbasis Islam, AKP (354 kursi dari 550) pada pemilu 2002 juga adalah indikator penting mulai ditinggalkannya sekularisme Turki. Maka, kelompok sekularis Turki tidak sepatutnya selalu mengenang romantisme masa-masa keemasan sekularisme di bawah pengaruh Atartuk.

Ketiga, selalu menjadi potret buram dari wajah demokrasi Barat, jika partai-partai Islam memenangkan pemilu selalu saja dianulir, dengan berbagai cara. Masih sangat segar dalam ingatan kita bagaimana AS dan Israel, juga Eropa meradang dan akhirnya mengintimidasi dan meneror kemenangan Hammas dalam pemilu di Palestina. Inilah yang kini sedang terjadi di Turki. Berbagai akal bulus dimainkan untuk menggagalkan kemenangan calon presiden dari kelompok Islam.

Meskipun begitu, PM Erdogan tetap yakin bahwa kelompok Islam akan tetap memenangkan pemilu dipercepat 22 Juli 2007. Optimisme ini bukan saja didasarkan akan terus bangkitnya kekuatan (politik) Islam, melainkan juga oleh capaian positif pemerintahan yang dipimpinnnya. Di bawah pemerintahan PM Erdogan, pemerintahan Turki sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan koalisi sekuler sebelumnya. Erdogan yang bekuasa sejak tahun 2002 mampu mengurangi inflasi dari 29,7 persen menjadi 9,65 persen. Dia juga berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga rata-rata 7 persen pada 2003-2007 dari pertumbuhan 2,5 persen sebelumnya.

Tapi, tentu saja, berpegang dari pengalaman sejarah, optimisme itu tetap saja menyelipkan pesimisme. Bahwa dalam sistem demokrasi Barat, sedemokratis apapun capaian yang dimenangkan oleh kelompok Islam, selalu saja mengundang campur tangan pihak seluler, baik lewat militer maupun cara-cara tidak demokratis lainnya.

Maka, tidakkah kita lebih mawas diri? Wallahu a’lam.

Sidojangkung – Menganti, 7 Mei 2007

Dimuat di majalah Muslim, Edisi 6, Mei 2007


Siapa Masyarakat Jahiliyah?

Masyarakat Arab, sebelum kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, dikenal dengan sebutan jahiliyah. Jika merujuk pada arti kata jahiliyah (yang berasal dari bahasa Arab dari kata jahala yang berarti bodoh), maka secara harfiyah bisa disimpulkan bahwa masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang bodoh.

Sebutan jahiliyah ini perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, sebab dari situlah akan terbangun pola kontruksi terhadap masyarakat Arab masa itu, yang di dalamnya adalah juga nenek moyang Nabi Muhammad SAW dan sekaligus cikal bakal masyarakat Islam. Jika masyarakat jahiliyah kita artikan sebagai masyarakat bodoh dalam pengertian primitif yang tak mengenal pengetahuan atau budaya; tentu sulit dipertanggungjawabkan, karena berdasarkan data sejarah, masyarakat Arab waktu itu juga telah memiliki nilai-nilai peradaban—sesederhana pun peradaban itu.

M. Quraish Shihab dalam Mukjizat Al Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaaan Ghaib (Mizan, 1999) menyebut beberapa pengetahuan yang dimiliki masyarakat Arab, diantaranya dalam bidang:

  1. Astronomi, tetapi terbatas pada penggunaan bintang untuk petunjuk jalan, atau mengetahui jenis musim.
  2. Meteorologi mereka gunakan untuk mengetahui cuaca dan turunnya hujan.
  3. Sedikit tentang sejarah umat sekitarnya.
  4. Pengobatan berdasarkan pengalaman.
  5. Perdukunan dan semacamnya.
  6. Bahasa dan Sastra (sering diadakan musabaqah [perlombaan] dalam menyusun syair atau petuah dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di Ka’bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat atau membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya. Dengan syair mereka mengangkat reputasi satu kaum atau seseorang dan juga sebaliknya dapat menjatuhkannya).

Sementara itu Prof. Dr. Hamka (Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional PTE LTD Singapura, 2002) mencirikan masyarakat Arab (Utara) dengan beberapa ciri:

  1. Bahasa. Bahasa banyak bercampur dengan bahasa negeri lain yang bergaul dengan mereka, terutama ketika Quraisy menjadi penjaga Mekkah. Banyak kabilah yang berdatangan berziarah ke Mekkah tiap-tiap tahun. Juga karena keperluan perniagaan, banyak orang-orang Quraisy berniaga ke luar negeri, ke Yaman, Iraq, Habsyi, Hauraan, Parsi, Hindustan. Dalam pergumulan itu terjadi penambahan perbendaharaan bahasa sehingga menjadikan bahasa Arab kaya raya.
  2. Pepatah dan Petitih. Bangsa Arab banyak sekali mempunyai amsal dan perumpamaan. Amsal dan perumpamaan itu lekas tersiar di dalam kalangan orang banyak, karena pendek, jitu, dan mudah menghafalnya.
  3. Syair.Dengan syair itulah mereka akan dapat melepaskan senak yang menggelora dari dalam jiwa raga, terutama dalam perjuangan dan pertempuran. Ahli syair mendapatkan kedudukan tertinggi di dalam kabilahnya.
  4. Ahli Pidato. Ahli pidato ini mulai mendapat perhatian ketika ahli syair sudah mulai mengharap upah dari karyanya. Ahli pidato diperlukan untuk membangkitkan semangat (perang). Berbeda dengan syair yang menggunakan bahasa yang pelik, ahli pidato cukup menggunakan kata-kata biasa, tetapi dapat menumpahkan segenap yang terasa dalam hati.
  5. Ilmu Keturunan. Di antara sekian banyak bangsa-bangsa, maka bangsa Arab itulah suatu bangsa yang sangat mementingkan menghafal pohon keturunan dari mana nenek, dari mana asal, pecahan dari siapa, keturunan siapa dan ke mana pula turun si fulan, sehingga dengan menyebutkan nama kabilah saja, sudah mudah yang lain mengetahui di keturunan ke berapa bertemu sejarah nasab mereka. Mereka perlu benar mengetahui dan memelihara itu, sebaba mereka kerap kali berperang untuk merapatkan perhubungan di antara yang seketuruanan di dalam menghadapi yang lain. Tingkat keturunan itu mereka bagi enam. Sya’ab, Kabilah, Imarah, bathn, fakhidz, dan fusailah.
  6. Cerita Pusaka (Dongeng). Bangsa Arab kuat sekali menghafal cerita pusaka nenek moyang terutama yang berhubungan dengan kisah perjuangan kaum mereka dengan kaum lain, atau kabilah dengan kabilah lain.
  7. Tenung dan Ramal.
  8. Ilmu Bintang. Bangsa Arab mengerti juga tentang keadaan bintang, meskipun sekedar untuk mengetahui musim korma berbuah atau untuk mengetahui bilamana mereka patut berangkat ke Syam atau ke Tha’if.
  9. Berkuda dan Memanah. Bangsa Arab pun terhitung satu bangsa yang tahu tuah dan celaka kuda, pandai pula memperhatikan bentuk badan dan belangnya. Mereka juga terhitung bangsa yang terpandai dalam urusan panah-memanah, karena bukan saja hidup mereka adalah memanah burung dan binatang, tetapi panah itu juga merupakan alat peperangan yang terpenting. Mereka juga pandai mempermainkan tombak dan pedang.

Meskipun memiliki pengetahuan pada beberapa bidang, namun sesungguhnya ciri lain yang melekat pada masyarakat Arab adalah masyarakat ummiyyin (jamak dari ummiy dari kata umm yang berarti ibu; jadi masyarakat ummiy berarti masyarakat yang keadaannya sama dengan keadaaan saat dia dilahirkan oleh ibu—tidak bisa baca tulis).

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Kami umat yang ummiy, kami tidak pandai menulis, tidak juga pandai berhitung. Bulan, begini, begini, dan begini.” (Beliau menggunakan jari-jari kedua tangannya untuk mengisyaratkan angka dua puluh sembilan atau tiga puluh hari). [HR. Muslim dan An Nasa’ai]

Kemampuan baca tulis sangat minim. Jumlah yang bisa baca tulis sangat terbatas. Oleh karena itu mereka mengandalkan hafalan, yang pada gilirannya menjadi tolok ukur kecerdasan dan kemampuan ilmiah seseorang.

Masyarakat Arab waktu itu juga dikenal tidak mahir berhitung. Bahkan bahasa Arab memperkenalkan apa yang dinamai wawu tsamaniyah, yaitu huruf wawu yang digandengkan dengan angka delapan), karena angka yang sempurna bagi mereka adalah tujuh sehingga bila menghitung dari satu sampai tujuh, mereka menyebutnya secara berurut, tetapi ketika sampai ke angka delapan mereka menambahkan wawu. Karena itu angka tujuh bukan saja berarti angka di atas enam dan di bawah delapan, melainkan juga berarti banyak.

Dengan demikian apakah karena minimnya kemampuan baca-tulis-hitung masyarakat Arab yang menyebabkan mereka disebut jahiliyah? Tentu tidak, karena Nabi Muhammad SAW sendiri termasuk yang tidak bisa baca-tulis.

Jahiliyah dan Perlakuan pada Wanita

Lantas, apa yang dimaksud masyarakat jahiliyah? Dalam Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah (Robbani Pres, 1998), Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfuy menjelaskan kondisi sosial masyarakat Arab yang disebut dengan jahiliyyah, diantaranya yang bisa dilihat dari hubungan antara laki-laki dengan wanita di kalangan masyarakat biasa. Dalam hal perkawinan, misalnya, dikenal 4 macam, yaitu:

  1. Seorang lelaki meminang (calon istri) kepada walinya, kemudian memberinya mahar dan menikahinya (pernikahan lazimnya sekarang).
  2. Perkawinan istibdha’ (mencari bibit unggul), yaitu apabila seorang istri sudah bersih dari haidnya, sang suami berkata kepadanya, “Pergilah kepada fulan dan mintalah bersetubuh dengannya.” Maka, sang suami menjauhinya dan tidak menyetubuhinya selama belum nyata kehamilannya dari hasil persetubuhan dengan orang tersebut. Setelah nyata kehamilannya, sang suami baru menggaulinya bila menginginkannya. Hal tersebut dilakukan karena keinginannya memiliki keturunan anak yang pandai dan berani.
  3. Sekelompok orang berjumlah kurang dari sepuluh mendatangi seorang wanita, semuanya menyetubuhinya. Apabila sudah hamil dan melahirkan anaknya, wanita tersebut mendatangi mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menolak sehingga mereka berkumpul di tempat wanita tersebut. Kemudian wanita tersebut berkata kepada mereka, “Kalian sudah mengetahui perbuatan yang telah kalian lakukan. Saya telah melahirkan seorang anak. Anak ini adalah anakmu wahai fulan (sambil menyebutkan nama salah seorang dari mereka yang dicintai).” Kemudian anak tersebut dinisbatkan kepadanya.
  4. Orang banyak berkumpul lalu mendatangi seorang wanita pelacur yang tidak pernah menolak orang yang datang kepadanya. Para pelacur itu meletakkan bendera di depan pintunya sebagai tanda bahwa siapapun yang menginginkannya boleh memasukinya. Setelah pelacur tersebut hamil dan melahirkan, mereka berkumpul di tempatnya dan mereka mengundang Qafah (orang yang bisa nengetahui persamaan anatara anak dan bapak lewat tanda-tanda yang tersembunyi). Kemudia sang Qafah tersebut menisbatkan anak pelacur tersebut kepada orang yang dia lihat (memiliki tanda persamaan dengan anak tersebut), dan orang tersebut menganggapnya sebagai anaknya, tidak boleh menolak.

Selain empat macam perkawinan di atas, ada bentuk-bentuk lain hubungan laki-laki dengan wanita yang termasuk jahiliyah misalnya dalam peperangan antarkabilah, yang menang menawan para istri dari kabilah yang kalah, dan menghalalkan kehormatannya. Sedangkan anak-anak para wanita tersebut akan menanggung aib selama hidupnya.

Dalam hal poligami, mereka melakukan tanpa batas; misalnya menawini dua wanita yang bersaudara; mengawini istri bapak mereka setelah ditalak atau ditinggal mati. Ada di antara suku Arab yang suka membunuh anak perempuannya sendiri karena malu, atau karena anak itu tidak menarik hatinya. Ada pula yang membunuh karena takut miskin.

Namun begitu, di kalangan bangsawan Arab, hubungan laki-laki dengan wanita (istri) sudah berada pada tingkat kemajuan. Seorang istri memiliki kebebasan berpikir dan berbicara dalam porsi yang cukup besar. Seorang istri dihormati dan dilindungi, dan apabila kehormatan diganggu, pedanglah yang berbicara dan darah pun tumpah.

Perlakuan buruk terhadap wanita; ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Arab melainkan juga justru sudah menjadi tradisi bangsa-bangsa yang memiliki “peradaban” besar. Di kalangan masyarakat Yunani, yang dikenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, wanita di kalangan elit ditempatkan (disekap) dalam istana-istana.

Sementara di kalangan bawah lebih menyedihkan lagi. Mereka diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga sepenuhnya berada di bawah kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Pada puncak peradaban Yunani, wanita diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual yang bebas tidak dianggap melanggar kesopanan; tempat-tempat pelacuran menjadi pusat-pusat kegiatan politik dan sastra/seni. Patung-patung wanita telanjang di negara-negara Barat adalah bukti atau sisa pandangan ini.

Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang ayah. Kekuasaan itu mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh. Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Pada zaman kaisar Constantine terjadi perubahan yaitu dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi wanita, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui oleh keluarga (suami dan istri).

Peradaban Hindu dan Cina tidak lebih baik dari peradaban-peradaban Yunani dan Romawi. Hak hidup seorang wanita yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya; istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Ini baru berakhir pada abad ke-17 M. Wanita pada masyarakat Hindu ketika itu sering dijadikan sesajen bagi apa yang mereka namakan dewa-dewa. Petuah sejarah kuno mereka mengatakan bahwa “Racun, ular, dan api tidak lebih jahat daripada wanita”. Sementara dalam petuah Cina kuno diajarkan “Anda boleh mendengar pembicaraan wanita tetapi sama sekali jangan mempercayai kebenarannya”.

Dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu. Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menanggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah yang menyebabkan adam terusir dari surga.

Dalam pandangan sementara pemuka/pengamat Nasrani ditemukan bahwa wanita adalah senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 M diselenggarakan konsili yang memperbincangkan apakah wanita mempunyai ruh atau tidak, yang akhirnya dirumuskan kesimpulan bahwa wanita tidak mempunyai ruh suci. Bahkan pada pada abad ke-6 M diselenggarakan suatu pertemuan untuk membahas apakah wanita itu manusia atau bukan manusia. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan semata-mata untuk melayani laki-laki. (M. Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an – Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, 2001)

Menjadi sangat menarik untuk ditelah adalah, jika karena tata pergaulan laki-laki dan wanita yang bebas pada masyarakat Arab yang dijadikan alas an untuk memberi cap mereka masyarakat jahiliyah, maka cap apakah yang pantas diberikan pada masyarakat non Arab yang bahkan dalam beberapa hal lebih buruk perilakunya?

Masyarakat Pengembara

Salah satu ciri masyarakat Arab adalah masyarakat pengembara. Hidupnya tidak pernah menetap (nomaden), berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cara hidup yang demikian ini meniscayakan mereka untuk hidup berkelompok (kabilah) berdasarkan pertalian darah atau keluarga. Pada kabilah itu kita akan menemukan prinsip-prinsip penting, diantaranya.

  1. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Keharusan survival, baik dari ancaman alam maupun lawan.

  2. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Tidak ada aturan yang mengingat mereka, kecuali asas kebebasan dan persamaan antara anggota-anggota kabilah atau kabilah-kabilah lain.

  3. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Menjaga kehormatan dan harga diri (muru’ah), tolong menolong, dan melindungi atas anggota kabilah dari ketidakadilan atau perlakuan buruk lainnya, sehingga mendorong munculnya prinsip lainnya, yaitu:

  4. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Perang, yang di dalamnya juga terkandung sikap sensitive dan pemberani.

(baca Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Litera AntarNusa, 2002; juga Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi – Sebuah Biografi Kritis, Risalah Gusti, 2004).

Dalam perspektif seperti di atas, maka (suka) perang tidak bisa begitu saja diartikan sebagai sikap kaum barbar, yang suka menyerang dengan logika hukum rimba, “Siapa yang kuat dialah yang menang”. Justru dari situ nampak bahwa perang adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan hidup dan menjaga harga diri. Maka, jahiliyah tidak berarti prinsip suka perang.

Sifat-sifat lain yang melekat pada masyarakat Jazirah Arab, adalah:

  1. Dermawan. Contoh-contoh dari sifat kedermawanan ini adalah sanggup menanggung denda yang cukup besar untuk mencegah tumpahnya darah dan hilangnya nyawa manusia.
  2. Menghormati Tamu. Apabila seseorang kedatangan tamu dalam situasi dingin yang mencekam dan lapar, sementara dia tidak memiliki harta selain onta yang menjadi bekal hidupnya dan keluarganya, maka onta tersebut akan disembelih untuk tamunya tersebut.
  3. Tepat janji, karena janji adalah hutang yang harus dipegang.
  4. Kuat tekat. Apabila bertekad melakukan sesuatu yang dipandang mengandung kemuliaan dan kebanggaan, mereka tidak dapat dipalingkan oleh suatu apapun.
  5. Santun, tekun, dan hatihati. Meskipun sifat ini terdominasi oleh sifat pemberani.
  6. Bersahaja ala kehidupan Badui dan tidak ternodai oleh noda-noda dan tipu daya peradaban (kemewahan, hidup stabil). Dampak dari sifat ini adalah jujur, amanah, jauh dari penipuan dan kecurangan.

(baca Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfuy, Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah, Robbani Pres, 1998)

“Agama” Masyarakat Arab

Menurut Prof Dr. Hamka, masyarakat Arab (Utara) memeluk macam-macam agama dan kepercayaan:

  1. <!–[if !supportLists]–>Ada yang berpegang pada agama Nabi Ibrahim. Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua, yang tetap memegang apa yang diterimanya dari Nabi Ibrahim itu dan tidak diubah-ubahnya dan yang memberi beberapa tambahan.
  2. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Penyembah berhala. Penyembah berhala ini juga terbagi menjadi tiga, yaitu
    • <!–[if !supportLists]–>Yang mengakui adanya Tuhan Yang Mahas Esa, tetapi dalam penyembahan mereka menggunakan berhala sebagai perantara.
    • <!–[if !supportLists]–>Menyembah berhala karena punya pendirian bahwa berhala itu tidak berubah dengan ka’bah, sama-sama dijadikan sebagai kiblat di dalam menyembah Allah Ta’ala.
    • <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–> Mereka yang berkata bahwa dalam tiap-tiap berhala itu ada syaitan, yang mengatur baik buruk nasib manusia. Jadi yang disembah itu syaitan, bukan berhalanya.

  3. Peyembah matahari. Mereka berkeyakinan bahwa matahari itu sebangsa malaikat. Adapun bulan dan bintang-bintang semuanya meminta cahaya darinya. Buruk dan baik nasib alam ini tergantung kepada belas kasihan matahari. Karena itulah matahari perlu disembah, dibesarkan, dan dimuliakan.
  4. Penyembah bulan. Dia disembah karena mengatur alam sebelah bawah.
  5. Dahriyin. Mereka yang tidak mengakui ada yang menjadikan alam dan tidak mengakui akan datangnya hari kiamat.
  6. Sabiah. Mereka yang menggantungkan kepercayaannya kepada perjalanan bintang dan falak, berkeyakinan bahwasanya segala sesuatu itu, geraknya dan diamnya, berjalan dan berhentinya, semua itu bertali dan berkait dengan bintang-bintang.
  7. Penyembah malaikat, karena dianggap anaka perempuan Tuhan.
  8. Zindiq.
  9. Penyembah api.
  10. Pemeluk Yahudi. Berkembang di Hejaz, terutama di Khaibar dan di antara bani Quraizah, bani Nadhir, dan bani Qainuqa’ di Medinah.
  11. Pemeluk Nasrani. Masuk dari negeri Rumawi dibawa oleh anggota pemerintahan kerajaan Ghassaan yang melawat ke sana karena berniaga. Agama ini berkembang lewat dua firkah, yaitu Nasturiah di Hirah dan Ya’qubiyah di Syam.

Jadi, apa kesimpulan tentang masyarakat jahiliyyah?

Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada masyarakat bodoh dalam pengertian tiadanya pengetahuan dan peradaban, melainkan pada nilai-nilai yang jauh dari kebenaran (fitrah, Islam). [baca Al Maidah/5:50; Al Fath/48:26]

  • Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada kurun waktu tertentu, melainkan suatu kondisi masyarakat (bandingkan perilaku sosial masyarakat Arab pra Islam dengan masyarakat modern, kini) [baca Al Ahzab/33:33]
  • Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada masyarakat tertentu (Arab, misalnya) tetapi juga bisa pada masyarakat lain (bandingkan, misalnya, perilaku sosial dalam hubungan laki-laki dan wanita antara masyarakat Arab, Romawi, Yunanai, India, atau Cina!)
  • Dalam pengetahuan dan peradaban, masyarakat Arab tidak bisa disebut jahiliyyah (bodoh) dalam pengertian barbar dan primitif. Justru banyak perilaku dan pengetahuan positif yang dihasilkan mereka, yang kemudian dipelihara oleh Islam, misalnya dalam penghormatan tamu, kedermawanan, tepat janji, bersahaja.
  • Yang dimaksud masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam adalah keseluruhan masyarakat (tidak hanya Arab), yang menjauhi nilai-nilai fitrah, yang sudah dibawa oleh para Rasul pembawa risalah tauhid.
  • Penyempitan makna jahiliyah hanya pada masyarakat Arab pra Islam akan menimbulkan bias bahwa agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu lahir dari nenek moyang bodoh, yang jauh dari nilai-nilai.

Sidojangkung, 4 April 2005

Disampaikan pada Kuliah Sirah Nabawi, BEST – FOSI Surabaya

Pilihan Hidup

Sebuah tulisan—lebih tepatnya peringatan—tertempel cukup mencolok di pintu masuk tempat praktek seorang dokter, di tepi jalan raya desa Boteng, Menganti, Gresik. Saya lihat peringatan itu tertempel juga di kamar periksa.

Isi peringatan itu cukup sederhana, hanya terdiri dari dua kalimat yang tersusun dalam dua baris. Baris pertama berbunyi, “Tidak menerima permintaan surat ijin sakit dalam kondisi sehat” dan baris kedua tertulis, “Tidak menerima permintaan kuitansi yang tidak sesuai dengan biaya periksa”

Surprise saya dibuatnya. Padahal sebenarnya kalimat itu biasa-biasa saja. Sesuatu yang wajar, lumrah kata orang Jawa. Lantas apa yang membuat saya surprise? Tentu bukan kalimat itu sendiri, melainkan apa di balik kalimat itu!

Ada sesuatu yang menghentak di balik kalimat itu. Sebab kalimat itu sama dengan menyodorkan sejumlah kenyataan, pertama, selama ini banyak orang yang tidak sakit tapi mendapat status “sakit” karena meminta status “sakit” pada dokter. Kedua, selama ini banyak kuitansi yang nilainya tidak sama (baca lebih tinggi) dari nilai aslinya. Ketiga, berarti ada juga dokter yang mau memberi status “sakit” dan menggelembungkan nilai kuitansi(?).

Maka, surprise bagi saya bisa berarti juga bahwa masih ada dokter yang menjaga kejujuran dan integritasnya, meski terkesan terlalu disiplin (baca kaku), padahal hanya berkaitan dengan masalah-masalah “kecil” dan orang-orang kecil!

Tapi bagi saya, dokter tersebut telah ikut membangun sebuah peradaban, karena dia mempraktekkan prinsip jujur dalam kehidupan. Kalau tidak sakit, mengapa harus berpura-pura sakit! Kalau biaya cuma Rp. 20.000 untuk apa ditulis Rp. 35.000!

Mungkin tidak banyak orang yang bisa setegas dokter itu, karena perilaku seperti itu bisa membawa risiko, setidaknya kehilangan peluang mendapat pasien lebih banyak; yang berarti juga mengurangi pendapatannya.

Pilih Mana?

Tapi itulah pilihan hidup. Sukses atau kaya dengan mengorbankan nilai? Atau hidup sederhana dengan memegang prinsip? Atau sebenarnya ada pilihan ketiga, sukses tapi tetap dalam prinsip hidup?

Terlalu banyak contoh bagaimana etika dan prinsip hidup telah kita korbankan, demi kelayakan financial. Seorang teknisi AC sebuah perusahaan dikirim untuk merawat rutin AC sebuah kantor. Dibersihkannya AC itu dari debu. Tapi giliran mengisi freon, sang teknisi AC menghadap dan berucap, “Pak, isi freonnya pakai perusahaan atau punya saya pribadi. Kalau pribadi bisa lebih murah.”

Seorang salesman (penjual, kadang salah kaprah disebut marketing) sebuah perusahaan percetakan tidak memasukkan semua pesanan cetak ke perusahaan tempat dia bernaung, sebagiannya dikerjakan sendiri.

Seorang pegawai yang bertugas melakukan pemesanan barang “menitipkan” tambahan sejumlah nilai rupiah pada harga barang yang awalnya telah disepakati sebelumnya.

Seorang pengawas memberi tahu jawaban atas soal ujian pada seorang siswa. Atau seorang siswa mencontek jawaban ketika sedang ujian.

Ah, terlalu banyak contoh yang seperti itu. Semoga masih banyak teknisi AC yang jujur dan punya integritas untuk membesarkan perusahaan tempat ia bernaung, tanpa harus mengotori dengan potong kompas untuk memperkaya diri.

Semoga masih banyak salesman yang juga tidak memotong kompas pesanan ke kantong sendiri. Semoga juga masih masih banyak bagian pemesanan yang tetap bertahan pada harga barang yang efisien tanpa harus mengambil keuntungan dari itu. Semoga masih banyak guru dan pelajar yang jujur. Dan saterusnya … dan seterusnya.

Sebab Islam mengajarkan sesuatu itu agar bernilai barakah. Apa artinya jika kita punya banyak duit namun tidak barakah karena duit itu kita peroleh dengan melanggar etika kerja? Apa artinya nilai ujian bagus jika itu hasil kebohongan? Cepat atau lambat efek dari ketidakbarakahan duit atau nilai itu akan menghantam kita.

Sementara yang barakah akan bernilai langgeng dan menentramkan. Maka pilihan hidup mestinya harus kita arahkan ke sana, meskipun ada yang harus dikorbankan. Tapi apalah arti mengorbankan materi jika pilihannya adalah yang bersifat spiritual! Semoga.

Sidojangkung, 28 Juni 2007

Dimuat di HANIF, 29 Juni 2007