Kurban, Jumpa Tuhan di Keramaian


“Kurban”,  mengutip M. Quraish Shihab, berasal dari bahasa Al Qur’an qurban, terdiri dari kata qurb yang berarti ‘dekat’ dengan imbuhan an yang mengandung arti ‘kesempurnaan’, sehingga ‘qurban’ yang diindonesiakan dengan ‘kurban’ berarti ‘kedekatan yang sempurna’.  Secara syar’i—sebagaimana tuntutan Rasulullah SAW—kurban adalah penyembelihan hewan ternak (domba, sapi, atau unta) sebagai salah satu rangkaian perayaan Idul Adha (Hari Raya Haji). Secara teologis, kurban adalah penapakan atas jejak tauhid lewat kisah “pengurbanan” Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim; sebuah kisah yang menunjukkan betapa mereka sanggup mempertaruhkan apa saja, demi kepatuhan mereka pada Tuhan.

Dengan memahami tiga unsur yang terkandung dalam makan kurban di atas (bahasa, syar’i, dan teologi), maka setidaknya ada tiga pemahaman penting yang tidak boleh dilepaskan dari ibadah kurban. Pertama, meskipun secara material mengandung sejumlah manfaat (dagingnya bisa dibagikan dan dikonsumsi untuk fakir miskin), tetapi sesungguhnya penyembelihan hewan kurban lebih bersifat simbolis. Kedua, sebagai simbol, tentu saja, penyembelihan hewan kurban itu membawa pesan penting (esensi), sebagaimana yang terkandung dalam bahasa dan sejarah teologis yang melandasinya. Esensi yang dimaksud adalah kurban sebagai salah satu cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Tuhan. Ketiga, agar bisa mendekatkan diri kepada Tuhan, maka segala keegoan (baca: hawa nafsu) yang merasuki pribadi manusia harus diruntuhkan, dengan simbolisasinya: pengucuran darah dan penyebaran daging hewan kurban kepada khalayak miskin.

Kurban untuk Siapa?

Dalam berbagai kepercayaan atau agama di luar Islam, dikenal adanya tradisi persembahan (offerings), diantaranya berupa penyembelihan hewan, bahkan manusia. Upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk persembahan material berupa darah dan daging kepada tuhan yang menjadi penguasa alam (pantai, laut, kawah, gunung, hutan, tanah). Dengan persembahan ini diharapkan tuhan tidak marah dan sebaliknya selalu memberi berkah.

Pandangan yang keliru tentang Tuhan inilah yang hendak dirombak oleh ibadah kurban. Dengan didasari oleh firman “Tidak sampai kepada Allah daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaanmu …” (Al Hajj/22:37), penyembelihan hewan kurban tidak dimaksudkan sebagai persembahan darah dan daging kepada-Nya, tetapi hanya sebagai alat uji sejauhmana tingkat ketaqwaan pelaku kurban itu. Nah, bentuk konkret dari pelurusan itu bisa dilihat dari praktik distribusi daging kurban, “ … lalu makanlah sebagian dari dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian lainnya) orang fakir yang sengsara.” (Al Hajj/22:28).

Jadi, dalam ibadah kurban, tidak ada sekerat daging pun yang terbuang mubadzir, dengan dalih untuk tuhan. Tuhan tidak butuh daging. Tuhan tidak butuh makan. Sebab dia berbeda dengan makhluknya (Asy Syura/42:11).

Dengan demikian, bisa disebut jika ibadah kurban adalah sebuah penolakan atas segala bentuk mitologi Tuhan, yaitu pemitosan Tuhan menjadi sesuatu yang berbeda sama sekali dengan “realitas” asasinya. Dalam kaitan ini praktik mitologi Tuhan yang dimaksud adalah menganggap Tuhan sama dengan manusia, yang membutuhkan (persembahan) material.

Dengan menolak mitologi Tuhan, maka ibadah kurban sekaligus mengajarkan bentuk penyembahan Tuhan yang benar. Dengan mengatakan, “… tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah taqwamu…,” Tuhan ingin menunjukkan betapa kurban itu harus merefleksikan nilai spiritual terbaik seseorang (taqwa). Dalam Islam, nilai ketaqwaan dibangun lewat keikhlasan, yaitu sikap memuarakan seluruh aktivitas demi dan untuk Allah semata. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah kepada Allah Tuhan semesta alam.” (Al An’am/6:162).

Ibadah kurban mengajarkan keikhlasan karena di samping merelakan “melepas” seekor hewan, kurban adalah penelusuran jejak ikhlas yang dasar-dasarnya telah diletakkan dengan sangat kokoh oleh sejarah teologis pengurbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Mereka menyambut perintah terberat sekalipun dari-Nya (menyembelih dan disembelih), demi taat atas perintah Allah (Ash Shaffat/37: 100-107).

Menyembelih Tuhan Palsu

Kalimat syahadat “laa ilaha illaallah” (tiada tuhan kecuali Allah) adalah verbalisasi sikap tauhid seseorang. Sikap tauhid menghendaki agar seseorang menolak tuhan-tuhan (palsu) sembari hanya mengakui Tuhan “asli” yang satu (Allah).

Meskipun kalimat syahadat tersebut kerapkali diucapkan, tetapi tidak jarang manusia melawan ucapannya itu sendiri. Artinya, di samping menyembah Tuhan, manusia juga menuhankan sesuatu yang bukan Tuhan sebagai tuhannya. Di antara “sesuatu bukan Tuhan” yang sering dipertuhankan manusia adalah hawa nafsu (Al Furqon/25:43 dan Al Jatsiyah/45:23). Dalam pengertian yang sederhana, penuhanan hawa nafsu adalah penurutan secara membabi buta terhadap segala keinginan bendawi manusia sehingga Tuhan dinomerduakan, dipinggirkan, dan disisihkan.

Dalam konteks sebagai simbol yang beresensikan tauhid, maka pengucuran darah hewan kurban pada dasarnya adalah penggelontoran tuhan-tuhan palsu dari kepribadian manusia. Kurban adalah penyembelihan terhadap kesewenangan, keangkuhan, keserakahan, kerakusan, kezaliman, kebiadaban, kekurangajaran, atau kebinalan yang mewujud menjadi tuhan palsu pada diri manusia. Sebab, selama tuhan-tuhan palsu itu tidak “disembelih”, maka selama itu pula manusia tidak bisa dekat dengan Tuhannya. Bagaimana bisa dekat, jika manusia memiliki kepribadian ganda: di satu sisi merasa membutuhkan Tuhan; tetapi di sisi lain justru ia berkehendak menjadi tuhan.

Dekat Tuhan di Keramaian

Dengan maknanya yang mendekatkan diri kepada Tuhan, ibadah kurban menjadi salah satu tolok ukur penting, bahwa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak selamanya harus ditempuh dengan jalan sunyi. Kurban mengajarkan bahwa pendekatan diri kepada Tuhan justru ditempuh dengan pendekatan diri kepada sesama manusia, khususnya mereka yang serba kekuarangan. Pesan seperti ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Tidak termasuk orang yang beriman kepadaku, seseorang yang bisa tidur nyenyak dalam keadaan kenyang, sedangkan ia tahu bahwa tetangganya berbaring dalam keadaan lapar.” (HR Al Bazar).

Islam mengajarkan, jika ingin mendapatkan nikmat maka hendaklah nikmat itu disebut-sebut (disebarkan kepada orang lain) [Adh Dhuha/93:11]. Dalam kaitan ini pula kurban adalah salah satu bentuk penyebaran nikmat itu. “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (Al Kautsar/108:1-3).

Dengan demikian, ibadah kurban mengajarkan bahwa untuk bisa dekat dengan Tuhan, tidak cukup dengan menempuh jalan spiritual, sebab ibadah kurban bukan sekedar ritus spiritual seseorang; bukan hanya cara untuk memperolah kepuasan batin; bukan juga kesempatan bagi orang kaya untuk memamerkan kesalehan dengan harta yang dimiliki. Kurban adalah jalan keseimbangan antara nilai spiritual (ketaatan dan keikhlasan kepada Allah) dan jalan sosial (berbagi nikmat dengan yang lain).

Jalan sosial itu harus ditempuh di antara nilai-nilai spiritual. Allah mengecam orang-orang yang tidak menjaga keseimbangan jalan itu. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberikan makan orang-orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Al Ma’un/107:1-7).

Kurban, bukan Korban

Jika kurban adalah sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, maka korban adalah buah dari sikap manusia yang sok Tuhan. Ketika manusia merasa paling berkuasa dengan kedudukan dan jabatan, sebisa mungkin mereka akan menimbulkan korban. Maka kita bisa melihat banyak sekali korban pembangunan (baca: penggusuran). Ketika manusia dengan harta-kapitalnya merasa paling berkuasa, maka kita lihat korban-korban rente berjatuhan. Dengan sistem ribawi yang dibangunnya, yang punya modal semakin kaya, sementara yang miskin semakin terpuruk. Begitulah seterusnya. Tak heran jika di sekitar kita selalu berjatuhan korban. Ada korban (rekayasa) politik; korban kebebasan (baca: kebablasan) pers; korban pelecehan seksual; korban hegemoni Amerika Serikat; korban pemilu; dan seterusnya.

Kurban sebenarnya bukan sekedar sedekah berupa seekor domba kepada fakir miskin. Kurban bukan pula ajang pesta makan daging. Kurban bukan simbol pengorbanan atas yang tak berdaya—atas nama pembangunan, sekalipun. Tetapi kurban adalah simbol perjuangan mengangkat para korban; yaitu mereka yang tertindas, dan terdzalimi; yang terdesak oleh roda pembangungan dan terpinggirkan oleh hegemoni kekuasaan.

Kurban adalah simbol penyelamatan korban-korban dari tuhan-tuhan palsu; yang bisa jadi berwujud “aku”: egoku, nafsuku, kekuasaanku, jabatanku, kekayaanku, kepintaranku, koranku, majalahku, kelompokku, golonganku, jamaahku, partaiku, bangsaku, negaraku, ….!

Mohammad Nurfatoni

Ahktivis FOSI (Forum Studi Islam) Surabaya

Khutbah Idul Adha di Wisma Sidojangung Indah, Gresik – Dzulhijjah 1425 / Januari 2005

Iklan

Puasa: Jangan Teror Umat Islam

SEORANG wanita sedang mencaci-maki pembantunya di bulan Ramadhan. Kabar ini didengar Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasulullah lalu menegurnya, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu”. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Riwayat di atas menarik untuk kita kaji, karena beberapa hal. Pertama, Islam yang di antaranya dipraktikkan lewat ibadah puasa, sangat menghormati terbangunnya hubungan sosial yang harmonis. Sekalipun hubungan itu adalah antara majikan dengan pembantu, yang pada realitas umumnya selalu didominasi oleh sang majikan (artinya majikan bisa sekehendak hati memperlakukan pembantu).

Dalam Islam, orang yang berpuasa bukan saja diukur dari parameter fisikal (tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri), melainkan juga dinilai dari perilaku sosialnya. Bahkan puasa menjadi semacam garansi bagi pelakunya untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan.

“Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela,” sabda Rasulullah SAW. Apa artinya? Ternyata Islam sangat berkepentingan untuk membangun masyarakat yang beradab.

Kedua, dengan prinsip seperti itu, tentu menjadi tanda tanya besar ketika muncul tuduhan dari pihak-pihak lain, bahwa Islam atau setidaknya kelompok umat Islam dikait-kaitkan dengan berbagai tindakan terror, menakut-nakuti, merusak, dan membunuh manusia tanpa landasan syar’i. Jangankan berbuat seperti itu, mencaci-maki pembantu saja sangat dibenci oleh Islam. Oleh karena itu sangat tidak beralasan jika (umat) Islam dijadikan hantu atas segala kejahatan terorisme, seperti yang kini sedang difitnahkan itu.

Ketiga, jika kita mau jujur, kenyataan yang justru terjadi adalah sebaliknya, sering kali orang Islam justru mendapat teror. Contoh paling sederhana adalah munculnya kebiasaan membunyikan petasan setiap kali bulan Ramadhan tiba. Tentu menyalakan petasan di saat puasa Ramadhan itu bukan bagian dari tradisi Islam.

Maka kita pantas bertanya, apa sebenarnya dibalik “budaya” petasan di bulan Ramadan? Sementara, pihak yang berwenang, meskipun secara normatif melarangnya, terlihat tidak bersungguh-sungguh dalam memberantasnya.

Contoh lain teror yang diterima umat Islam di saat bulan Ramadan adalah masih ngototnya para pelacur dan pengelola hiburan malam untuk buka di bulan Ramadan, meskipun pihak yang berwenang sudah mencoba meminimalisasi dengan beberapa aturan.

Contoh ini tidak dimaksudkan untuk berpikir salah bahwa di luar bulan Ramadan kemaksiatan diperbolehkan. Tidak adanya kemaksiatan di seluruh bulan adalah bagian dari keinginan kita bersama. Namun, tuntutan maksimal itu kelihatannya masih sulit dijalankan pemerintah, yang lebih mengedepankan pragmatisme ekonomi ketimbang penjagaan nilai-nilai.

Oleh karena itu tuntutan minimal adalah pudarnya kebiasaan jaga malam dan membunyikan petasan setiap kali bulan Ramadan tiba. Tentu menyalakan petasan di saat puasa Ramadhan itu bukan bagian dari tradisi Islam.

Maka, kita patut bertanya, mengapa kebiasaan itu justru muncul di saat umat Islam seharusnya membutuhkan ketenangan, kekhusukan, dan suasana kondusif dalam menjaga kesabaran. Jika mencaci-maki pembantu saja dilarang, lantas bagaimana dengan bunyi petasan yang meneror itu?

Namun tuntutan vang minimul ini pun masih ditentang oleh beberapa pihak yang mengaku dari berbagai LSM, dengan alasan-alasan pragmatisme tanpa bingkai nilai-nilai agama. Maka kita pun bertanya, bukankah ini teror bagi umat Islam.

Terakhir, jika umat Islam yang sudah dibiasakan ibadah puasa ini tidak melakukan teror, semestinya pihak-pihak lain juga tidak menteror umat Islam.

Mohammad Nurfatoni

(Dimuat di Surabaya News—kini Surabaya Post—tahun 2002)

Idul Fitri, Taqwa Sosial, Dakwah

Capaian utama dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah taqwa (al Baqarah/2:183). Taqwa—seperti kita pahami dari definisi yang diberikan para khatib Jum’at—adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Definisi taqwa seperti itu sangat logis, karena, diantaranya, didasarkan pada sabda Rasulullah SAW: “Kerjakanlah apa yang diwajibkan Allah atasmu, niscaya kamu menjadi orang yang amat bertaqwa kepada Allah.” (R. at-Thahawy). “Seorang hamba tidak akan mencapai golongan muttaqin, sehingga dapat meninggalkan apa-apa yang tidak berdosa karena kawatir masuk dalam apa-apa yang berdosa” (HR Tirmidzi).

Maka, (idealnya) Idul Fitri adalah deklarasi kita sebagai orang bertaqwa, yakni orang yang telah mampu menjalankan keseluruhan perintah Allah dan meninggalkan keseluruhan larangan Allah. Tetapi mari secara jujur kita bertanya pada hati nurani, benarkah pascapuasa Ramadhan kita telah mencapai derajat taqwa? Harapan kita, mudah-mudahan begitu. Tapi berhasilkah?

Mari kita ukur tingkat keberhasilan itu dengan indikator-indikator sederhana sebagai berikut: Allah memerintahkan kita menundukkan pandangan (an Nur/24: 30-31), menghindari kemaksiatan mata; berhasilkah kita menundukkan pandangan di tengah gemerlap “pameran” aurat dan kemaksiatan di hampir seluruh penjuru kota dan media massa? Allah memerintahkan kita mengkonsumsi makanan (barang) halal (al Baqarah/2:168; al Maidah/5:88; an Nahl/16:114); masih mampukah kita membersihkan makanan (barang) yang kita konsumsi dari pencemaran haram di tengah-tengah budaya praktik korupsi birokrasi (pemerintah dan swasta) kita? Allah memerintahkan kita melakukan hukum qisas (al Baqarah/2:178; al Maidah/5:45); betulkah perintah itu kita lakukan, bukankah sampai hari ini hukum itu kita cibir dan campakkan? Allah melarang kita mempraktekkan riba (al Baqarah/2:275; Ali lmran/3:130); berhasilkah kita lepas dari jeratan riba di tengah sistem perbankan yang ditopang oleh riba (bunga?).

Pertanyaan-pertanyaan di atas sesungguhnya untuk menunjukkan betapa tidak semua perintah Allah telah berhasil kita jalankan, sebaliknya tidak semua larangan Allah berhasil kita tinggalkan. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena pencapaian ketaqwaan individual mensyaratkan tercapainya ketaqwaan sosial. Dengan kata lain, kita bisa menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah jika sistem yang melingkupi kita cukup kondusif bagi usaha-usaha pencapaian taqwa itu.

Dalam konteks ini, pencapaian derajat taqwa akan sebanding dengan seberapa jauh pintu-pintu kebajikan terbuka lebar-lebar dan pintu-pintu kemaksiatan/kejahatan tertutup rapat-rapat.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya tercapai ketaqwaan individual jika perilaku-perilaku baik dan benar masih mendapat hambatan struktural. Bagaimana Muslim kebanyakan bisa naik haji jika haji masih dijadikan sebagai komoditas ekonomi yang mahal? Bagaimana Muslim kebanyakan bisa hidup sejahtera jika peluang untuk bekerja dan berusaha yang benar dihambat oleh sejumlah “kebijakan” penguasa yang hanya menguntungkan segelintir pemilik akses kekuasaan (konglomerat, kroni kekuasaan).

Sebaliknya juga; sulit sekali tercapai ketaqwaan individual jika kemaksiatan dan kejahatan (ekonomi, politik, humaniora, sosial, hukum) masih menghadang kita. Meskipun secara pribadi kita tidak berminat melakukan kemaksiatan dan kejahatan, tetapi jika sistem yang berlaku adalah sistem yang kondusif–bahkan menganjurkan–kemaksiatan dan kejahatan, maka kita pasti akan terkena imbasnya. lbaratnya dosa struktural yang dilakukan oleh sebuah sistem akan berimbas pada dosa individual.

Oleh karena itu pula, pencapaian derajat taqwa berbanding lurus dengan upaya dakwah kita. Janganlah kita terlalu optimis mencapai derajat taqwa pada Idul Fitri kali ini jika secara sadar belum melakukan apa-apa; sebelum kita mendobrak pintu-pintu kebaikan yang terkunci rapat dan menutup pintu-pintu kemaksiatan/kejahatan yang terbuka menganga. Kita jangan merasa mendapat derajat taqwa secara cuma-cuma dan otomatis.

Di sinilah perlunya kita secara bersama-sama melakukan dakwah menuju berlakunya sistem Islam. Sebab dengan berlakunya sistem Islam akan tercipta suasana kondusif bagi pencapaian derajat taqwa. Dengan sistem Islam umat Islam akan terkondisikan—secara sadar atau terpaksa—untuk mampu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tidak ada lagi kebijakan normatif yang menghambat umat Islam dalam mewujudkan kebaikan-kebaikan. Tidak ada lagi kebijakan normatif yang menjerat bagi umat Islam untuk berbuat keji dan munkar. Dengan sistem Islam, capaian-capaian taqwa relatif lebih mudah diraih. Meskipun tetap harap diingat bahwa berlakunya sIstem Islam tidak secara otomatis melahirkan ketaqwaan individual. Sebab ketaqwaan itu sebuah proses dan bersifat kualitatif, sulit diukur dan tak berujung.

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, pekan ke-4 Oktober 2006

Suci Saat Datang dan Pergi

Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya.

Kita datang dari Allah dalam keadaan suci, maka seharusnya kita kembali kepada-Nya dalam keadaan suci pula. Inilah pesan penting yang terserap dari Idul Fitri. Ied berarti kembali dan fitr berati kesucian atau asal usul.

Jadi sesungguhnya puasa Ramadhan yang baru saja kita lakukan, akan membawa kita kepada keadaan seperti saat kita dihantarkan oleh ibu kita ke dunia; saat lahir menjadi bayi yang bersih dan suci. Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan (ihtisab), maka dosa-dosanya masa lalu akan diampuni Allah.

Menarik, jika kita mengkaitkan dengan tradisi mudik yang biasa dilakukan masyarakat Muslim Indonesia saat datang Idul Fitri. Ternyata, mudik sebagai tradisi berkunjung ke kampung halaman, menjadi simbol kembali ke asal usul. Dengan berkunjung ke kampung halaman, setidaknya kita diingatkan akan dua hal; pertama, inilah wajah asli kita; mungkin ndeso banget atau malah miskin sekali. Kedua, di sanalah leluhur kita berada; maka mudik memberi ruang kasadaran kita akan asal usul, nenek moyang, dan kampung kita.

Dengan dua ingatan itu, sesungguhnya mudik adalah proses penyadaran kita akan mudik yang sesungguhnya, yaitu mudik menuju Allah SWT, seperti isyarat Allah, ”Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bersungguh-sungguh (untuk menemui-Ku), maka engkau akan menjumpai-Nya.Pertama, dengan puasa Ramadhan, kita telah dengan sungguh-sungguh untuk menyiapkan wajah asli kita, wajah bayi tanpa dosa. Kedua, dengan wajah asli itulah perjalanan kita kembali ke asal usul, yaitu Allah SWT di kampung akherat akan lancar.

Persoalannya, apakah puasa Ramadhan telah mampu mengantarkan kita untuk bersiap mudik ke kampung akherat? Doa kita, tentu saja, semoga begitu! Tapi, bisa juga tidak jika puasa kita setingkat puasa seperti yang disindir oleh Rasulullah SAW, ”Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

Selain itu, dalam perjalanan panjang pascaramadhan, kesucian kita belumlah terjamin; apalagi dalam sistem yang non-taqwa, dimana pintu kemaksiatan terbuka lebar dan pintu kebaikan tertutup rapat.

Maka tugas individual kita adalah selalu menjaga kesucian diri, diantaranya dengan, pertama, selalu beristiqfar dan bertaubat kepada Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tapi seringkali banyak kesalahan atau dosa yang tidak kita sadari. Sementara bertaubat itu meniscayakan penyesalan atas dosa-dosa yang kita lakukan. Maka dosa-dosa (kecil) yang tidak kita sadari semoga gugur dengan cara kedua, yaitu dengan memperbanyak amal shaleh.

Sahabat Salman Al Farisy pernah bersama Rasulullah SAW. Dalam perjalanan bersama itu, Rasulullah SAW tiba-tiba mengambil ranting sebuah pohon, lalu digerak-gerakkan ranting itu sehingga berguguranlah daun-daun keringnya. Kepada Salman Al Farisy, Rasullulah SAW memberi penjelasan bahwa apa yang dilakukan itu adalah simbol gugurnya dosa-dosa orang yang menyempurnakan wudhu dan shalat lima waktu.

Jika dari dua cara itu masih ada dosa atau kesalahan kita yang lolos juga, Allah SWT ternyata sangat luas kasih sayang-Nya pada kita. Ternyata, musibah, bencana, sakit, bahkan kesulitan mendapatkan nafkah yang halal, adalah cara Allah SWT untuk menghapuskan dosa-dosa kita.

Jika dengan itupun dosa kita masih ada, maka kematian kita adalah cara Allah untuk menghapus dosa kita. Masalahnya, apakah dua cara terakhir itu yang kita pilih, guna mensucikan diri agar bisa kembali suci seperti saat kita didatangkan Allah ke dunia ini?

Menganti, 2 Nopember 2006

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, pekan ke-1 Nopember 2006

Jujur dengan Puasa

SALAH satu keunggulan ibadah puasa adalah sifat kerahasiaannya. Berbeda dengan ibadah mahdhah lainnya, ibadah shalat, zakat, atau haji——di samping bisa dilihat orang lain secara kasat mata, juga membutuhkan keterlibatan pihak lain. Shalat (fardhu) misalnya, justru lebih utama dilakukan secara berjamaah dibanding dikerjakan sendirian. Dalam zakat, dikenal ada wajib zakat (muzakki) dan yang berhak menerima zakat (mustahi’); yang keduanya dihubungkan dengan amil zakat. Dalam hubungan itu jelas terjadi interaksi dan saling membutuhkan. Demikian juga haji, yang dikenal sebagai “kongres” umat Islam sedunia. Sedangkan puasa!

Memang, secara penampilan lahiriah, seseorang bisa tampak lemah dan tak bertenaga sebagai kelaziman seorang yang berpuasa di siang hari. Namun, penampilan fisik itu belum menjadi jaminan seseorang sedang berpuasa atau tidak. Ibadah puasa tidak mungkin disertai orang lain dan juga tidak mungkin diketahui orang lain. Bisa saja di hadapan orang lain seseorang seperti berpuasa, tetapi kita tidak tahu bagaimana saat ia sedang sendirian? Padahal, antara puasa sejati dan puasa palsu hanya dibedakan oleh seteguk minum atau sesuap makanan. Dan itu bisa dicuri minum atau dicuri makan saat sendirian.

Oleh karena itulah puasa bersifai sangat rahasia, bahkan rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Setiap perbuatan anak Adam (manusia) satu kebajikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya…” Dengan sifatnya yang rahasia itu, puasa mendidik pelakunya untuk bersikap jujur.

Mengapa puasa sejati tetap kita pertahankan, meskipun di saat sendirian kita bisa membatalkannya dengan “mencuri” minum, tanpa sepengetahuan orang lain? Jawabnya adalah karena Allah selalu hadir dan mengawasi segala gerak-gerik kita, di manapun dan di saat apapun. Jadi, kita tetap mempertahankan puasa itu meskipun dalam keadaan lapar dan dahaga yang sangat, karena kita sadar betul akan pengawasan Allah.

Itulah yang dimaksud dengan ilmu “menghadirkan” Tuhan. Yang dimaksud ilmu “menghadirkan” Tuhan adalah kesadaran selalu dalam pengawasan Tuhan. Kita “hadirkan” Tuhan dalam hidup kita (omnipresent). Seperti yang selama ini kita pahami, bahwa dengan segala kekuasaan-Nya, Allah SWT Maha Melihat atas segala tindak-tanduk kita, baik yang tersembunyi maupun terang-terangan. Di mana pun kita berada, Dia pasti tahu. Apapun yang kita lakukan Dia Mengetahui.

Itulah komitmen seorang pelaku “jalan lapar” yang benar-benar menghayati firman Allah dalam Surat Al Hadid/57: 4 Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan dia bersama kamu di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Periksa atas segala apa yang kamu lakukan.

Orang yang berpuasa sejati sadar betul bahwa Allah Maha Hadir. Dalam kesadaran itu, dia tidak butuh pengawasan lain kecuali Allah. Ada tidaknya orang lain, tidak mempengaruhi kadar puasanya. Tidak lebih bersemangat ketika puasanya diketahui orang lain atau tidak mengendur saat orang lain tidak mempedulikan puasanya. Itulah kejujuran yang murni. Jujur di hadapan Tuhan.

Keadaan yang selalu dalam pegawasan Allah seperti yang diperagakan oleh orang yeng berpuasa sejati itu menjadi modal penting bagi kita untuk bersikap jujur dalam segala hal; di tengah-tengah merebaknya kepalsuan dan kebohongan pada masyarakat dan pemimpin kita.

Selama ini posisi selalu dalam pengawasan Tuhan hanya kita sadari saat berada di masjid atau di majelis pengajian. Pada tempat-tempat sakral itu, biasanya kita selalu berpenampilan terpuji (baik fisik maupun perilaku), karena kita sadar betul bahwa saat itu kita sedang diawasi oleh Tuhan. Makanya kita selalu mendapati kebaikan dari orang-orang yang baik-baik pula.

Namun biasanya kesadaran dalam pengawasan Tuhan itu hilang saat kita berada pada tempat-tempat profan. Ketika di pasar, misalnya, kita sudah lupa bahwa Tuhan sedang mengawasi kita, sehingga dengan berani kita mengurangi timbangan atau takaran.

Betapa sejahteranya masyarakat ini, jika kejujuran menjadi naungannya. Sebab dalam payung sistem yang jujur itu, sudah barang tentu tidak akan ada kejahatan korupsi. Para pejabat dalam jajaran birokrasinya (baik pemerintah maupun swasta) tidak akan berani memanipulasi angka dalam anggaran untuk mengeruk uang haram. Karena, meskipun mereka memiliki siasat canggih untuk berkelit sehingga kejahatannya tidak akan terdeteksi. Ada tidaknya orang lain, tidak akan mempengarahi kejujurannya dalam mengelola amanah uang perusahaan, uang rakyat, atau uang negara. Mereka sadar betul bahwa Allah Maha Hadir dan mengawasi perbuatannya.

Betapa damainya masyarakat kita jika bersendikan kejujuran. Sebab dengan sendi itu tidak akan ada segala jenis perselingkuhan dan perzinaan. Para suami (atau istri) tidak akan berani berselingkuh, karena mereka sangat sadar Allah SWT akan “memelototinya”. Betapa malunya berbuat nista di hadapan Tuhan! Para remaja tidak akan berani melakukan seks pra nikah, karena meskipun orang tua, guru, atau temannya tidak mengetahuinya, tetapi ada Allah Yang Maha Tahu. “Malu kan ‘diintip’ Tuhan!”

Harapan kita, semoga puasa yang kita jalankan ini benar-benar mampu membangun kesadaran akan ke-Maha Hadir-an Allah SWT?

Dengan kemampuan “menghadirkan” Tuhan, insya Allah kita akan terjaga dari perbuatan-perbuatan tercela dan sebaliknya termotivasi untuk selalu berbuat kebajikan. Kita akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, karena kita sadar sedang dilihat Tuhan. Betapa senangnya saat bekerja diawasi oleh Allah swt, Tuhan pemilik jagad raya ini; sementara dilihat presiden saja hati kita sudah berbunga-bunga!

Menganti, 4 Ramadhan 1427

Mohammad Nurfatoni

(Dimuat di Surabaya News—kini Surabaya Post—tahun 2002)